Rencana Mayang

1513 Words
Mayang sedang berada di Butik dan Perhiasan Starlight untuk memperbaiki kalung berlian yang dirusak oleh Fanya beberapa hari lalu. "Jangan tanya kenapa dan perbaiki saja." Ujar Mayang pada Yanti. "Baik nyonya." Ujar Yanti pada Mayang. "Tolong ambilkan beliau teh." Ujar Yanti pada karyawan yang berdiri disampingnya. "Ibu." Panggil Fitri yang baru saja tiba dan berjalan menghampiri Yanti. "Oh, tunggu ibu di sebelah sana." Ujar Yanti pada sang putri sambil menunjuk meja di ujung. "Siapa dia?" Tanya Mayang pada Yanti "Dia putri bungsu saya." Jawab Yanti. "Mal diseberang sedang ada diskon jadi saya mengajaknya membeli baju." Ujar Yanti menejelaskan pada Mayang. "Sapalah, ini Nyonya Pimpinan Starlight Group."  Ujar Yanti pada Fitri. "Halo nama saya Fitri Intan Purnomo." Ujar Fitri menyapa sambil membungkuk kan badan, tak lupa pula Fitri memberikan senyum hangat nya. Mayang pun tersenyum melihat Fitri yang terlihat polos dan sopan. "Ibu selesaikan pekerjaan ibu dulu." Ujar Yanti pada Fitri. "Kami bisa minum teh bersama. Jangan biarkan dia menunggu sendirian." Ujar Mayang pada Yanti. "Apa aku membuatmu takut?" Tanya Mayang pada Fitri yang hanya melihat ke bawah. "Tidak, saya tidak berpikir seperti itu." Jawab Fitri sopan sambil tersenyum. "Kamu terlihat sopan. Berapa umurmu?" Tanya Mayang lagi. "Saya 25 tahun Nyonya." Jawab Fitri lagi dengan sopan dan lembut. "Perilaku mu sangat baik dan sopan terhadap orang tua." Puji Mayang. "Terima kasih atas pujiannya Nyonya." Ujar Fitri sambil tersenyum hangat. Mayang pun tersenyum melihat Fitri sambil menikmati tehnya. Sesampainya di rumah, Mayang pun memuji Fitri di depan sang suami, Bagas. "Manager Senior Yanti?" Tanya Bagas. "Dia mendidik putrinya dengan baik." Puji Mayang. "Iya, dia wanita yang sangat bijak dan pintar, jadi aku yakin dia mendidik anaknya dengan baik juga." Ujar Bagas sebelum masuk ke kamarnya untuk ganti baju. Mayang pun tersenyum mendengar tanggapan Bagas dan memiliki niat tersembunyi. "Bukankah Yanti sudah lama bekerja di perusahaan?" Tanya Mayang pada Bagas saat makan malam. "Iya, dia sangat membantu ku saat itu. Setiap bisnis memerlukan orang kepercayaan. Dia sangat teliti dalam mengatur semuanya. Dia juga sangat pintar menjalankan bisnis." Puji Bagas sambil tersenyum. Saat ini Yanti sedang menjelaskan perhiasan pada pelanggan. Nadia Larasati Renanda, istri Farrel dan menantu kedua Starlight Group yang juga bekerja sebagai Designer datang dan memanggil Yanti untuk ikut bersamanya. "Manager Senior Yanti. Bukankah seharusnya kamu menawarkan produk yang menguntungkan pada pelanggan? Tidak bisakah kamu menilainya dengan melihat mereka?" Tanya Nadia angkuh. "Saya minta maaf." Ujar Yanti sambil menundukkan kepalanya. "Ini bukanlah butik kecil yang ada disembarang tempat." Ujar Nadia yang terlihat sangat tidak suka pada Yanti. "Saya akan belajar lebih banyak lagi." Ujar Yanti sambil tersenyum. "Kalau begitu kamu harusnya berusaha lebih keras." Ujar Nadia tersenyum sinis sambil berjalan pergi meninggalkan Yanti yang hanya terdiam. Di salon Yanti sedang mengawasi Fitri yang sedang menata rambut nya untuk menjalani kencan buta yang sudah disiapkan Yanti. Keluarga Purnomo pun makan malam tanpa kehadiran Fitri. "Apa Fitri kencan buta lagi hari ini?" Tanya Fajar. "Kenapa dia selalu kencan buta setiap Minggu?" Tanya Sri juga yang bingung dengan cucunya. "Karena dia perlu melakukan nya. Dia sedang berada di masa puncak umurnya." Jawab Yanti pada sang ibu. "Kalau begitu jangan jodohkan dia dengan pria dari keluarga kaya agar dia tidak merasa rendah diri." Ujar Budi Satria Purnomo pada sang istri Yanti, yang mengatur kencan buta Fitri. "Aku pulang." Ujar Fitri yang membuat semua orang bingung dan berhenti makan. "Kenapa dia pulang cepat sekali? Apa tidak berjalan lancar?" Terka Fanny. Yanti pun menghentikan makannya dan pergi untuk menemui Fitri yang baru saja pulang. "Kenapa kamu sudah pulang? Apa kamu sudah makan malam?" Tanya Yanti. "Kami makan malam dan kemudian berpisah." Jawab Fitri. "Kenapa kalian cepat sekali berpisah? Kamu seharusnya mengajaknya minum teh." Ujar Yanti pada Fitri yang masih baru dalam urusan cinta meskipun sudah berpengalaman dalam urusan kencan buta. "Dia sudah ada janji ibu." Ujar Fitri lagi dan pamit pergi menuju ke kamarnya. Yanti pun mengikuti Fitri ke kamarnya dan meminta Fitri memberitahukan apa saja yang mereka bicarakan. "Ceritakan pada ibu. Apa saja yang kalian bicarakan?" Tanya Yanti. "Tidak banyak Bu." Jawab Fitri tersenyum. "Apa dia bilang kamu terlihat sangat cantik?" Tanya Yanti sambil membelai rambut Fitri. "Ibu ada-ada saja." Jawab Fitri sambil tersenyum. "Kalau begitu beri tahu aku apa saja yang kalian bicarakan." Ujar Yanti. "Hmm aku beritahu dia kalau ayah pensiunan supervisor di sebuah perusahaan kecil. Lalu adikku sedang mencari pekerjaan dan kakakku menjual baju dan aksesoris di pinggir jalan." Ujar Fitri menjelaskan pada Yanti. "Kenapa kamu menceritakan semuanya dengan begitu detail. Susah mendapat kan calon suami yang sesuai saat ini." Ujar Yanti pada Fitri. "Hmm adikku sudah mengalami banyak hal hari ini. Pergilah mandi, kakak akan memfacial wajahmu." Ujar Fanny pada Fitri. "Ohiya kak, sudah mulai kelihatan botak." Uajr Fitri sambil tertawa. "Benarkah? Itu bagus, yakan? Meskipun dia pengacara, adikku yang cantik tidak bisa tinggal bersama dengan pria botak." Ujar Fanny  sambil tertawa diikuti oleh Fitri. "Apanya yang lucu? Apa kamu sudah selesai makan Fanny?" Tanya Yanti yang masuk kembali ke kamar setelah mendengar tawa dari kedua putrinya. "Sudah Bu, tinggalkan saja piring kotornya. Aku akan menyucinya setelah ini." Ujar Fanny pada sang ibu. "Ibu sedikit kesal jadi jangan berisik dan pergilah tidur." Ujar Yanti pada kedua putrinya. "Bukankah Fitri bilang pria itu sudah mulai botak Bu." Ujar Fanny sambil tertawa yang kembali diikuti oleh tawa Fitri. Yanti pun sedikit tertawa mendengar suara tawa kedua putrinya. "Lalu kenapa kalau botak? Kebanyakan pria rambutnya mulai rontok ketika kamu hidup bersama nya." Canda Yanti. "Tapi ini berbeda, mereka bahkan belum tinggal bersama." Ujar Fanny yang membuat Yanti tertawa. Fanny pun berdiri dan memeluk ibunya yang hendak pergi.  "Ibu jangan kesal lagi. Fitri akan menemukan pasangan yang tepat suatu hari nanti." Ujar Fanny sambil masih memeluk ibunya. Saat ini Sri, Budi, Yanti, Fanny, Fitri dan Fajar sedang duduk bersama menonton film komedi sambil memakan buah. Sedangkan di rumah utama, Bagas dan Mayang sedang makan malam. Bagas pun menceritakan kekesalannya karena perilaku Gilang, putra bungsunya. "Seseorang di meja seberang menatap rendah diri nya dan dia merasa tersinggung jadi dia mengacak seluruh bar lalu terjadi perkelahian." Ujar Bagas pada Mayang. "Apa ada reporter yang datang?" Tanya Mayang. "Sepertinya pria yang diajaknya berkelahi adalah atlet terkenal. Kenapa dia selalu membawa namaku ketika ada masalah. Jika seperti ini terus, polisi akan mulai memanggil ku kakak karena terlalu sering mendengar namaku. Aku sangat malu sekali." Ujar Bagas kesal bukan main. "Akankah dia akan berubah kalau menikah?" Tanya Mayang pada Bagas. "Siapa yang mau memberikan putri mereka kalau tau dia seperti itu." Jawab Bagas dengan kesal. "Bagaimana kalau Putri bungsu manager Senior Yanti yang dibicarakan beberapa waktu lalu?" Tanya Mayang pada suami tiri nya. "Dia butuh istri yang sabar." Tambah Mayang. "Manager Senior Yanti sebagai besan? Itu tidak buruk. Tapi apakah ibu kandung Gilang setuju?" Tanya Bagas kembali. Yah, Dhafin, Farrel dan Gilang mempunyai ayah yang sama dan ibu yang berbeda-beda. Ibu kandung Dhafin, Andriani diusir sejak Dhafin masih kecil karena dituduh berselingkuh dengan pria lain. Lalu datanglah Mayang, Ibu kandung Farrel dan menjadi nyonya Starlight Group meskipun bukan istri sah Bagas Hendro Renanda. Ibu kandung Gilang, Ratna Asri adalah wanita simpanan Bagas yang dulu pernah menjadi sekretaris nya. Saat ini Ratna sedang duduk di ruang tamu rumah utama. Nadia pun menyapanya dan berjalan pergi menuju dapur. "Nadia, secara teknis aku adalah ibu mertua my. Beraninya kau masuk ke dalam. Duduk dan temani aku." Ujar Ratna pada Nadia, istri Farrel sekaligus menantu kedua Starlight Group. "Aku akan mengambilkanmu teh. Beliau akan segera datang." Ujar Nadia sambil tersenyum paksa lalu berjalan pergi. "Dia selalu membuat ku menunggu ketika aku datang kesini. Apa dia mau merasa lebih hebat. Hmmm." Ujar Ratna kesal pada Mayang yang tak kunjung muncul juga. "Apa gunanya terlihat lebih hebat." Jawab Mayang yang mendengar ucapan Ratna. "Kenapa kau berpakaian seperti itu? Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada berpakaian yang tidak sesuai dengan umurmu. " Omel Mayang pada Ratna begitu duduk. Ratna tidak mendengarkan Omelan Mayang. "Ada apa memanggil ku kesini." Tanya Ratna sinis. Mayang mulai menuang teh yang ada didepannya dengan anggun. "Apa kamu sudah menemukan calon istri Gilang?" Tanya Mayang sambil masih menuang teh. "Semua orang tau dia seperti apa, jadi siapa yang mau memberikan putrinya?" Tanya balik Ratna dengan sinis. "Karena kita sedang membicarakan, mengapa tidak kamu saja yang mencarikan calon istri Gilang? Aku yakin kamu bisa mencarikan keluarga yang baik diantara temanmu." Tambah Ratna masih sinis namun sedikit berkurang dari kesinisan sebelumnya. "Keluarga baik?" Tanya balik Mayang. "Kenapa? Apa Gilang tidak pantas mendapat keluarga baik?" Tanya Ratna kembali dengan kesinis an penuh. "Bagaimana dengan putri bungsu Manager Senior Yanti?" Ujar Mayang. "Siapa itu Manager Senior Yanti?" Tanya Ratna. "Dia bekerja di Butik dan Perhiasan Starlight Utama." Ujar Mayang santai. "Kau ingin aku berbesan dengan keluarga karyawan perusahaan?" Ujar Ratna kesal. "Memangnya ada masalah?" Tanya Mayang. "Tapi dia hanya pegawai biasa di perusahaan." Teriak Ratna. "Pelankan suaramu. Sungguh memalukan." Ujar Mayang. "Kamu ingin aku punya menantu dari keluarga seperti itu sementara kamu memiliki menantu yang begitu berharga?" Teriak Ratna sinis. "Kau pikir Farrel dan Gilang sama?" Tanya Mayang sedikit meninggi kan suaranya. "Apa kau bilang?" Teriak Ratna lagi. "Suamiku dan aku sudah memutuskan hal itu jadi terima lah." Jelas Mayang pada Ratna. Mayang pun mengajak Nadia yang duduk bersama mereka untuk menyiapkan makan malam dan pergi meninggalkan Ratna yang masih tidak terima dengan perkataan Mayang yang mengatakan bahwa Farrel dan Gilang berbeda. Ratna pun pergi dengan hati kesal. Saat ingin pergi Ratna berjumpa dengan Gilang yang baru saja pulang. "Ibu, kapan ibu datang? Ibu sudah mau pergi?" Tanya Gilang yang baru saja tiba. "Iyaa, ibu mau pulang." Ujar Ratna dengan nada yang masih kesal dan pergi begitu saja. Melihat ibunya yang kesal, Gilang pun bertanya pada Nadia tentang apa yang terjadi. Nadia menjawab bahwa Mayang nanti akan menjelaskannya. Gilang pun bingung dan takut  dengan apa yang akan direncanakan oleh ibu tirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD