"Lepaskan aku! Aku mohon, lepaskan aku!" seru wanita itu pada pria yang menyeretnya di rerumputan. Wanita bergaun emas itu terus diseret, rambut merahnya amburadul karena bergesekan dengan tanah.
Tapi sosok yang menyeretnya itu tidak berhenti. Semerbak lavender menguar, bercampur dengan aroma hujan deras, dan ia menghempas tubuh wanita itu ke tanah. Menarik kepalanya ke atas balok kayu yang berlumuran darah bercampur air. Balok itu masih basah, digunakan semalam suntuk, tanpa jeda.
Tiba-tiba, sepasang tangan kecil memegangi tubuh sang wanita. Nampak gadis muncul dari balik gaunnya, memandang bingung ke arah kapak yang dibawa sosok tadi. Dengan rambut yang sama merahnya dengan wanita itu, ia terbelalak dan memandang ibunya, meminta penjelasan.
Namun terlambat. Mata wanita itu membulat, namun Ia tidak sempat mendorong anaknya. Kepalanya ditekan kembali, dan kapak itu pun terayun.
Saat bilah tajam menyentuh leher wanita itu, ledakan petir menggelegar, menyetrum tanah. Mata cokelat gadis itu membeku, seraya dengan kilatan petir, leher ibunya yang bermuncratan darah.
***
Seekor burung Bulbul yang pincang terbang sejenak ke dahan yang lebih rendah. Dengan mata berkedip dan kepala yang lincah, ia menunduk; ikut heran akan betapa janggalnya pemandangan dari atas pohon Yew kesayangannya pagi itu.
Seorang pria dengan jubah emas yang panjangnya menyapu lantai, berdiri membeku di samping daun pintu sejak matahari belum terbit. Sesekali ia menjilat bibirnya yang koyak dan berdarah. Wajahnya bonyok dan matanya kosong.
Ia terus menatap gerbang istana tanpa berkedip.
Sepercik rasa iba pun terbit di hati sang Bulbul, yang memutuskan untuk mengepakkan sayapnya; turun dan bertengger di rerumputan halaman istana, menemani pria itu.
Sinar pagi mulai terasa panas, ketika hening total yang menyelimuti istana sejak tadi malam pecah. Derap kaki sepasang kuda menarik kereta yang terburu-buru.
Dari dalamnya, seseorang meloncat keluar, memeluk sesosok gadis kecil yang terkulai dengan mata kosong di gendongannya.
"Yang Mulia," ujar pria yang menggendongnya, jatuh berlutut di hadapan pria berjubah emas. Tangis pria itu pecah. Merengkuh erat-erat putri semata wayangnya, Myra, yang seakan tak bernyawa di pelukannya.
Paginya, istana dipenuhi kain hitam. Nama-nama para Rosean yang gugur dibacakan satu persatu—tujuh puluh nyawa totalnya, yang tewas terpenggal pada Teror Mawar Berdarah. Raja Godwin kini menduda; ia hampir sebatang kara. Hanya tersisa belasan Rosean yang tersisa, dan... Myra, yang kini cacat, sebagai pewarisnya.
***
Seekor burung Bulbul terbang santai di antara dahan-dahan.
"Callan Lavendar, lolos diterima di Akademi Militer Avendra dengan nilai sempurna!" Seru lantang para ajudan di balai kota memekakkan telinga. Mengumumkan satu hal yang begitu dinantikan oleh pemuda-pemuda di daratan itu—kelolosan Akademi militer Avendra—tempat di mana hanya satu dari seratus yang diterima.
Begitu mendengarnya, Callan melompat, lantas berlari hingga sampai di rumah dengan gembira. Berkat latihan pedang ketat ayahnya, Ia berhasil diterima di akademi militer Avendra dengan nilai sempurna. Ia tak sabar melihat ayah tertawa riang, saudara kembarnya—Camdyn—mendelik, dan ibu merayakannya dengan satu ayam panggang utuh.
Namun setelah membuka pintu, malah tetesan darah yang mengaliri rumahnya hingga lantainya penuh.
Menegang, Callan berlari hingga ke dapur, berharap bahwa itu hanya aliran darah rusa hasil buruan ayahnya. Namun, lolongan sedih ibunya langsung mematahkan semuanya. Terlihat Camdyn, kakaknya bersimbah darah, tak lagi bergerak dalam pelukan ibunya.
Belum sempat Callan berkata-kata, pekikan yang memekakan muncul dari halaman belakang rumahnya. Segera Ia berlari lagi, dan nampak ayahnya. Dengan tangan terikat kencang dengan wajah babak belur, ayahnya berlutut di depan pria yang membawa sebilah pedang.
Callan ingin menerjang maju, namun belum sempat Ia bergerak, satu desing nyaring berkumandang, dan luka hasil sabetan pedang menyobek perut ayahnya. Jatuh tak berdaya. Pria yang membawa pedang itu menoleh sekali, dan Callan terkesiap.
Yang Mulia Raja Godwin-lah yang barusan membunuh ayah tercintanya.
Tak melihat Callan di kegelapan, Ia langsung beranjak pergi. Memacu kuda bersama prajurit-prajurit yang sudah menunggu. Hukum Avendra mengizinkan raja mengeksekusi tanpa pengadilan, asal ia menghunus pedangnya sendiri.
Dadanya seakan ditoreh timah panas, sengat yang begitu pedih tertancap dalam; meliputi hati pemuda yang baru berumur tujuh belas tahun itu. Napasnya tersendat. Dengan tergopoh-gopoh dan mata yang memerah, Ia menarik ayahnya dalam rengkuhannya. Ayahnya batuk darah, mengelap wajah putra bungsunya dengan tangan bersimbah darah, lantas meregang nyawa dalam dekapannya.
Begitu saja. Tiada wejangan, tiada wasiat, seluruh kehidupan Callan direnggut dalam satu malam.
Kejadian-kejadian selanjutnya terjadi begitu cepat. Pekikan, erangan, dan desing-desing pedang menguar dari perkampungan klan Lavendar. Kepala wangsa mereka baru saja dibunuh! Dengan segera keputusan diambil untuk memakamkan ayah dan Camdyn.
Callan tidak tahu, Callan tidak ikut campur. Matanya kini kosong sempurna. Otomatis, seolah dirasuk roh, dia ikut mengeruk tanah, memandikan ayah dan Camdyn, hingga menurunkan peti mati mereka dengan tangannya sendiri. Barulah saat tanah dituang untuk mengubur, tangisnya pecah. Ia meraung-raung, air matanya menganak sungai.
Alger, pamannya pun memeluk keponakannya dengan mata basah. Sesekali ia menepuk punggungnya sembari berbisik:
"Balaskan kepada Rosean."
"Balaskan kepada Rosean," yang lain ikut menyahut. Murka dan benci bercampur jadi satu.
"Balaskan kepada Rosean."
"BALASKAN KEPADA ROSEAN!" Alger segera berdiri dan berseru lantang. Tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih.
Seruan itu membuat mata amethyst Callan menyala.
***
Seekor Bulbul berlari di kekelaman malam. Sesekali ia menunduk, lanjut mengikuti sebuah tudung merah yang ikut bergerak cepat di keheningan.
Daun-daun kering dari pohon Yew terpijak dan terpijak, memicu bunyi kriuk yang lantas tenggelam dengan derap pacuan kuda di belakangnya. Sang empunya tudung merah kian panik. Helaan napas pendek ikut mengudara seraya Sang Tuan Putri berlari.
Akan tetapi, gerakannya bukanlah tandingan bagi pasukan di belakang, mengejar mereka dengan kuda-kuda tercepat. Butuh sesaat saja untuk sekelompok prajurit berhasil mendahului mereka di depan.
Pasukan itu membentuk tameng. Menghalangi sosok tudung merah untuk pergi lebih jauh, mengepung Tuan Putri Myra, pewaris sah takhta kerajaan Avendra di tengah yang tersandung hingga jatuh.
Seorang pria turun dari kuda yang tergagah. Mata amethyst-nya bersinar di tengah lebatnya hutan. Dia menghunus pedangnya, berseru lantang dan tegas,
"menyerahlah, Myra!"
Tetap sosok bertudung itu enggan berdiri.
Sang Panglima pun berang. Keangkuhan mawar masih tegak berdiri, rupanya? Baiklah.
Dalam satu kibasan, Callan mengacungkan pedangnya.
Myra menahan napas kuat-kuat. Ujung lancip pedang itu hanya berjarak sehelai rambut dari lehernya. Kemudian, pedang itu bergerak naik, naik, naik, hingga dalam satu ayunan pelan, tudungnya pun tersingkap.
Para prajurit pun terkesiap.
Hanya Callan yang tidak.
Tepat di bawah sinar rembulan, pewaris sah takhta Avendra itu berkilau. Rambut keriting merahnya tergerai hingga pinggang.
Wajahnya kacau, napasnya terengah-engah, namun tak sedikitpun mengurangi keanggunannya.
"Serahkan dirimu," Callan menatap gadis yang begitu jelita itu dengan tajam, "atau kukirim mayatmu ke pangkuan ayahmu."
Mata Myra pun membulat. Seketika ia berdiri, terperanjat.
"Jangan bawa nama ayahku—"
Seketika juga, puluhan pedang runcing pun ikut menyasar lehernya. Pewaris sah tahta Avendra itu berdiri tegak. Mengangkat dagunya. Gemetar, namun tetap berusaha tegar menerima kenyataan.
"Jatuhkan senjatamu ke tanah, Tuan Putri," seru panglima itu lagi dengan nada menghina di ujung kalimat.
Myra menghela napas, menjatuhkan busurnya. Benda itu terpental di tanah.
"Tangkap dia."
Dengan cepat, para prajurit yang sudah mengganti lambang di d**a mereka dengan bunga Lavender itu menarik lengan putri itu kasar, merantainya. Hilang sudah hormat mereka bagi Putri Mahkota, tak seperti dulu. Myra memejamkan mata, napasnya tertahan terlalu lama.
Seorang mawar pantang mengeluarkan air mata.
Perkataan pamannya, yang mungkin sudah tiada, menggema dalam kepala.
Kemudian, sosok panglima itu mendekat. Berdiri di depan Myra yang kini dirantai tak berdaya. Namun dagu sang putri tetap tegak. Menatap mata biru keunguan pria itu itu penuh amarah.
Callan Lavendar. Pria berambut hitam terikat, bermata biru keunguan yang berhasil merebut tahta paman Myra dalam satu malam.
Callan membalas tatapan itu tajam. Namun alih-alih murka, dia malah tersenyum tipis. Membuat mata Myra memancarkan ketakutan.
Menangkap ketakutan Myra, seringai Callan makin melebar. Balas dendamnya terlaksana dengan sempurna, sangat sempurna. Mengibas jubah ungunya, dia berbalik.
"Bawa dia ke dalam kereta. Kita kembali ke istana."
***
Seekor Bulbul bertengger di luar dinding penjara. Berkas-berkas cahaya menyusup dari dindingnya. Sinar matahari mendarat lembut di wajah Myra, perlahan membangunkannya.
Dengan pelan kelopak matanya terbuka. Butuh baginya beberapa saat untuk mengumpulkan kesadaran.
Tangannya meraba ke bawah, mencari selimut bulu miliknya. Namun alih-alih selimut bulu angsa, Myra menarik kain tipis yang jadi alas tidurnya.
Hal itu membuatnya terkejut, sadar akan sekeliling. Melihat tembok tinggi penjara, beban di hatinya menyeruak kembali.
Oh, barusan saja ia mengerjapkan mata, berharap bahwa mimpi buruk yang ia alami hanya sekedar mimpi belaka. Mimpi di mana ia menyaksikan pamannya Godwin dirantai dan diseret oleh pria yang dia dambakan hampir setiap hari.
Myra perlahan mendekat ke sel penjara dan keterkejutannya bertambah. Tapi kali ini, kejutannya gembira.
Di balik jeruji sel lain, terlihat ayahnya—Duke Keenan.
Ayahku masih hidup! Pekik hatinya lega. Myra berdiri, ingin berlari mendekati, namun dia langsung terjatuh, tertahan rantai di kakinya.
Lututnya terbentur di lantai batu. Gadis itu lantas mengaduh kesakitan. Namun tak pantang menyerah, ia menatapi sekitar, berusaha mencari cara lain untuk berkomunikasi.
Untungnya ayahnya berada di sel seberang. Sedang melamun menghadap dinding, memikirkan nasib putrinya mungkin.
"Pssst, Ayah! Ayah!" bisik Myra keras. Tapi ayahnya tetap hanyut melamun. Gemas, Myra melempar kerikil kecil, membuat ayahnya tersentak. Ia tersadar dari lamunannya dan menoleh. Raut mukanya yang murung sontak berubah gembira ketika mendapati Myra.
"Myra!" serunya senang. "Myra! Benarkah itu kau, sayang?" Duke Keenan merangkak mendekati jeruji sel, mengusap matanya yang basah, terharu karena putri semata-wayangnya masih hidup. Myra mengangguk, dia juga terharu.
"Ayah baik-baik saja?
"Tentu saja. Ayah baik-baik saja, Bisa kau lihat."
Duke Keenan mengangkat tangannya yang terkunci rantai, terkekeh. Myra ikut tersenyum miris. Tawa mereka yang pedih mengudara di langit-langit penjara, sama-sama menertawakan nasib mereka yang malang kali ini.
"Astaga nak, ayah tidak bisa tidur kemarin, memikirkan nasibmu. Kau lari kemana saja?"
"Ke dalam hutan Taiga."
"Dan kemudian tertangkap?"
"Tidak, aku dikepung." Myra mengusap wajahnya, benci mengingat-ngingat keadaannya yang tidak berdaya tadi malam. "Awalnya aku tidak mau menyerah. Tapi, para pemberontak itu mengancam membunuhmu. Aku tidak punya pilihan lain, sehingga aku menyerahkan diri."
Ayahnya terdiam mendengar cerita itu. Hening mengudara beberapa saat.
"Apakah... ada yang terbunuh, Yah?" tanya Myra hati-hati.
Duke Keenan menarik napas. "Tidak ada, sejauh yang ayah tahu. Godwin bahkan masih dibiarkan hidup, cuma Panglima itu menghajarnya habis-habisan sebelum-"
[PRANG]
Pukulan keras tiba-tiba melayang ke jeruji sel Myra, membuat besinya berdenting nyaring dan membuat kepala pusing. Seorang penjaga bermuka keras memotong obrolan mereka.
"Tahanan dilarang saling berbicara!" desisnya sinis. Dia melototi Myra dan ayahnya, seolah keduanya adalah bagian dari komplotan penjahat kelas kakap, kemudian berdiri untuk berjaga di antara sel keduanya.
Myra menelan ludah, terkejut luar biasa.
Bagaimanakah? Selama sepuluh tahun terakhir hidupnya sebagai pewaris tahta, belum ada yang berani membentaknya senyaring itu.
Bahkan saat dia berdebat dan bersoal jawab, lawannya biasanya menunduk, tidak berani menatap matanya langsung.
Jika satu hari tanpa kekuasaan sudah membuat seorang penjaga penjara berani membentaknya, bagaimana dengan setahun? Ah, lupakan setahun. Bagaimana dengan seminggu? Tiga hari? Satu hari kalau dia beruntung bisa melihat hari esok.
Dengan diam, Myra melambai selamat tinggal ke ayahnya. Myra lantas merebahkan diri, di atas kain tipis yang memisahkan punggungnya dengan pasir kasar.
Bagaimana nasib selanjutnya? Bahkan untuk satu jam kedepan saja, Myra sungguh tidak tahu.
Namun, tanpa harus diumumkan sekalipun, di titik itu Myra tahu, bahwa sama seperti keluarganya, keberuntungan Mawar para Rosean sudah punah.
To be continued