Perjodohan

1198 Words
Yanti sedang berdiri di depan Restoran tempat Mayang sedang menunggu nya saat ini. Yanti pun masuk ke restoran dengan raut wajah bingung dengan apa yang akan Mayang bicarakan dengannya. "Putra bungsu anda?" Tanya Yanti yang terlihat terkejut. "Kenapa? Apa aku berbuat salah?" Tanya Mayang pada Yanti yang terlihat terkejut. "Tidak, bukan begitu Nyonya. Saya hanya terkejut." Jawab Yanti pada Mayang. "Bukankah takdir biasanya tidak terduga seperti ini?" Tanya Mayang sambil tersenyum. "Nyonya meminta saya untuk menjadi besan dengan Nyonya?" Tanya Yanti terbata-bata karena masih terkejut. Mayang pun mengiyakan nya yang membuat Yanti bingung dan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Semua orang pikir putra keduaku, Farrel dan ketigaku, Gilang adalah anak kandung ku. Tapi sebenarnya putra ketiga kami, Gilang punya ibu kandung yang lain." Kata Mayang menjelaskan. "Apa? Kalau begitu.. CEO Dhafin adalah?" Tanya Yanti ragu. "Dhafin adalah putra dari istri pertama Chairman Bagas. Mereka sudah bercerai dan tidak pernah berhubungan lagi." Kata Mayang. "Ahh saya mengerti. Jadi ketiga putra Chairman Bagas memiliki 3 ibu yang berbeda?" Tanya Yanti ragu. "Apakah itu membuat mu merasa tidak nyaman mendengar nya?" Tanya Mayang. "Tidak, bukan seperti itu tapi... Setiap keluarga pasti punya masalah sendiri." Ujar Yanti tersenyum. "Jadi Fitri akan punya dua ibu mertua?" Tanya Yanti pada Mayang. Mayang pun langsung mengiyakan nya. "Jadi saya juga harus mempersiapkan 2 hadiah pernikahan?" Tanya Yanti lagi. "Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Kami yang akan mengurus semuanya." Ujar Mayang tersenyum. "Tidak, pernikahan tidak seperti itu. Kami mungkin tidak kaya tapi kami masih mampu melakukan nya." Ujar Yanti sambil tersenyum yang langsung dibalas Mayang dengan senyuman juga. Yanti pun mendiskusikan tentang Fitri yang akan dijodohkan dengan putra bungsu Starlight Group pada ibunya, Sri Wulandari dan suami nya, Budi Satria Purnomo. "Tidak, dia tidak boleh menikahi nya. Dia tidak akan tahan dengan 2 ibu mertua. Itu yang terburuk." Ujar Sri pada Yanti. "Jika mereka tidak memiliki masalah, apa mungkin mereka akan tertarik dengan keluarga kita." Ujar Yanti pada sang ibu. "Coba pikirkan kehidupan pernikahan nya nanti." Ujar Sri yang mengkhawatirkan cucu nya. "Bagaimana pendapatmu, sayang?" Tanya Yanti pada Budi. "Aku sedang tidak enak badan." Jawab Budi. "Jangan anggap ini mudah, coba bantu pikirkan. Maksudku apa yang keluarga kita bisa berikan sebagai hadiah pernikahan?" Tanya Yanti sedikit kesal. "Haruskah kita menikahkannya melalui perjodohan? Dia harus nya menikah dengan orang yang dia cinta." Jawab Budi lalu pergi meninggalkan istri dan ibu mertua nya. "Dia selalu menentang ku." Protes Yanti pada suaminya yang sudah pergi. "Yanti, lupakan saja. Kita tidak bisa menikahkan Fitri dengan keluarga itu." Ujar Sri yang masih menentang perjodohan Fitri dengan Gilang. "Ibu tau betapa kayanya mereka?" Tanya Yanti kesal pada sang ibu yang tidak setuju. "Lalu kenapa kalau mereka sangat kaya? Memang nya kau bisa makan uang? Lagian keluarga mereka sangat berbeda dengan kita." Ujar Sri lagi yang masih menentang. Saat ini Gilang sedang berada di rumah Ratna. "Aku akan datang ke pernikahan dengan tuxedo ku jadi sekarang tinggal ibu." Ujar Gilang pada Ratna. "Apa yang kau bicarakan?" Tanya Ratna yang tidak mengerti ucapan putranya. "Tidak ada gunanya melawan apa yang sudah ayah putuskan." Jawab Gilang santai. "Jadi?" Tanya Ratna lagi pada Gilang yang terlihat tidak peduli padahal ini menyangkut pernikahannya. "Aku tidak perduli ayah mau aku bertunangan ataupun menikah. Pernikahan adalah pernikahan, dan kehidupan pribadi ku adalah hal yang berbeda." Jawab Gilang santai. "Apa? Itulah sebabnya mereka merendahkan ku." Ujar Ratna kesal. "Bagaimana bisa itu salahku?" Tanya Gilang tak terima. "Jadi salah siapa? Mayang selalu meremehkan ku karena memiliki putra yang pintar dan berhasil." Jawab Ratna kesal. "Bukankah ibu selalu melawan jika ibu tiri merendahkan ibu. Mengapa bertindak seperti korban." Ujar Gilang lalu beranjak pergi. "Mau kemana?" Tanya Ratna pada putra yang ingin pergi. "Bukankah ibu tau kalau ayah benci aku berada disini." Ujar Gilang lalu membalikan badan hendak pergi. "Pulanglah langsung kerumah, jangan kemana-mana lagi." Kata Ratna pada putranya. "Ibu, jika mereka menelpon. Tolong bilang ibu memaksaku menginap satu malam." Ujar Gilang dengan suara batonnya. "Tidak akan." Tegas Ratna menolak permintaan Gilang. "Jika ibu tidak bilang maka aku akan diusir dan hidup ku akan bebas. Ibu pikir aku suka tinggal di rumah itu?" Ujar Gilang sambil mengedipkan mata dan tersenyum penuh kemenangan lalu pergi meninggalkan Ratna. "Aku tidak percaya kalau dia putraku. Pantas saja orang selalu merendahkan ku. Ck ck ck" Ujar Ratna kesal. Kedua orang tua Budi, Sukma dan Rudi Purnomo datang ke rumah Budi yang jaraknya tak jauh dari rumah mereka. Sukma pun sangat mendukung perjodohan Gilang dan Fitri, lain halnya dengan Rudi yang menentangnya. Fitri yang sama sekali tidak tau dengan perjodohan itu terlihat sangat terkejut. Fitri pun duduk termenung di kursi halaman rumahnya. Fanny datang dan membawa selimut untuk adik tersayang nya. "Bagaimana menurut mu? Jangan mau kalau kamu tidak suka." Ujar Fanny sambil membelai rambut Fitri. "Bagi ibu hanya anak-anaknya lah yang dia punya. Aku akan melakukannya kalau ibu menginginkannya." Ujar Fitri lembut sambil tersenyum agar sang kakak tidak mengkhawatirkan nya. "Lagian aku juga sudah capek kencan buta terus. Bagaimana pendapat kakak?" Tanya Fitri sambil masih tersenyum lembut. "Kakak ingin kamu selalu bahagia tidak peduli dengan siapa kamu menikah nanti." Ujar Fanny lembut membelai rambut Fitri sambil tersenyum hangat yang membuat Fitri pun juga tersenyum. Lalu Fanny memeluk hangat adik tersayang nya itu dan langsung dibalas dengan pelukan tak kalah hangat. Gilang saat ini sedang bersama dengan sang ibu di restoran tempat biasa mereka makan. "Pindah dari rumah?" Tanya Ratna yang langsung diiyakan oleh Gilang. "Kau ingin hidup sesuai keinginan mu?" Tanya Ratna lagi yang langsung diiyakan oleh Gilang dengan penuh semangat. Ratna pun langsung memukul kepala putranya dan berkata "Dasar bodoh. Kau membuat darj tinggi ku kambuh. Tinggallah disana dan pastikan mendapat perlakuan yang layak. Jika tidak aku akan menggigit lidahku dan mati." "Kenapa aku bahkan tidak bisa makan dengan tenang" Gumam Ratna saat melihat telepon dari Mayang. "Halo? Aku sudah bilang kalau dia tidak bisa menikah dengannya.  Tidak. Aku bilang tidak ya tidak.  Lebih baik aku membiarkan nya mati membujang daripada berbesan dengan pegawai rendahan." Ujar Ratna marah sambil memutuskan panggilan telepon nya. "Aku tidak percaya. Apa dia benar-benar ingin berperang denganku?" Gumam Ratna kesal pada Mayang yang masih kekeh ingin menjodohkan Gilang dengan Fitri. "Tapi aku tidak masalah dengan itu. Lagian ayah juga tidak akan suka dengan tipe wanita yang kusukai. Jadi aku akan menikahi siapapun yang mereka pilihkan." Ujar Gilang santai yang langsung diberikan pukulan oleh Ratna. "Kau hanya mewarisi sifat buruk ayahmu." Gumam Ratna kesal. Gilang pun mengeluh sakit akibat pukulan sang ibu dan berkata "Rasanya seperti dipukul dengan palu. Ibu masih kuat dan penuh energi." Ujar Gilang sambil tertawa girang, yang membuat Ratna kembali memukulnya dan akhirnya Gilang pun tenang usai merasakan pukulan bertubi-tubi dari sang ibu. Fitri mendengar percakapan ibunya dengan neneknya yang membahas tentang kondisi keuangan keluarganya. Biaya les pianonya dan sekolah musik nya membuat keluarganya yang hanya keluarga sederhana sedikit kelabakan. Beruntung ada Fanny yang membantu keuangan keluarga nya. Fanny bahkan mengobarkan pendidikan nya dengan berhenti kuliah supaya kedua adiknya bisa melanjutkan kuliahnya.  Mengingat itu membuat Fitri akhirnya memutuskan untuk menerima perjodohan nya dengan Gilang. Fitri pun menghampiri Ibu, Ayah dan Kakaknya yang sedang berkumpul bersama. "Ibu, aku akan menerima perjodohan dengannya. Semuanya akan baik-baik saja selama aku bisa menahannya." Ujar Fitri tersenyum sambil duduk disamping Fanny. "Tapi kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk menerima perjodohan nya?" Tanya sang ayah khawatir karena tidak ingin putrinya hidup menderita. "Aku bisa menahannya sambil memikirkan ibu, ayah, dan kakak. Kalian semua sudah melakukan banyak hal untukku." Jelas Fitri pada keluarganya. "Kamu tidak perlu melakukannya jika tidak menginginkannya. Ibu bersungguh-sungguh." Ujar Yanti pada Fitri. "Siapa tahu? Mungkin saja dia orang yang baik." Ujar Fitri sambil tersenyum hangat agar keluarga nya tidak mengkhawatirkan nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD