Fanya tiba di rumah utama. Fanya pun masuk dan duduk sambil membaca majalah. Tak lama Mayang pun datang dan duduk disamping Fanya.
"Ada apa kamu datang kesini saat kami bahkan tidak menyuruh mu datang?" Tanya Mayang santai.
"Aku ada permintaan untukmu ibu mertua." Ujar Fanya tanpa melihat Mayang dan terus membalikkan halaman majalah.
"Dhafin tidak pernah melakukan kesalahan apapun jadi kamu tidak bisa menempuh jalur hukum. Kamu tidak akan bisa menceraikan Dhafin. Jangan buang-buang tenagamu dan menyerahlah saja." Ujar Mayang pada Fanya yang masih belum menatapnya.
"Kalau begitu aku akan berbicara dengan ayah mertua saja." Ujar Fanya masih sambil membalikkan halaman majalah yang dibacanya.
"Dia pun juga tidak akan mendengarkan mu. Kamu hanya akan membuat Dhafin semakin menderita." Ujar Mayang.
"Kedengarannya seperti ibu mertua begitu peduli pada Dhafin." Ujar Fanya yang langsung dilirik tak suka oleh Mayang dan Fanya pun membalas dengan lirikan sinisnya.
"Jaga bicaramu." Ujar Mayang sambil melihat Nadia datang dengan teh yang sudah disiapkannya tadi.
"Jujurlah ibu mertua. Kamu tidak ingin kami bercerai?" Tanya Fanya acuh tak acuh.
"Kau pikir aku menginginkan nya? Kenapa? Karena kau datang dari keluarga yang lebih kaya dari dia?" Tanya Mayang sambil menunjuk kearah Nadia disamping nya.
"Ibu mertua ternyata lebih naif dari ayah mertua." Ujar Fanya sambil tertawa.
"Jika kau melakukannya untukku, itu tidak perlu. Tetaplah menikah." Ujar Mayang.
"Ayo kita buat makan malam." Ujar Mayang pada Nadia sambil berdiri dari duduknya.
"Kamu senang ayah mertua marah padaku karena meminta cerai, tapi kamu tidak ingin aku bercerai bukan?" Tanya Fanya dengan suara sedikit keras.
"Kamu takut seseorang seperti Nadia akan menggantikan posisiku bukan?" Tambah Fanya.
Yah, Nadia termasuk menantu idaman yang pandai mengambil hati Bagas. Nadia yang bekerja sebagai Ketua Designer Starlight pun melakukan pekerjaan nya dengan baik di perusahaan dan menantu yang sopan dan ramah di rumah yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan baik juga.
Sangat berbeda dengan Fanya yang tidak peduli dengan perusahaan dan pekerjaan rumah. Bahkan Fanya sering kali bersikap tidak sopan pada Bagas dan Mayang.
"Kenapa aku harus takut? Malah aku akan senang." Jawab Mayang santai.
"Karena itu berpengaruh buruk pada ibu mertua dan Farrel untuk mendapatkan posisi Pimpinan perusahaan selanjutnya. Jika bukan seperti itu maka tolonglah aku bercerai dengan Dhafin." Ujar Fanya sinis yang membuat Mayang kembali duduk.
"Aku mengkhawatirkan semuanya." Ujar Mayang.
"Jangan buang-buang waktu mu dengan mengkhawatirkan hal yang tidak perlu dan tolong lah saya." Ujar Fanya sambil melirik ke Mayang.
"Apa gunanya membantumu? Kamu akan kembali lagi dalam setahun." Ujar Mayang sedikit meninggi kan suaranya.
"Saat keluarga menentang perceraian membuat mu semakin menginginkan nya, bukan? Jika tidak melakukannya, kamu merasa begitu depresi bukan? Tapi kamu pasti akan meminta Dhafin kembali padamu setelah kalian bercerai." Tambah Mayang masih dengan suara yang tinggi.
"Apa ibu pikir ibu sangat mengenalku?" Tanya Fanya tak suka dengan perkataan Mayang.
"Tidak peduli apakah 6 bulan atau setahun, itu hanya masalah waktu." Ujar Mayang dengan nada masih tinggi.
"Kalau begitu buat dia menikah lagi sehingga aku tidak bisa kembali." Ujar Fanya pun meninggikan suaranya.
"Bahkan jika dia sudah menikah lagi, kamu tetap akan kembali." Ujar Mayang.
"Bagaiman bisa kembali jika sudah tidak ada tempat untuk kembali?" Tanya Fanya sinis dengan nada tinggi.
"Bagaimana pun juga kamu akan tetap kembali. Kamu akan melakukan apapun untuk bisa membuat Dhafin kembali padamu." Teriak Mayang yang membuat Fanya tersenyum sinis.
"Apa ibu berteriak padaku?" Tanya Fanya sinis.
"Iya. Kenapa aku tidak boleh memarahi menantuku?" Ujar Mayang sinis yang membuat Fanya tertawa mengejek.
"Wahh, ini adalah hal yang baru. Aku tidak percaya ibu mertua terbawa emosi dan marah." Ujar Fanya sambil tertawa.
"Kamu sedikit gila. Kamu tidak hidup sehari saja tanpa menyiksa orang lain." Ujar Mayang.
"Gila ya, huh?" Ujar Fanya tak peduli.
"Dhafin sangat tidak beruntung. Dia akan terus bersama dengan orang sepertimu dan menderita seumur hidupnya." Ujar Mayang sinis.
"Ayah mertua bercerai dan sangat membenci mantan istri yang menghianati nya, tapi tetap belum menikahimu secara sah. Ibu mertua tahu kenapa? Itu karena ayah mertua tidak bisa mempercayai mu." Ujar Fanya sinis.
"Seorang ibu yang penyayang tiba-tiba saja pergi meninggalkan putra nya sendirian, dan ibu mertua memberitahunya bahwa dia diusir karena berselingkuh? Untuk apa melakukan itu?" Tanya Fanya dengan suara tinggi.
"Dia juga menceritakan semua hal itu padamu?" Tanya balik Mayang santai.
"Tentu saja. Bukankan itu yang dilakukan oleh pasangan suami istri yaitu menceritakan masa lalu yang menyakitkan dan saling menghibur satu sama lain? Itulah sebabnya ayah dan ibu mertua tidak akan pernah bisa seperti pasangan suami istri lainnya. Tidak peduli seberapa besar usahamu untuk berperilaku seperti istri dirumah ini. Akan selalu ada tembok besar diantara kalian berdua. Meskipun kalian berdua sama-sama tidak mengakuinya." Ujar Fanya santai sambil kembali membalikkan halaman majalah nya.
"Kau benar-benar sudah sangat keterlaluan." Teriak Mayang kuat sambil berdiri dan menatap marah Fanya.
"Itulah sebabnya biarkan kami bercerai." Teriak Fanya tak kalah kuat sambil ikut berdiri dan membalas pandangan Mayang dengan marah dan sinis. Mayang dan Fanya pun saling beradu pandangan sinis seakan tidak ada yang mau kalah.
Nadia pun menceritakan pada Farrel kejadian tadi siang.
"Aku tidak pernah melihat ibu mertua berteriak seperti itu. Ibu mertua sangat jarang meninggikan suaranya." Cerita Nadia bersemangat pada Farrel.
"Ibu bahkan berteriak?" Tanya Farrel terkejut pada Nadia karena ibunya jarang sekali marah.
"Ibu kandung Dhafin bercerai karena berselingkuh." Ujar Nadia.
"Apa itu begitu menarik?" Tanya Farrel.
"Aku merasa kasihan pada Kak Dhafin. Dia pasti kesal dengan istrinya yang kaya dan sombong, tapi bisa dibilang Kak Dhafin bukan apa-apa tanpa istrinya." Ujar Nadia lagi.
Saat ini Dhafin sedang duduk sendirian di ruang tengah rumahnya, menikmati alkohol sambil mengingat apa yang dikatakan Mayang padanya 20 tahun lalu.
FLASHBACK 20 TAHUN LALU
Dhafin yang masih berusia 12 tahun duduk di kursi halaman rumahnya menunggu ibunya yang tak kunjung pulang. Mayang pun datang kerumah utama dan menghampiri Dhafin yang sedang duduk sendirian.
"Ibumu berselingkuh dan dia pergi meninggalkan mu. Kamu tahu apa artinya selingkuh? Itu artinya dia mencintai pria lain dibelakang ayahmu. Jadi wajar saja jika ayahmu membencimu." Ujar Mayang pada anak polos yang tidak tahu apa-apa.
"Lalu apa yang harus kulakukan mulai sekarang? Aku tidak punya ibu." Tanya Dhafin kecil sambil menangis.
"Lakukan saja seperti yang kukatakan." Jawab Mayang.
FLASHBACK OFF
Dhafin yang sedang mengingat masa lalu menyakitkan itu kembali tersadar oleh Fanya yang baru saja pulang.
"Ini adalah hadiah ulang tahun pernikahan yang aku terima. Kamu bisa menyimpan nya. Aku tidak menginginkan nya." Ujar Fanya sambil menyerahkan kotak perhiasan dan berbalik hendak masuk ke kamarnya.
"Seperti yang kamu bilang, aku mungkin tidak pernah mencintaimu. Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan ketika aku mencintai seseorang. Aku tidak pernah dicintai, dan tidak pernah diajarkan cara mencintai. Aku tidak punya siapapun kecuali kamu." Ujar Dhafin tulus pada Fanya yang berdiri di depan pintu kamarnya sambil berkaca-kaca dengan perkataan tulus Dhafin.
Dhafin yang kehilangan ibunya sejak kecil tidak tahu bagaimana carannya mencintai, dan Fanya pun bukan tipe wanita sabar yang bisa memahami sang suami.
Mereka bahkan tidur di kamar terpisah dan hidup bagai dua orang asing selama bertahun-tahun.
"Kamu masih tidak mengerti? Apa kamu tidak tahu apa yang kuinginkan sesungguhnya? Dan apa yang paling kubenci? Adalah mengulangi apa yang sudah kukatakan berulang kali." Tanya Fanya dengan nada tinggi.
"Bagaimana dengan kamu? Apa bedanya kamu dengan ayahku? Kamu juga tidak bisa terima ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan mu. Terjebak ditengah-tengah kalian sungguh membuatku gila." Jawab Dhafin sedikit meninggi kan suaranya.
"Aku minta maaf tapi itu masalah mu." Ujar Fanya acuh tak acuh sambil berjalan memasuki kamarnya meninggalkan Dhafin yang terlihat tertekan.