Fanny pun segera mendorong pengemudi mobil mewah yang tak lain adalah Dhafin untuk menjauh darinya.
"Karena bukan saya yang salah jadi saya tidak akan membayar ganti rugi dan tidak akan meminta ganti rugi. Kalau begitu saya pergi dulu. Lain kali berhati-hatilah menyetir mobilmu." Ujar Fanny kesal sambil berjalan pergi.
Dhafin pun hanya terdiam memandang Fanny yang sudah memasuki mobil pick up bekas nya. Dhafin tersadar dan segera masuk ke mobilnya untuk mengikuti Fanny yang terlihat sama persis seperti Fanya.
Fanny pun berhenti di jalanan tempatnya biasa menjajakan dagangannya.
Fanny yang sedang makan pun merasa tidak nyaman dengan Dhafin yang melihat nya terus menerus dari balik pohon yang tak jauh dari tempat Fanny duduk.
"Kau tidak pernah melihat orang makan mie kuah sebelumnya?" Ujar Fanny marah pada Dhafin yang sedari tadi mengintipnya.
"Maaf." Ujar Dhafin lalu berjalan pergi.
"Mereka terlihat mirip sekali." Ujar Dhafin pelan sambil memiringkan kepalanya bingung. Suara Fanny pun menghentikan langkah Dhafin.
"Tunggu sebentar. Kita sudah menyelesaikan masalah tabrakan tadi. Ada masalah apa lagi sampai kamu melihatku terus saat sedang makan dan membuatku kehilangan nafsu makan?" Ujar Fanny sedikit kesal.
"Kamu makan begitu lahap di pinggir jalan. Aku minta maaf. Silahkan dilanjutkan lagi makannya." Ujar Dhafin sebelum pergi.
"Hei Tuan." Kata Fanny kesal yang membuat Dhafin membalik kan badannya.
"Saya?" Tanya Dhafin.
"Apa kamu pikir aku suka makan dipinggir jalan?" Tanya Fanny kesal.
"Bukan begitu maksudku. Kau makan dengan begitu lahap dan nikmat." Jawab Dhafin yang membuat Fanny semakin kesal.
Untung saja ada pembeli yang membuat Fanny langsung pergi menghampiri pembelinya. Dhafin pun pergi sebelum Fanny semakin kesal. Melihat Dhafin pergi, Fanny pun melanjutkan makannya.
Saat ini Fanya dan Nadia sedang berjalan di galeri seni.
"Nadia." Panggil Fanya.
"Iyaa kakak ipar." Jawab Nadia yang berdiri disampingnya.
"Tidakkah kau pikir ayah dan ibu mertua kita sangat luar biasa?" Tanya Fanya.
"Aku ingin bercerai namun mereka masih tetap mengirimkan hadiah ulangtahun pernikahan orang tua ku di Amerika. Dengan kata lain, mereka tidak mendengarkan sama sekali apa yang kukatakan." Tambah Fanya kesal sambil menatap lukisan didepannya.
"Apa kamu benar-benar ingin bercerai kakak ipar?" Tanya Nadia yang membuat Fanya bingung.
"Ahh kakiku sakit. Ayo kita pilih saja satu yang paling mahal." Ujar Fanya mengalihkan pembicaraan agar tidak menjawab pertanyaan Nadia.
Dhafin sedang tidur di sofa ruang tamunya, dering telepon membuatnya terbangun.
"Iyaa ayah ini aku. Ada apa?" Ujar Dhafin begitu mengangkat telepon nya.
"Istrimu kecelakaan ketika menyetir. Apa kau pria yang ada disebelahnya saat kecelakaan?" Ujar Bagas yang membuat Dhafin terkejut.
Bagas pun menyuruh Dhafin kerumahnya sekarang. Begitu Dhafin masuk, Bagas langsung melemparnya dengan kotak tisu yang ada didepannya.
Dhafin pun mengambil kotak tisu yang dilemparkan padanya dan duduk disamping Bagas.
"Dasar bodoh. Kenapa kau tidak bisa mengatur istrimu sendiri? Dengar aku baik-baik.
Hanya dengan melihat mu saja sudah membuatku muak. Melihat wajahmu mengingatkan ku pada ibumu dan aku membencinya." Teriak Bagas pada Dhafin yang hanya menundukkan kepalanya.
"Sudah cukup." Ucap Mayang pada Bagas.
"Pulanglah. Ini sudah malam." Ucap Mayang pada Dhafin sebelum Bagas memarahinya lagi.
"Jika Fanya sampai meminta cerai lagi. Kau akan kuusir dan kucoret dari daftar pewarisku." Teriak Bagas yang membuat Dhafin hanya bisa terdiam dan menatap Bagas.
"Kau sama persis seperti Ibumu ketika kau menatapku seperti itu. Pergilah! Aku tidak ingin melihat mu." Teriak Bagas pada Dhafin.
Disisi lain Mayang hanya tersenyum menatap Dhafin. Dhafin pun mengingat kembali apa yang dikatakan Mayang padanya 20 tahun yang lalu.
"Ibumu meninggalkan mu karena dia berselingkuh. Dia punya pria lain dibelakang ayahmu. Jadi wajar saja jika ayahmu membencimu." Ujar Mayang pada Dhafin yang masih berusia 12 tahun.
Mengingat itu membuat Dhafin hanya terdiam dan menggertakkan gigi untuk menerima semua kebencian ayahnya.
Setelah pulang dari rumah sang ayah, Dhafin langsung menuju rumah sakit untuk menemui neneknya. Dhafin pun hanya memandang sang nenek sambil memijat lengan neneknya yang sedang tertidur.
Tak lama neneknya pun terbangun dan melihat Dhafin di samping nya.
"Nenek sudah bangun?" Ujar Dhafin sambil membantu sang nenek untuk duduk.
"Kapan kamu datang? Fanya dimana?" Tanya sang nenek.
"Dia tadi ada disini saat nenek tidur dan baru saja pergi." Ujar Dhafin berbohong sambil masih memijat lengan sang nenek.
Sang nenek yang tahu dengan kebohongan Dhafin pun terlihat kecewa dan menghela napas.
"Aku akan membawanya lagi lain kali nek." Hibur Dhafin pada sang nenek yang terlihat kecewa.
"Apa kamu sudah makan?" Tanya sang nenek sambil mengelus pipi cucu tersayangnya itu.
"Sudah nek." Jawab Dhafin sambil tersenyum sumringah pada sang nenek.
"Bagaimana keadaan nenek?" Tanya Dhafin penuh perhatian.
"Nenek baik-baik saja." Jawab sang nenek tersenyum sambil mengelus kedua pipi Dhafin yang membuat Dhafin pun ikut tersenyum.
Bagi Dhafin hanya dengan sang nenek lah Dhafin merasa nyaman dan tenang karena Dhafin tau kalau sang nenek sangat menyayangi nya.
Berbeda dengan anggota keluarganya yang lain. Ibunya yang pergi meninggalkan nya saat masih kecil. Ayahnya yang sangat membencinya. Ibu tiri nya, Mayang dan Farrel yang menganggap nya saingannya. Ibu Gilang dan Gilang yang tidak peduli sama sekali dengannya. Dan juga Fanya yang tidak menganggap dan menghargainya sebagai suaminya.
Itulah kenyataan dari hidup Dhafin yang tidak diketahui orang lain.
Banyak sekali laki-laki yang iri dengan kehidupan Dhafin yang tampak sempurna dari luar sebagai Pewaris Starlight Group, Menantu dari Surya Gunawan Baskoro, Pebisnis sekaligus Politisi terpandang di Amerika, dan suami dari Fanya Ayudia Renanda yang terkenal dengan kecantikan nya.
Namun sebenarnya hidup Dhafin mungkin lebih menyedihkan dari orang yang iri dengan kehidupan nya.
Saat ini Dhafin sedang makan malam berdua dengan Fanya diiringi dengan musik dan lilin menambah suasana romantis.
"Kenapa kamu tidak memakannya lagi? Ayah memesannya spesial untuk mu." Tanya Dhafin pada Fanya yang hanya memakan beberapa potong daging yang dihidangkan.
"Apa kamu tidak tau kalau aku akan sakit perut ketika makan bersama dengan orang yang tidak kusukai?" Tanya Fanya sinis.
"Enak sekali jadi orang blak-blakan seperti mu." Ujar Dhafin sambil tersenyum dan melanjutkan makannya.
"Ayah sering memikirkan mu akhir-akhir ini." Tambah Dhafin.
"Aku yakin ayahmu butuh lebih banyak uang dari ayahku untuk memperluas bisnis nya ke Eropa." Kata Fanya sinis.
Dhafin sedikit terkejut dengan perkataan Fanya dan hanya terdiam karena sudah tahu bagaimana sifat istrinya itu.
"Kenapa?" Tanya Dhafin pada Fanya yang sedari tadi terus menatap nya makan.
"Kamu belum bertanya siapa pria yang bersamaku dimobil." Ujar Fanya pada Dhafin.
"Aku yakin dia pasti temanmu atau teman sekelasmu. Setengah dari temanmu adalah pria." Jawab Dhafin lembut sambil melanjutkan makannya. Fanya pun terlihat sangat tidak suka dengan jawaban Dhafin.
"Jika kamu benar-benar mencintaiku, bukankah seharusnya kamu cemburu?" Tanya Fanya sinis.
"Aku percaya padamu." Ujar Dhafin lembut.
"Aku yakin itu yang kamu yakini. Kamu pasti sangat menginginkan aku untuk tetap menjadi istrimu." Ujar Fanya yakin. Dhafin hanya diam sambil menatap Fanya.
"Apa kamu benar-benar percaya padaku?" Tanya Fanya sambil memandang sinis Dhafin.
"Aku tidak peduli dia itu pacarmu atau temanmu. Kamu bisa bersenang-senang diluar sana sepuasmu asalkan kamu kembali ke rumahmu." Ujar Dhafin tulus.
Fanya terkejut dengan perkataan Dhafin. Fanya pun mengambil air minum yang ada disampingnya lalu meminum nya dan menyiramkan nya pada Dhafin yang sedang makan didepannya.
"Apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu tau kalau ayah sering datang kemari? Orang-orang melihat kita." Ujar Dhafin pelan.
"Itulah yang kuinginkan. Tujuan hidupku adalah untuk mempermalukanmu dan ayahmu." Ujar Fanya santai sambil berdiri dari kursinya. Dhafin pun juga berdiri dari duduknya.
"Apa kamu bisa mencintai seseorang sepertimu jika kamu menjadi aku?" Teriak Dhafin marah pada Fanya.
"Kenapa kamu berteriak ketika orang sedang melihat kita? Ini memalukan." Ujar Fanya acuh tak acuh sambil berjalan pergi meninggalkan Dhafin yang terlihat marah sekaligus sedih.