Pertengkaran

1646 Words
"Kenapa? Apakah Dhafin melakukan sesuatu yang salah?" Tanya Bagas pada Fanya. "Itu karena kamu, ayah mertua. Tolong biarkan lah aku hidup sesuai dengan keinginan ku. Aku tidak tahan hidup seperti boneka terus menerus. Aku benar-benar sudah tidak tahan ditekan seperti ini terus menerus." Teriak Fanya pada Bagas sambil memandang sinis ke arah ayah mertuanya itu. Bagas pun memandang Dhafin dengan penuh kemarahan, yang membuat Dhafin menghela napas dan menundukkan kepalanya tidak tahu harus berbuat apa. Sesampainya di rumah Fanya langsung berjalan menuju kamar tidurnya sampai suara Dhafin menghentikan langkahnya. "Kita tidak bisa bercerai." Ujar Dhafin tegas pada Fanya. "Demi siapa kita tidak boleh bercerai? Demi ayahmu yang menggunakan uang ayahku untuk membesarkan perusahaan nya?" Tanya Fanya sinis. "Jaga bicaramu." Ujar Dhafin. "Atau demi kamu? Kamu yang diperlukan tidak adil setelah ibu kandung mu diusir dari rumah. Aku jadi jalan keluar mu. Benarkan?" Tanya Fanya kembali sinis. "Sudah kubilang jaga bicaramu." Ujar Dhafin lagi. "Walau bagaimanapun kamu dan aku tidak akan bisa bersama sampai akhir." Ujar Fanya sebelum pergi meninggalkan Dhafin di Ruang tengah.  Dhafin pun mengikuti Fanya ke kamar tidurnya. "Ini juga berat bagiku."  Ujar Dhafin. "Tentu saja berat, memaksamu untuk hidup bersama dengan wanita yang tidak kau cintai." Jawab Fanya sinis yang membuat Dhafin terdiam. "Bukankah sangat sulit bagimu untuk berpura-pura mencintai ku untuk membodohi keluargamu?" Tanya Fanya kembali dengan sinis. "Bukankah sudah kubilang untuk menjaga bicaramu. Kau ingin membuatku seberapa menyedihkan lagi didepan keluarga ku?" Ujar Dhafin sedikit keras. Fanya hanya memandang sinis kearah Dhafin. "Meskipun kau membuat ku terlihat sangat menyedihkan, aku masih tetap suami mu." Tambah Dhafin sebelum pergi. "Aku tidak butuh ini. Aku tidak butuh semuanya." Ujar Fanya sambil berteriak dan menarik paksa kalung berlian dilehernya yang membuat berliannya berterbangan kemana-mana. Dhafin pun memandang berlian yang berserakan dimana-mana lalu berjalan pergi. Fanya hanya memandang sinis kepergian Dhafin. Saat ini Fanny sedang menjajakan baju, topi dan aksesoris buatannya pada pelanggan yang datang ke tempatnya. Suara teriakan membuatnya segera membereskan dagangannya. Fanny langsung menarik gerobak dagangan miliknya dari Satpol-PP yang tiba-tiba datang. Beruntung Fanny bisa bersembunyi dan tidak tertangkap oleh Satpol-PP. Saat sedang dalam persembunyian seseorang pun menghampiri Fanny dan menunjukkan nya mobil bekas untuk dipakai Fanny berjualan. Fanny pun memeriksa mobil bekas tersebut dengan detail dan Fanny menyukainya. "Bukankah terlalu berlebihan Rp50.000.000 untuk mobil bekas." Ujar Fanny. "Rp40.000.000 saja maka saya akan membelinya." Tambah Fanny. "Lupakan saja, aku tidak ingin berdebat." Ujar penjual mobil pada Fanny. "Tunggu tunggu. Berapa banyak yang harus kubayar jika dicicil selama 6 bulan?" Tanya Fanya sambil memandang mobil pick up bekas yang berada di depannya. "Ckck apakah kamu sedang membeli rumah? Kenapa kau perlu cicilan hanya untuk membeli sebuah mobil bekas. Jika kau tidak mau, lupakan saja." Ujar penjual hendak pergi. "Tunggu tunggu, tapi tetap saja bagaimana bisa aku mendapatkan Rp50.000.000 begitu saja. Berilah aku waktu beberapa hari" Ujar Fanny sambil tersenyum. Saat ini Fanya turun dari mobilnya dan memasuki butik langganan nya. Fanya pun memilih baju dan mengambil satu baju dari yang sudah dicobanya. Namun Mayang menyuruh Fanya mengambil lebih banyak lagi. "Kalau begitu aku ambil ini, ini, ini, ini ini, ini, ini, ini, ini, ini dan ini dan ini juga." Ujar Fanya sambil menunjuk segala baju yang berada di dekatnya. Fanya pun menyerahkan baju yang dipilihnya pada pekerja yang berada didekatnya namun pekerja tersebut hanya terdiam melihat cincin berlian biru yang melekat di jari manis Fanya. "Kenapa? Kau tidak pernah melihat seseorang yang memakai cincin?" Tanya Fanya sinis. "Ohh, saya minta maaf. Orang-orang seperti kami hanya melihat cincin seperti itu di gambar." Ujar pekerja sambil tersenyum meminta maaf. "Bungkus saja semua yang sudah saya pilih." Ujar Fanya acuh tak acuh. "Baik Bu. Apakah anda ingin minum teh sambil menunggu?" Pekerja menawar kan pada Mayang dan Fanya. "Aku orang yang pemilih dengan apa yang kuminum." Ujar Fanya kembali dengan acuh tak acuh. "Baiklah kalau begitu Bu, saya akan membungkus semuanya. Tolong tunggu sebentar." Ujar pekerja sambil pamit pergi. "Kau tidak seharusnya melakukan itu pada orang lain." Ujar Mayang. "Jika aku tidak mengatakan apa yang ada di pikiran ku, aku akan sakit." Jelas Fanya pada sang ibu mertua. Mayang hanya diam memandang Fanya. "Ahhh kepala ku sakit. Ibu mertua aku akan beristirahat di dalam mobil." Ujar Fanya langsung berjalan pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Mayang yang memandangnya tak suka. Saat akan memasuki mobil, seorang siswa berteriak memanggil Fanya. "Nyonya, nyonya. Kami sedang mengumpulkan donasi untuk anak-anak yang terkena penyakit tidak bisa disembuhkan. Tolong bantu kami." Ujar siswi wanita ditemani oleh temannya. Dengan raut wajah kesal Fanya yang hendak membuka tasnya tiba-tiba melihat cincin berlian biru yang sedang dikenakannya. Fanya pun menutup kembali tasnya dan memberikan cincin berlian biru nya. Siswi itu pun berterima kasih lalu berjalan pergi. Mayang yang melihat kejadian itu pun segera memanggil Fanya yang hendak memasuki mobil. "Tunggu Fanya, bukankah itu cincin pernikahan mu?" Ujar Mayang sambil terus menatap kearah kotak yang dibawa siswi tadi. "Lagian kami akan segera bercerai. Itu benda yang tidak berharga lagi bagiku. Dan juga aku menggunakan nya untuk hal yang baik." Ujar Fanya tak peduli dan langsung masuk ke dalam mobil. "Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu." Ujar Mayang pada Fanya sambil mengikuti Fanya masuk ke mobil. Sedangkan disisi lain, Fanny sedang menarik tabungannya untuk membeli mobil pick up bekas yang dilihatnya kemarin. "Menghabiskan uang Rp. 50.000.000 sekaligus membuat tanganku bergetar.  Tapi aku perlu berinvestasi untuk bisnis ku. Yah, tentu saja. Semangat. Semangat Fanny. Menghabiskan uang untuk mendapatkan uang. Okay." Ujar Fanny bersemangat. Fanny sedang mengemudi kan mobil bekasnya sambil bernyanyi ceria. Dan berhenti karena lampu merah. Fanny pun berdoa agar bisa menghasilkan Rp 1.500.000 saja hari ini. Tak lama kemudian musik yang diputar Fanny tiba-tiba berhenti, Fanny pun menepuk-nepuk nya namun tak nyala juga. Akhirnya Fanny pun pasrah dan ingin menjalankan mobilnya kembali karena lampu sudah hijau sebelum mobilnya mogok. Berulang kali pun Fanny mencoba menghidupkan mobilnya namun mobil itu tak menyala juga. Telinga Fanny sakit dengan klaksonan mobil yang berada dibelakangnya. Fanny pun datang ke orang yang menjual mobil tersebut padanya dan protes padanya karena orang bengkel bilang mobilnya akan sulit diperbaiki dan membutuhkan biaya besar untuk memperbaiki nya jadi lebih baik membuangnya. "Kalau begitu buanglah." Ujar penjual itu pada Fanny. "Tapi aku baru saja membelinya." Ujar Fanny kesal. "I-Itu urusanmu." Ujar penjual tadi. "Kembalikan uangku." Teriak Fanny. "Kenapa harus aku? Bukan aku yang menerima uangmu." Ujar penjual tersebut. "Jadi ke siapa aku harus minta ganti ruginya?" Teriak Fanny lagi. "Satu-satunya kesalahanku adalah mengenalkan mu padanya." Ujar penjual itu pada Fanny. "Telepon orang itu, dia tidak mau menjawab teleponku. Alamat rumahnya adalah rumah kerabatnya yang sudah tidak dia temui selama 3 tahun." Teriak Fanny sambil menarik-narik lengan penjual tersebut. "Berhentilah berteriak. Kamu membuat jantung ku lemas. Bagaimana bisa kamu memarahi orang yang sudah seperti pamanmu sendiri." Ujar penjual tersebut. "Mobil nya mogok 5x untuk bisa sampai kesini. 5x ya ampun." Teriak Fanny lebih kuat lagi. Setelah mendapatkan informasi dari penjual mobil bekas itu, Fanny pun mencari penipu yang sudah menjual mobil rongsokan itu padanya. Fanny menanyakannya pada orang-orang namun tidak ada yang mengetahui nya. Kaki Fanny sudah hampir putus karena kesana kemari mencarinya namun tidak juga menemukan nya. Fanny melihat seorang nenek yang menarik gerobak berisi kardus bekas. Fanny pun membantu nenek yang terlihat kesusahan dengan menolong mendorong gerobak nya dari belakang. Fanny pun mengetahui bahwa pria yang menipunya adalah putra nenek tersebut. Nenek tersebut akan masuk panti jompo dan cucu nenek tersebut yang tak lain adalah anak dari pria yang menipu nya akan masuk ke panti asuhan. Sang nenek menangis terisak begitu melihat cucunya memasuki panti asuhan. Fanny pun tak bisa menahan air matanya dan ikut menangis melihat kejadian memilukan tersebut. Setelah Fanny menemukan orang yang menipu nya itupun Fanny langsung menahan tangannya saat dia hendak kabur. "Jangan lari. Aku datang kemari bukan karena uang. Bukankah seharusnya kamu membesarkan anakmu sendiri walaupun sulit? Itu akan meninggalkan luka besar dihatinya kalau mengetahui ayahnya meninggalkan nya." Ujar Fanny marah. "Itulah sebabnya aku menipu mu. Agar uangnya bisa kugunakan untuk mencari tempat tinggal yang layak." Ujar penipu itu pada Fanny sambil menunjukan penyesalan. Fanny terkejut mendengar ucapan penipu itu dan melepaskan tangan yang sedari tadi ditahan Fanny. "Karena aku butuh tempat tinggal untuk kami bertiga." Tambah penipu itu. Fanny pun bertanya apakah uangnya sudah digunakan untuk sesuatu yang lain dan penipu itu pun menjawab bahwa dia belum menggunakan nya. "Aku tidak bisa menggunakan nya karena ini hasil dari menipu." Ujar penipu itu sambil menangis dan menyerahkan kembali uang Fanny. Fanny tidak bisa mengambil kembali uangnya setelah mengingat kembali tangisan nenek dan cucunya di depan panti asuhan tadi. "Baguslah kalau gitu. Gunakanlah uang itu dengan baik. Aku akan pergi." Ujar Fanny sambil berjalan pergi. "Saya minta maaf. Aku yakin hidupmu juga susah. Saya sungguh minta maaf." Ujar penipu itu sambil menangis dan membungkuk berterima kasih pada Fanny. Fanny pun berbalik dan tersenyum hangat pada penipu tersebut. Melihat senyuman hangat Fanny membuat penipu itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih terus menerus hingga Fanny sudah tidak terlihat lagi. Fanny pun mulai menerima mobil pick up bekasnya dan mencuci mobilnya hingga mengkilap. Penjual mobil itupun menyiramkan alkohol ke mobil yang baru dicuci Fanny dengan harapan agar semua keberuntungan datang ke Fanny. Fanny pun tersenyum sambil ikut menyiramkan alkohol ke seluruh mobilnya. Fanny sedang berkeliling sambil menyetir, tak lupa pula Fanny bersenandung ria namun tiba-tiba saja muncul mobil di depannya. Mobil bekas Fanny pun menabrak mobil mewah yang ada di depannya. Fanny pun keluar sambil menahan kekesalannya. Bukannya keberuntungan, Fanny malah mendapat kesialan. "Ada apa denganmu? Apakah kamu tidak tahu aku di jalur yang benar?" Ujar Fanny sambil berjalan menghampiri pintu pengemudi mobil yang menabraknya. Pengemudi mobil pun keluar untuk memeriksa mobilnya tanpa melihat Fanny yang sedang berbicara di belakang nya. "Lihat ini, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Ujar Fanny kesal sambil memandang kearah pengemudi mobil mewah tersebut. Pengemudi mobil mewah tersebut terkejut bukan main melihat Fanny. Pengemudi itu mulai mengamati Fanny dengan detail dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Apa yang kau lihat? Cepat berika SIM mu." Ujar Fanny. Pengemudi itu tidak mendengarkan Fanny, hanya mengamati nya lagi dengan detail, sedetail mungkin. Seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ap-apa yang kamu lakukan sekarang?" Ujar Fanny tak nyaman dengan tatapan pengemudi yang menabraknya lalu berjalan mundur setelah melihat pengemudi itu terus mendekat kearah nya. "Siapa kamu dan dimana tempat tinggal mu?" Tanya pengemudi itu. Namun Fanny hanya diam menahan kekesalannya. Pengemudi itu terus mendekat kearah Fanny hingga jarak wajah mereka hanya beberapa inchi saja. Fanny yang terkejut pun segera mendorong pengemudi itu namun pengemudi itu menarik lengan Fanny dan membuat mereka berpelukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD