"Eh, Tuan Dirga. Lagi belanja apa?" Kiana menoleh ke sumber suara, ternyata Dirga--anak kedua majikannya--yang menyapa.
"Beli keperluan mandi, kamu beli rujak sampai dua pack udah seperti orang nyidam saja." Dirga terkekeh melihat Kiana bengong dengan ucapan Dirga.
"Memang kalau makan rujak hanya orang yang ngidam saja, Tuan?"
"Ya enggak juga sih, hanya biasanya 'kan begitu."
"Tuan bisa aja."
Dirga malah menemani Kiana belanja supaya mereka bisa pulang bareng. Bungsu dari dua bersaudara itu tidak tega meninggalkan Kiana sendiri apalagi wanita yang usianya sepantaran dirinya terlihat pucat.
"Ki, kamu nggak lagi sakit' kan?" tanya Dirga saat mereka jalan ke parkiran.
"Enggak Tuan, memang kenapa?"
"Wajah kamu pucat gitu, takutnya kamu sakit, tapi kamu tahan. Atau kita ke dokter dulu?"
"Nggak usah Tuan, saya baik-baik saja, istirahat sebentar nanti juga udah baikan lagi, paling cuma kecapean aja," tolak Kiana jangan sampai Dirga tahu kalau memang dirinya benar-benar sedang hamil.
"Janga diforsir juga Ki, kalau memang nggak enak badan bilang mami, minta waktu buat istirahat," saran Dirga masih fokus dengan kemudinya.
"Iya Tuan, saya bisa atur kok, kalau memang butuh istirahat pasti bilang nyonya."
Perjalanan keduanya ditemani suara musik yang sengaja diputar Dirga. Senyum tipis terlihat di wajah Kiana juga terdengar senandung lirih dari bibirnya mengikuti suara 7 bujang Korea yang melantunkan lagu Telephaty.
"Dasar army garis keras." Dirga terkekeh melihat tingkah wanita di sampingnya.
"Intermezo Tuan, biar nggak terlalu ster menghadapi kerasnya hidup," jawab Kiana masih asyik menikmati suara merdu BTS.
"Seru sih mengikuti kisah perjalanan karier mereka dari awal debut sampai sekarang," ucap Dirga.
"Tuan army juga?" tanya Kiana dengan wajah berbinar.
"Jujurly mereka memotivasi saya ketika sempat dwon waktu awal-awal masuk dunia modeling. Gimana harus latihan setiap hari, cara jalan saja harus benar-benar prefec kalau di atas catwalk. Dan saat melihat mereka, ternyata nggak hanya saya saja, yang harus berjuang mempersiapkan diri untuk bisa sukses dan bertahan lama di dunia entertaiment. Semua ada masanya, tapi mereka bisa membuktikan kalau masih eksis sampai 10 tahun, mungkin masih akan bertahan sepuluh tahun kedepan karena mereka punya fandom yang militan," tutur Dirga.
"Tuan keren, saya seneng bisa ngobrol hal yang sama-sama kita suka."
Kiana tidak menyangkan kalau bungsu majikannya ternyata sesama army, karena selama ini Dirga hampir nggak pernah memutar lagu-lagu BTS, malah lebih sering memutar lagu Jawa koplo. Kiana tersenyum geli kalau mengingat hal itu.
"Ngapain senyum-senyum?" Dirga melirik Kiana yang menutup mulutnya menahan senyum.
"Tuan lucu, di rumah muter lagunya Cak Nan sama Guyonwaton, ternyata army juga." Kiana akhirnya tergelak, sudah tidak bisa menahan tawanya.
"Orang Jawa tetap harus mencintai produk lokal dong Ki." Dirga melakukan pembelaan.
Obrolan mereka terus berlangsung seru, sampai tak terasa sudah memasuki gerbang komplek perumahan dan saat mobil Dirga melintas di depan apotik, Kiana meminta berhenti sebentar.
"Mbak minta test pack semua merk yang ada masing-masing satu ya," pinta Kiana saat sudah berhadapan dengan petugas apotik.
"Baik, mohon tunggu sebentar ya Mbak."
Sambil menunggu, Kiana mengambil jus jambu merah dari lemari pendingin. Hampir setengah isi botol berpindah ke perut Kiana, terasa segar akhirnya diambilnya tiga botol lagi jus jambu. Setelah menyelesaikan pembayaran, Kiana gegas kembali ke mobil, nggak enak rasanya membuat Dirga menunggu teralalu lama.
"Tuan mau jus jambu?" tawar Kiana begitu duduk sempurna di samping lelaki berwajah mirip Kim Taehyung itu.
"Boleh, haus juga ini." Dirga mengambil sebotol jus jambu dingin, dan langsung meminumnya. Saat meletakan botol jus, tak sengaja ekor mata Dirga melihat tulisan merk alat tes kehamilan di kantong palstik yang dibawa Kiana.
"Siapa yang hamil? Apa Kiana?" Dirga bertanya-tanya dalam hati sambil mulai menjalankan mobilnya untuk kembali ke rumah.
Dirga masih sesekali memperhatikan wanita di sampingnya, rasanya tidak percaya kalau Kiana hamil, selain belum menikah rasanya tidak mungkin kalau Kiana akan melakukan hal tidak terpuji, mengingat wanita tersebut setahunya selalu menjalankan ibadah 5 waktunya tepat waktu, dan begitu menjaga marwahnya tentu dengan batasan toleransi. Seperti sekarang, keadaan mengharuskan semobil dengan dirinya, karena mereka punya tujuan yang sama dan nggak lucu kalau Kiana harus pulang naik kendaraan umum.
"Ada apa Tuan?" Kiana merasa kalau lelaki di sebelahnya beberapa kali memperhatikan dirinya.
"Nggak ada, kamu tadi jadi beli rujaknya?" Alibi Dirga yang ketahuan memperhatikan Kiana.
"Jadi, Tuan mau?"
"Boleh kalau kamu belinya lebih, nanti saya ganti."
"Beli lima, nggak usah diganti. Tuan 'kan sering bantu saya kalau pas saya butuh bantuan."
"Ya sudah, makasih ya."
"Sama-sama."
Mobil Dirga sudah terparkir sempurna di garasi rumah, Kiana menurunkan barang belanjaan dan sigap Dirga membantu. Kiana sudah menolaknya, tapi anak majikannya itu memaksa. Dirga ngeri kalau Kiana benar hamil dan harus mengangkat berat-berat kasihan kandungannya.
"Terima kasih Tuan," ucap Kiana saat Dirga meletakan belanjaanya di meja dapur.
"Sama-sama, kamu istirahat saja dulu kalau memang nggam enak badan dan nggak ada kerjaan yang urgent," saran Dirga menerima rujak dan sebotol jus jambu dari Kiana.
"Iya Tuan, nanti saja. Ini mau bikin kue lumpur sama pesmol patin. Kata nyonya nanti malam mau ada tamu istimewa." Kiana mulai menyiapakan bahan-bahan yang diperlukan.
"Ya sudah, tapi tetap jaga kondisi kamu ya. Saya ke kamar dulu, makasih rujak sama jusnya."
"Sama-sama Tuan."
Kiana sudah sibuk membuat pesanan Wika setelah menganti baju dan beristirahat sejanak. Yang pertama dibuat adalah pesmol ikan patin. Bau amis juga bumbu yang menggunakan berbagai rempah membuat Kiana mual lagi. Beberapa kali keluar masu kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya, sampai akhirnya Kiana melanjutkan masakannya menggunakan masker supaya tidak terlalu tercium aroma-aroma yang memancing rasa mualnya.
Dua jam Kiana berkutat dengan bahan masakan, tinggal membuat kue lumpur saja, bisa dikerjakan nanti setelah solat magrib supaya masih hangat saat disajikan. Gegas Kiana membersihkan diri setelah urusannya di dapur selesai.
"Kalau menurut petunjuk sebaiknya digunakan saat pagi hari setelah bangun tidur." Kiana memegang test pack dan membaca cara penggunaannya. Lalu mengambil ponsel dan mencari tahu penggunaan alat tes kehamilan apa bisa digunakan selain pagi hari?
"Ah, coba saja lah, nggak ada salahnya. Kalau memang hamil pasti muncul garis dua, kalau tidak ya garisnya cuma satu." Kiana menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan test pack saat ini juga tanpa harus menunggu besok.
Dalam kamar mandi Kiana memperhatikan alat kehamilan yang ada di tangannya, setelah dimasukan dalam air seninya yang sudah ditampung dalam cawan kecil. Mata Kiana terpejam sambil menunggu beberapa saat.
"Huuh, hasilnya apa ya?" ucap Kiana mengintip sedikit ke arah tangannya.
"Ki... Kia!" Terdengar teriakan memanggil namanya, membuat Kiana gegas keluar dari kamar mandi.
Bersambung.