Setelah drama kecil di kamar mandi, Alina segera turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Para pelayan sebenarnya sudah melarang nyonya muda mereka untuk menyentuh peralatan dapur, namun Alina bersikeras. Ia butuh kesibukan untuk mengalihkan pikiran dari kejadian memalukan tadi. Selain itu, ia merasa melayani suaminya adalah satu-satunya cara ia bisa "membayar" keberadaannya di rumah mewah ini.
"Huft, akhirnya selesai," gumam Alina sambil menata piring. Ia tersenyum kecut melihat para pelayan yang menatapnya cemas. "Mereka berpikir terlalu jauh. Justru inilah tugasku. Di rumah ini, aku tak lebih dari penumpang gratis yang harus tahu diri."
"Apa kau akan melamun terus di situ?"
Suara bariton Damian memecah lamunan Alina. Pria itu sedang menuruni anak tangga dengan rambut yang masih sedikit basah, membuatnya terlihat lebih segar—dan berbahaya.
"Eh? Maaf, Pak. Saya tidak menyadari Bapak sudah turun," ucap Alina gugup. Ia buru-buru menarik kursi utama di ujung meja makan.
Damian duduk dengan anggun, menikmati pelayanan istrinya dalam diam. Namun, saat Alina hendak kembali ke kursinya sendiri, Damian menahannya dengan tatapan mata.
"Duduk di sini. Suapi aku," perintah Damian datar, menunjuk kursi di sebelahnya yang sudah digeser sangat dekat.
Alina melongo. "Hah?"
Apa pria ini masih waras? Biasanya dia selalu menjaga jarak dan bersikap dingin. Kenapa tiba-tiba manja begini? batin Alina bingung.
"Apa kau akan membiarkan suamimu ini kelaparan menunggu?" tanya Damian lagi, kali ini dengan alis terangkat sebelah, menantang. Ia sama sekali tidak peduli pada tatapan para pelayan yang menunduk menyembunyikan senyum.
Wajah Alina memerah padam. "Emm... baik, Pak."
Dengan tangan gemetar, Alina duduk dan mulai menyendokkan makanan. Ia menyuapi "bayi besar" itu dengan canggung. Sementara Damian menerima suapan demi suapan dengan tatapan yang tak lepas dari wajah istrinya. Ada kepuasan tersendiri melihat jemari lentik itu melayaninya, sebuah d******i kecil yang membuatnya merasa memiliki.
Meski usia pernikahan mereka baru seumur jagung, Damian mulai mengerti apa yang diinginkannya. Rasa posesif yang tumbuh itu nyata. Ia berjanji tidak akan melepaskan Alina, apalagi membiarkan pria manapun—terutama Liam—mendekatinya.
Mengenai kekasih masa lalunya... Damian belum mau memikirkannya. Jika wanita itu kembali suatu saat nanti, biarlah itu menjadi urusan nanti. Saat ini, egonya hanya ingin mempertahankan apa yang sah menjadi miliknya: Alina Margaretha.
Keesokan harinya, di gedung pencakar langit milik Bratama Group.
Liam tampak sibuk mempersiapkan berkas untuk rapat krusial dengan CEO DDR Group. Ini bukan sekadar rapat bisnis; ini adalah medan perang untuk menentukan harga dirinya di hadapan Damian.
"Tuan, apakah Anda yakin dengan keputusan ini?" tanya Jay ragu.
"Tentu saja. Jika pria tua itu tidak memutus kontrak ini, anggap saja itu keberuntungan," jawab Liam santai sambil merapikan dasinya.
"Tapi jika Tuan Damian membatalkan kontrak kerja sama, perusahaan kita akan mengalami kerugian besar, Tuan," Jay mengingatkan resiko fatal itu.
Liam menatap sekretarisnya tajam. "Apa kau meragukan kekayaanku, Jay? Jangan kau pikir hanya karena pria tua itu lebih berkuasa, lantas aku harus takut dan tunduk padanya. Aku akan memperjuangkan cintaku, berapapun harganya."
Jay menelan ludah. "Bukan begitu, Tuan. Tentu saja saya percaya pada Anda. Saya akan mendukung keputusan Anda sepenuhnya."
"Bagus. Jam berapa kita berangkat? Jangan sampai terlambat. Aku tidak mau memberi kesan buruk, meskipun dia rivalku."
Di jalanan kota yang padat, sebuah sedan mewah hitam melaju membelah kemacetan. Namun, suasana di dalam mobil itu terasa suram, tidak secerah cuaca pagi di luar.
Damian duduk di kursi belakang dengan wajah keruh. Pikirannya dipenuhi tanda tanya besar yang mengganggu ego prianya.
"Sam," panggil Damian tiba-tiba.
"Ya, Pak?" sahut Sam sambil tetap fokus menyetir.
"Menurutmu... apa aku kurang menarik?"
Sam nyaris menginjak rem mendadak mendengar pertanyaan itu.
Pertanyaan macam apa itu? Semua orang tahu Tuan Damian adalah definisi kesempurnaan fisik dan finansial, batin Sam heran. Ini pasti soal Nona Muda.
"Tentu saja tidak, Pak. Anda sangat menarik. Kharismatik, mapan, dan tampan. Tidak ada wanita yang bisa menolak pesona Anda," jawab Sam jujur.
Damian mendengus kasar, menyandarkan punggungnya. "Lalu kenapa gadis itu tidak menyukaiku? Bahkan dia bilang aku bukan tipenya. Dia lebih membela si b******k Liam itu."
Nada bicara Damian terdengar frustrasi, seperti seseorang yang baru pertama kali merasakan penolakan.
Ternyata benar dugaan saya. Anda mulai jatuh cinta, Tuan, batin Sam tersenyum tipis.
"Itu tidak mungkin, Pak. Mungkin... Nona Muda hanya belum menyadari pesona Bapak karena situasi pernikahan kalian yang mendadak," hibur Sam.
"Begitukah?"
"Saya yakin begitu. Hanya masalah waktu sampai Nona Muda bertekuk lutut."
Damian terdiam, namun tangannya merogoh tablet di sebelahnya. Ia kembali memutar video yang dikirimkan Hadi padanya kemarin. Rekaman CCTV di ruang tamu saat Liora melabrak Alina.
Mata Damian menajam saat mendengar suara Alina di video itu.
"...tuan Damian sendiri yang ingin menikahi saya, dan aku sangat menantikan hari di mana aku dilepaskan olehnya. Jika Nona Liora menginginkan hal itu, katakan padanya untuk segera menceraikan saya..."
Rahang Damian mengeras. Ia mematikan tablet itu dengan kasar.
"Aku tidak akan membiarkannya lari dariku," geram Damian rendah, namun penuh penekanan. "Beraninya dia berpikir untuk bercerai dan meninggalkanku demi wanita lain atau pria lain."
Sam melirik dari kaca spion, melihat kilatan obsesi di mata tuannya.
"Bukankah Nona Muda sudah terikat dengan Anda secara hukum, Pak? Hidupnya ada di tangan Anda. Sebagai suami, Anda memiliki hak penuh untuk melakukan apa saja terhadap Nona Muda untuk membuatnya tetap tinggal," pancing Sam hati-hati.
Damian menatap ke luar jendela, seulas senyum penuh arti terbit di bibirnya. Senyum seorang predator yang menyadari mangsanya tidak punya jalan keluar.
"Kau benar, Sam. Dia istriku. Milikku sepenuhnya."
Sam mengangguk pelan. Saya tahu arah pikiran Anda, Tuan. Dan sepertinya Anda memang belum 'mengikatnya' secara utuh di ranjang. Mungkin itu yang harus segera Anda lakukan.