Di sisi lain kota, di dalam ruang kantor yang biasanya rapi, kini tampak seperti kapal pecah.
PRANG!
Sebuah vas bunga mahal menghantam dinding dan hancur berkeping-keping.
Seorang pria sedang melampiaskan frustrasinya. Liam mengamuk. Meja kerjanya sudah bersih dari barang-barang yang kini berserakan hancur di lantai. Ia tidak lagi peduli pada nasib perusahaannya yang terikat kontrak, atau kerugian besar yang mungkin terjadi jika Damian membatalkan kerja sama sepihak.
Baginya itu tidak penting. Yang ada di kepalanya hanyalah bagaimana cara mendapatkan Alina kembali. Ia yakin seyakin-yakinnya, gadis pujaannya itu tidak mungkin mencintai pria tua seperti Damian—pria yang usianya lebih pantas menjadi pamannya.
"Tuan, tolong hentikan. Anda bisa melukai diri sendiri," ucap Jay, sekretarisnya, berusaha menenangkan. Namun ucapan itu bagaikan menyiram bensin ke dalam api.
Liam menoleh tajam, napasnya memburu. "Apa kau bilang? Kau mau cari mati, hah?!"
"T-tidak, Tuan. Bukan maksud saya begitu," jawab Jay gugup, mundur selangkah.
"Lalu apa? Kau mau melihatku diam saja seperti orang gila?!" bentak Liam lagi.
"Tentu saja tidak, Tuan."
"Lalu aku harus apa?!" Liam mencengkeram rambutnya sendiri, matanya menyalang penuh amarah menatap Jay.
Jay menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari jawaban yang aman. "Anda harus bersikap gentle, Tuan. Menarik hati seorang wanita, apalagi yang sudah menikah, harus dengan cara yang halus. Bukan dengan emosi seperti ini."
Semoga saranku benar. Kalau salah, bisa habis riwayatku hari ini, batin Jay cemas.
Perlahan, bahu Liam yang tegang mulai rileks. Ia menatap Jay dengan tatapan yang mulai berubah.
"Kurasa idemu benar, Jay. Bagaimana mungkin Alina mencintai pria tua itu? Aku sahabatnya, aku tahu dia wanita seperti apa. Dia tidak mungkin jatuh cinta semudah itu pada pria arogan seperti Damian. Kau tahu kenapa?" tanya Liam, matanya kini berbinar dengan harapan palsu yang ia bangun sendiri.
Astaga, kenapa tatapannya jadi seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan? Mana kutahu alasannya. Aku bukan Tuhan, aku cuma sekretaris, gerutu Jay dalam hati.
Namun mulutnya berkata lain. "Mungkin... karena Tuan Damian jauh lebih kaya dan berkuasa, Tuan?" jawab Jay asal, memancing reaksi.
"Tidak!" Liam langsung menyangkal keras. "Alina tidak mungkin seperti itu. Dia gadis polos dan baik. Dia tidak akan merendahkan harga dirinya hanya demi uang. Pendapatmu salah besar, Jay!"
Jay menahan napas. Salah lagi. Lalu aku harus jawab apa supaya dia tenang?
"Kemungkinan besar... Tuan Damian memaksa dan mengancam Nona Alina. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, dia bisa membuat siapa saja bertekuk lutut, kan?" ralat Jay cepat, mencoba masuk ke dalam logika bosnya.
Liam terdiam sejenak, lalu seringai tipis muncul di wajahnya.
"Hmm, kau benar. Pria tua itu memang licik. Demi apa yang dia inginkan, dia pasti menggunakan kekuasaannya. Dia pasti memaksa Alina menikah dengannya." Keyakinan Liam kembali pulih. Ia merasa kini memiliki misi mulia: menyelamatkan Alina.
"Lalu apa rencana Tuan selanjutnya?" tanya Jay hati-hati.
"Pantau terus dia. Cari tahu jadwalnya, dan laporkan padaku. Atur situasi seolah-olah kami bertemu secara tidak sengaja," perintah Liam dingin. Matanya menatap lurus ke depan, membayangkan wajah Alina.
"Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan." Jay menunduk hormat, bersyukur badai amarah itu telah berlalu.
Sementara itu, di kediaman mewah Damian.
Pintu utama terbuka pelan.
Di ruang tengah, tampak seorang wanita sedang duduk bersandar di sofa besar nan mewah. Sebuah buku ada di pangkuannya. Alina begitu larut dalam bacaannya hingga tidak menyadari ada sepasang mata elang yang sedang memperhatikannya dari ambang pintu.
Damian melangkah perlahan, langkahnya senyap di atas karpet tebal.
"Apa begini caramu menyambut suamimu?"
Suara bariton yang berat itu memecah keheningan.
Deg!
Alina tersentak kaget. Buku di tangannya hampir terjatuh saat ia mendongak dan mendapati Damian berdiri menjulang di hadapannya.
"M-maafkan saya, Pak. Saya tidak menyadari kehadiran Bapak," ucap Alina gugup. Ia segera menutup bukunya dan menunduk dalam.
Damian tidak menjawab. Ia melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa, tepat di sebelah tempat Alina bersandar tadi. Refleks, Alina segera bangkit dan hendak duduk di karpet lantai—posisi yang menurutnya lebih aman dan sopan untuk "orang numpang" sepertinya.
"Kemari," perintah Damian. Tangannya menepuk ruang kosong di sebelahnya di atas sofa.
Alina mematung. Tubuhnya kaku. Ia takut salah bertindak.
"Aku tidak suka mengulangi ucapanku. Duduk di sini sebelum aku berubah pikiran," ucap Damian dingin, ada nada ancaman halus di sana.
Tak mau memancing masalah, Alina pun menurut. Ia duduk di samping Damian dengan jarak yang cukup jauh, tubuhnya tegang seperti patung.
Damian menoleh, menatap profil samping wajah istrinya yang terlihat ketakutan.
"Apa begitu caramu memperlakukan suamimu? Mengabaikannya saat pulang kerja?"
"Hah?" Alina menoleh cepat, matanya membulat bingung. "Maaf, Pak. Sungguh, tadi saya terlalu fokus membaca buku jadi tidak dengar langkah Bapak. Saya tidak bermaksud mengabaikan..." Suaranya bergetar.
Tanpa Alina sadari, sudut bibir Damian sedikit terangkat. Melihat gadis itu panik dan gemetar karenanya memberikan kepuasan tersendiri. Namun ia segera menormalkan ekspresinya.
"Benarkah?" tanya Damian penuh selidik, wajahnya didekatkan sedikit ke wajah Alina.
"Benar, Pak! Kalau Bapak tidak percaya, ini buktinya," Alina menyodorkan buku yang tadi dibacanya dengan polos.
Dalam hati Alina merutuk. Kenapa dia bertanya? Bukannya tadi dia lihat sendiri aku sedang memegang buku? Dasar aneh.
Damian melirik buku itu sekilas, lalu bangkit berdiri. "Baiklah, kali ini aku percaya. Sekarang siapkan air hangat. Aku ingin mandi."
"Baik, Pak."
Tanpa membuang waktu, Alina segera berlari kecil menuju kamar mandi utama, bersyukur bisa lolos dari interogasi itu.
Huh, sepertinya aku sudah gila. Kenapa aku jadi penurut begini? Dia menyuruhku seperti pembantu dan aku langsung bergerak tanpa protes, batin Alina kesal sambil memutar keran bathtub. Dasar pria otoriter. Mentang-mentang kaya, dia pikir dia bisa mengatur napas orang lain juga.
Alina terus menggerutu dalam hati sambil menuangkan sabun cair ke dalam air hangat. Pikirannya sibuk memaki Damian, hingga ia tidak menyadari pintu kamar mandi yang sudah tertutup dan dikunci dari dalam.
"Apa keberanianmu hanya muncul saat di belakangku? Belum puas kau menggerutukiku di dalam hati?"
Suara itu terdengar sangat dekat. Tepat di belakang telinganya.
Deg!
Tubuh Alina membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
Mati aku. Apa dia bisa membaca pikiran? batin Alina horor.
Perlahan, dengan nyali yang menciut, Alina menoleh ke belakang.
Mata Alina terbelalak lebar. Mulutnya terbuka hendak menjerit, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Di hadapannya, Damian berdiri tanpa sehelai benang pun. Otot-otot tubuhnya yang kokoh terekspos jelas di bawah pencahayaan kamar mandi yang temaram.
"A-anda..." Alina memekik tertahan, wajahnya langsung merah padam.
Dengan cepat ia memutar tubuh dan menutup kedua matanya rapat-rapat dengan telapak tangan. "Maaf! Saya tidak tahu!"
Damian terkekeh rendah melihat reaksi panik itu. Dengan santai, ia melangkah melewati Alina dan masuk ke dalam bathtub yang sudah penuh busa.
"Apa kau akan terus berdiri mematung di situ dengan mata tertutup?" tanya Damian santai, seolah ketelanjangannya adalah hal paling wajar di dunia.
"S-saya permisi, Pak," cicit Alina, masih menutup mata, meraba-raba dinding hendak kabur.
Namun, belum sempat ia melangkah, sebuah tangan basah dan kuat mencengkeram pergelangan tangannya.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi?"
Satu tarikan kuat membuat Alina kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung dan jatuh terduduk di pinggiran bathtub, tepat di samping kepala Damian.
Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter.
Alina bisa merasakan hembusan napas hangat Damian menerpa kulit wajahnya. Aroma maskulin yang bercampur dengan uap sabun menguar, memenuhi indra penciumannya.
Mereka terdiam. Hening. Hanya suara gemericik air yang terdengar.
Damian menatap lekat wajah istrinya yang masih memerah. Perasaan aneh itu kembali muncul.
Kenapa aku merasa nyaman melihatnya sedekat ini? batin Damian bingung. Seharusnya hanya Liora yang bisa membuatku merasa begini. Tapi kenapa jantungku berdegup kencang hanya karena menarik tangan gadis kecil ini?
Di sisi lain, Alina merasa dadanya sesak. Jantungnya berdetak begitu kencang dan keras, sampai ia takut Damian bisa mendengarnya.
Ada apa denganku? batin Alina panik. Kenapa jantungku rasanya mau meledak? Apa aku sakit jantung karena terlalu sering kaget hari ini? Tidak... ini rasanya berbeda. Tubuhku terasa panas dingin. Kenapa aku justru gugup setengah mati dan bukannya kabur? Tuhan, tolong sadarkan aku.
Keduanya terjebak dalam tatapan yang sulit diartikan, berperang dengan ego dan perasaan asing yang mulai tumbuh tanpa permisi.