"Apakah Anda menilai perbedaan lewat sorot mata? Tentu saja tidak bukan? Seperti yang pernah Anda katakan, saya sebelumnya tidak pernah mengangkat wajah di depan Anda. Jadi bagaimana Anda bisa tahu sorot mata saya sebelum ini?" Esih kembali menatap Hendrik. "Sikapmu sangat berubah," balas Hendrik terkesan lembut. Esih tersenyum dengan perubahan ekspresi wajah Hendrik. Wanita ini jelas melihat ada salah tingkah yang buru-buru ditutupi oleh pria di hadapannya. Hendrik sudah mulai menikmati makan malam dengan sesekali curi-curi pandang ke arah Esih. Wanita tersebut tentu saja mengetahuinya. Aku ingin tahu, apa kau mampu menolak pesonaku? Batin Esih. "Besok pagi ikut aku ke rumah sakit," ucap Hendrik kembali ke setelan pabrik. Dingin dan angkuh. Esih langsung kaget mendengar ajakan dari H

