TINGGAL SELANGKAH LAGI

1071 Words
"Anaknya yang akan melanjutkan ritual.” “Itu ada banyak.” “Salah satu mewakili,” balas Iwan mantap. “Para istri mereka gimana?” “Mereka udah pada niat. Gak masalah. Jawaban Iwan ditanggapi oleh Tara dengan ekspresi terkejut. Baru dia tahu bahwa ada keluarga se-edan itu. Pria tersebut tersenyum saat sadar diri telah jadi bagian mereka, meski masih tahap pemula. “Aa Tara!” panggil Esih dari dalam kamar. Lamunan Tara seketika buyar. Dia segera bangkit lalu keluar dari toilet. Tara dengan langkah kaki buru-buru menuju kamar. Tampak Esih duduk bersandar ditembok dengan berselimut sampai ke d**a. “Udah bangun dari tadi, Neng?” tanya Tara sambil mendekat ke arah istrinya. “Aa’ badanku loyo banget. Ini kenapa muka Neng jadi licin gini, ya?” Esih dengan ekspresi keheranan mengusap wajahnya yang berlendir hijau dengan kedua tangan. Dia menurunkan kedua telapak tangan dan seketika terkejut dengan penampakannya. Tara tersenyum tipis lalu memeluk istrinya. “Neng, maafin Aa’! Demi bikin bahagia, Aa’ lakuin ini.” “Aa’lakuin apa?” “Aa’ikut terapi hormon buat keperkasaan. Efeknya ke Neng gini. Buat mandi saja. Aa’ udah siapin ramuan khusus buat obat. Aa’ gendong,” ucap Tara yang segera membopong tubuh Esih lalu membawa ke toilet. Tara menurunkan tubuh Esih pelan-pelan lalu mengecup kening istrinya. Dia merasa lega karena Esih sudah tak kesakitan lagi. “Aa’ jadi mengerikan. Bisa ganas kitu, nyak. Badan Neng dibikin loyo macam balon tak ada angin,” balas Esih sambil memeluk Tara mesra. Tara yang mendapat pelukan erat si istri menjadi dilema. Beruntung Esih tak menyadari perubahan ekspresi suaminya. Tara pelan-pelan melepas pelukan istrinya. Pada saat Esih melepas selimut, pria tersebut buru-buru keluar. Entah mengapa, dirinya menjadi jijik melihat tubuh istrinya. Apalagi, tubuh tersebut diselimuti lendir hijau berbau bangkai. “Neng, berendam sejam. Guyur seluruh tubuh dengan air. Setelah sejam, bilas dengan air bersih. Baru sabuni semuanya dan jangan lupa keramas.” Tara kasih aba-aba di ambang pintu. Giliran hendak beranjak pergi, Esih memanggilnya. “Aa’ bade kamana?” tanya Esih manja sambil menatap ke arah Tara. Sedangkan si suami berusaha keras untuk tak memandang tubuh polos Esih. Tara berusaha menata hati dan pikiran lalu bersuara. “Mau ke depan. Tunggu kurir yang antar makanan. Aa’ barusan pesan makanan online. Kamu mandi sampe bersih, Aa’ ke depan. Pasti lapar, kan?” “Lapar pake banget, Aa’.” Tara pun menutup pintu kamar mandi lalu beranjak ke arah depan. Dia tak benar-benar memesan makanan online. Pria ini hanya memandangi layar ponsel dengan hati kacau. Dia tak mampu menahan rasa sesak yang sedari tadi sudah bergemuruh dalam d**a. Tetes air mata pun meleleh ke kedua pipi. Tara mengunci pintu dari luar lalu berjalan menuju tempat motornya terparkir. Dia mengusap buliran bening yang sempat menetes. Sebelum mengendarai sepeda motor, Tara menyempatkan mengirim pesan ke Esih. [Neng, Abang pergi ke warung di perempatan jalan. Kurirnya kelamaan respon.] Setelah pesan terkirim, Tara segera melajukan kendaraan roda dua ke arah jalan. Sepanjang perjalanan, Tara merenung. Dia harus segera bisa membiasakan diri menerima keadaan Esih. Istrinya tak tahu menahu soal pesugihan, bahkan tubuhnya telah dijadikan pemuas nafsu penguasa Gunung Ceremai. Itu pun atas inisiatif dirinya sendiri. Esih tak bersalah, batin Tara. Kenapa pula aku jijik padanya? Bagaimana cara aku menjalani masa 39 hari ke depan? Semakin kacau pikiran Tara. Pria tersebut mengendarai motor sampai ujung desa. Dia seperti orang linglung, mengendarai motor tanpa tujuan. Sementara itu, ponsel di saku berbunyi tak henti-henti tak dihiraukan oleh Tara. “Tara!” teriak Iwan dari seberang jalan. Pria yang sedang bingung tersebut menoleh ke kanan. Dia tersenyum tipis. Iwan meninggalkan motor bergerobaknya. Rencana akan pergi keliling jualan cilok terpaksa ditangguhkannya. Dia hanya bisa menduga, temannya tersebut sedang perang batin. Iwan segera menyeberang jalan untuk menghampiri Tara. “Naha?” tanya Iwan sambil menepuk pundak pria yang sedang duduk di jok motor. “Entahlah! Aku bingung,” jawab singkat Tara dengan pandangan hampa. Iwan tersenyum lalu berdiri tepa di depan temannya yang lagi bengong tersebut. Kedua tangan memegang bahu Tara. “Yang kuat biar bisa cepat kaya. Tinggal selangkah lagi.” Iwan berusaha memberi semangat sahabat karibnya. Tara memandang ke arah Iwan dengan sorot mata kuyu. Kemudian, pemilik toko bahan bangunan ini menundukkan kepala. “Kamu sudah niatkan ini. Aku sudah kasih tahu, gak boleh ragu,” ulas Iwan sambil melepas pegangan kedua tangan dari bahu Tara. Penjual cilok yang kini sudah mempunyai puluhan anak buah ini bersedekap lalu menatap Tara lekat-lekat. Tara segera menyadari perubahan ekspresi wajah Iwan. “Aku enggak menyesal. Memang sudah nekat. Apalagi, sudah bosen dikejar-kejar dep colector. Agak berat juga di d**a, nyesek gini,” keluh Tara kepada Iwan. “Gak usah dipikir terlalu dalam. Lama-lama juga terbiasa. Buruan pulang! Udah jam 8. Sebelum matahari tinggi, siram depan ruko dengan air rendaman tanah punden. Perlu aku antar?” tanya Iwan dengan rasa khawatir. Tara yang mulai stabil hatinya segera menggelengkan kepala. “Gak perlu, Esih bisa curiga. Terima kasih. Aku pulang dulu,” kata Tara lalu mulai menghidupkan mesin motor. “Hati-hati!” Tara mengancungkan jempol tangan lalu memutar arah motor menuju rumah. Tara merasa ada sesuatu yang dilupakan sepanjang perjalanan pulang. Namun, dia tak berhasil mengingatnya sampai tiba depan rumah. “Aa’ dari mana?” tanya Esih yang sudah siap untuk membuka ruko. Tara segera menoleh ke arah istrinya lalu tersenyum. Sekarang dia ingat sesuatu. “Neng, maaf, Aa’ barusan ka warung cari makan, masih pada tutup,” jawab Tara dan dia memuji ketangkasan otaknya buat alibi. Esih yang tampak lebih segar, segera mendekat sembari tersipu geli. “Terang saja masih pada tutup. Ini teh, jam sabaraha, Aa’?” tanya Esih dengan sedikit meninggikan suara. Tara pun segera melihat jam di pergelangan lengan kiri. Dia pun pura-pura terkejut untuk melanjutkan aksi dramanya. Seketika pria muda ini teringat dengan pesan Iwan barusan. Dia segera meluruskan standar motor lalu mencabut kuncinya. “Oh, ya. Aa’ gak ingat jam. Kirain udah pagi. Neng sih, gara-garanya,” ucap Tara sembari mencium pipi istrinya. Terang saja, Esih dibuat salah tingkah oleh perilaku Tara yang di luar dugaan tersebut. Kedua pipi semburat merah dan Esih tersipu malu. “Aa’! Malu, ih,” sahut Esih seraya menatap Tara. Namun, Tara tak bisa lama-lama menggoda istrinya karena ada sebuah kewajiban yang harus dilakukannya segera. Dia bergegas turun dari motor dan pada saat akan melangkah pergi, lengannya ditarik oleh Esih. “Bade kamana?” “Aa’ mau lakuin sesuatu agar usaha kita bisa maju,” jawab Tara sambil mengusap rambut Esih lembut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD