"Selamat datang, Tuan," sapa Liam ramah, namun ada kilatan dingin di matanya. Ia dan Jay sudah menunggu cukup lama di ruang rapat privat itu.
"Hmm." Damian hanya bergumam singkat, jawaban yang sangat menjengkelkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Pria tua ini benar-benar arogan. Apa Alina tidak makan hati menghadapinya setiap hari? batin Liam kesal.
Damian duduk dengan santai di seberang Liam, sementara Sam berdiri tegap di belakangnya.
"Silakan duduk, Pak," ucap Jay basa-basi.
Damian menatap Liam dengan senyum miring yang penuh arti. "Sepertinya aku datang sedikit terlambat. Atau kau yang terlalu bersemangat? Aku jadi penasaran, apa yang membuatmu seantusias ini."
"Apa maksud Anda, Pak Damian?" tanya Liam pura-pura tidak mengerti.
"Kau terlalu bersemangat demi kontrak perusahaanmu... atau demi kesempatan bertemu suami dari wanita yang ingin kau rebut?" tembak Damian langsung.
Cih!
Liam berdecak pelan, tak lagi repot-repot menyembunyikan senyum sinisnya.
"Apa Anda pantas untuk wanita sebaik dia? Semua orang tahu Anda memiliki kekasih masa lalu yang belum selesai. Anda mengikat Alina dalam pernikahan tanpa cinta, sementara hati Anda masih tertinggal di tempat lain," sindir Liam tajam.
Kata-kata itu sukses menyulut emosi Damian. Rahangnya mengeras. "Kau tidak perlu ikut campur urusan rumah tanggaku."
"Tentu saja saya akan ikut campur jika itu menyakiti hati Alina. Dan camkan ini, Tuan Damian... saya akan pastikan untuk merebut Alina dari Anda."
Damian menatap lurus ke mata Liam, aura intimidasi menguar kuat darinya. "Jika kau berani menyentuhnya, maka perusahaanmu yang akan menanggung akibatnya. Aku bisa menghancurkan BD Group dalam semalam."
Liam tertawa kecil, tidak gentar sedikitpun. "Ancaman klise. Jika Tuan memang benar mencintainya, bersainglah secara sehat. Jangan gunakan kekuasaan Anda untuk menekan saya."
Damian terdiam sejenak. Kalimat "jika benar mencintainya" itu mengusik egonya. Apakah dia mencintai Alina? Ataukah ini hanya obsesi kepemilikan?
Bocah ini cerdik juga. Dia menantang egoku, batin Damian.
"Baiklah. Kau cukup punya nyali," ucap Damian dingin. "Kerja sama ini kita lanjutkan. Tapi ingat, jika kau bertindak di luar batas, aku tidak akan segan menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya."
"Deal," jawab Liam mantap sambil menyodorkan tangan.
Damian menjabat tangan itu dengan cengkeraman kuat, menyalurkan peringatan tanpa kata.
Setelah pertemuan yang menguras emosi itu, mobil Damian berhenti di depan mansion mewahnya. Masih siang hari, tapi Damian memutuskan pulang.
"Kau kembalilah ke kantor. Urus sisanya," titah Damian pada Sam.
"Tapi Pak, sore ini ada pertemuan dengan delegasi klien dari Eropa," Sam mengingatkan dengan cemas.
"Kau gantikan aku. Jika tidak bisa diwakilkan, batalkan saja. Hari ini aku tidak ingin diganggu," tegas Damian, lalu keluar dari mobil tanpa menoleh lagi.
Sam menghela napas panjang, menatap punggung bosnya yang menjauh. Hah... habislah aku. Sepertinya Tuan Damian benar-benar sedang 'sakit cinta'.
Ceklek.
Pintu kamar utama terbuka.
Damian mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang sunyi. "Ke mana dia?"
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Sosok yang dicarinya muncul. Alina mengenakan dress rumahan selutut bermotif bunga kecil yang sederhana namun manis. Rambut panjangnya basah, meneteskan air ke bahu dan leher jenjangnya.
Pemandangan itu begitu sederhana, namun entah kenapa membuat tenggorokan Damian tercekat. Matanya terpaku pada tetesan air yang mengalir turun, membasahi sedikit bagian d**a gaun Alina.
Glek.
Damian menelan ludah. Sial. Kenapa dia terlihat menggoda sekali? batinnya, merasakan dorongan hasrat yang tiba-tiba bangkit.
Alina berjalan menuju meja rias, sama sekali tidak menyadari kehadiran suaminya. Ia mulai mengeringkan rambut dengan hairdryer.
Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang.
"Apa kau berniat menggodaku siang-siang begini, hm?" bisik Damian tepat di telinga Alina.
"Ah!" Alina terlonjak kaget. Tubuhnya menegang. "B-bapak? Kapan Bapak pulang?"
Alina berusaha melepaskan pelukan erat itu dengan panik, membuat Damian kesal. Pria itu melepaskan pelukannya kasar dan memutar tubuh Alina agar menghadapnya.
"Kenapa? Kau tidak suka dipeluk suamimu sendiri?" tanya Damian sinis.
"B-bukan begitu, Pak. Saya hanya kaget..." cicit Alina sambil menunduk, takut melihat kilatan di mata Damian.
"Sudahlah. Kau merusak suasana hatiku," dengus Damian. Ia melangkah pergi menuju kamar mandi, membanting pintu pelan.
Alina mengelus d**a, bingung. Apa salahku? Datang-datang marah. Dasar pria moody.
Satu jam berlalu. Damian tak kunjung keluar dari kamar mandi. Alina mulai gelisah. Ia sudah janji akan menelepon Silvi sore ini, tapi ia takut Damian marah jika ia sibuk sendiri.
Akhirnya, pintu kamar mandi terbuka.
Damian keluar hanya dengan handuk melilit pinggang. Tubuh atletisnya yang basah terekspos sempurna. Butiran air menempel di d**a bidang dan perut six-pack-nya yang terbentuk sempurna.
Alina terpaku. Matanya seakan punya kehendak sendiri, menelusuri setiap inci tubuh suaminya tanpa kedip.
Ya Tuhan... kenapa dia harus seseksi ini? Ini penistaan mata... atau anugerah? batin Alina, merutuki otaknya yang mendadak traveling.
"Air liurmu hampir tumpah. Tutup mulutmu," tegur Damian datar, namun ada nada geli dalam suaranya. "Aku tahu aku mempesona, tapi jangan menatapku seperti mau memakan ku."
Alina tersadar dan langsung membekap mulutnya. Wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Ia segera memalingkan wajah.
"M-maaf! Saya... saya bantu ambilkan baju Bapak," ucap Alina panik, mencoba mengalihkan perhatian.
Damian melangkah mendekat, menghalangi jalan Alina. "Wah, sepertinya kau sudah tidak sabar ingin menyentuhku. Baiklah, karena aku suami yang baik, aku izinkan kau menyentuhku."
"T-tidak, Pak! Terima kasih!" tolak Alina cepat, matanya terpaku pada lantai, tidak berani mendongak.
"Kau berani menolakku?" Suara Damian merendah, berbahaya.
Alina menggigit bibir. Serba salah! Disentuh salah, menolak salah.
"Kenapa diam? Cepat lakukan," perintah Damian.
"Lakukan apa, Pak?" tanya Alina bingung dan frustrasi.
Damian meraih tangan Alina, lalu menuntunnya menyentuh d**a kirinya yang berdetak tenang namun kuat. "Cium aku di sini."
Mata Alina membelalak. "Hah?"
"Aku tidak suka mengulangi ucapanku." Tatapan Damian menajam.
Dengan tangan gemetar dan jantung berdegup kencang, Alina memajukan wajahnya ragu-ragu. Ia memejamkan mata dan mengecup sekilas d**a bidang suaminya. Kulit Damian terasa hangat dan beraroma maskulin yang memabukkan.
Cup.
Damian tersenyum puas. Ia bisa merasakan kelembutan bibir Alina di kulitnya, menimbulkan sensasi menyengat yang menyenangkan.
"Bagus. Karena kau menyukainya, mulai sekarang itu tugasmu setiap hari," ucap Damian santai sembari berjalan menuju ruang ganti, meninggalkan Alina yang masih mematung dengan wajah semerah tomat.
Dasar gila! Siapa yang menyukainya?! jerit batin Alina. Namun jauh di lubuk hati, ia tak bisa memungkiri debaran aneh yang tertinggal di dadanya.
Malam harinya, suasana kamar utama terasa tenang dengan penerangan lampu tidur yang temaram.
Alina duduk di tepi ranjang, memijat kaki Damian yang sedang berbaring santai sambil memejamkan mata. Ini adalah salah satu cara Alina "membayar" kebaikan Damian hari ini, meski sebenarnya jantungnya tak pernah bisa tenang jika harus bersentuhan fisik dengan suaminya itu.
Merasa suasana hati Damian sedang cukup baik, Alina memberanikan diri.
"Pak..." panggilnya pelan.
"Hmm?" gumam Damian tanpa membuka mata.
"Bolehkan besok saya izin keluar sebentar? Saya ingin bertemu teman," pinta Alina hati-hati.
Mendengar permintaan itu, mata Damian perlahan terbuka. Ia menatap Alina lurus-lurus, membuat pijatan tangan Alina terhenti seketika.
Tanpa berkata kasar, Damian meraih pergelangan tangan Alina. Bukan cengkeraman yang menyakitkan, namun genggaman yang tegas dan tak terbantahkan. Dengan satu tarikan pelan namun bertenaga, ia membuat tubuh mungil Alina kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam dekapannya.
"Ah!" pekik Alina tertahan saat wajahnya menubruk d**a bidang Damian.
Kini posisi mereka berubah. Alina berbaring di kasur dengan Damian yang menopang tubuh di atasnya, mengurung wanita itu di antara kedua lengannya.
"Apa kau sudah bosan berduaan denganku sampai ingin pergi keluar, hm?" tanya Damian. Suaranya rendah dan serak, terdengar berbahaya namun memabukkan di telinga Alina.
Alina menelan ludah, matanya bergerak gelisah menatap manik mata Damian yang begitu intens. "T-tidak, Pak... bukan begitu. Saya hanya—"
"Sshhh."
Damian menempelkan jari telunjuknya di bibir Alina, menghentikan ucapan istrinya. Tatapannya turun, terpaku pada bibir ranum yang sedikit terbuka itu.
"Jangan meminta pergi dariku, Alina. Karena jawabannya akan selalu tidak," bisik Damian tepat di depan wajahnya.
Belum sempat Alina memproses kalimat itu, Damian menunduk. Ia tidak melakukannya dengan kasar, melainkan dengan perlahan, memberi waktu bagi Alina untuk menyadari apa yang akan terjadi.
Saat bibir mereka bertemu, Damian tidak menyerangnya. Ia melumat bibir Alina dengan lembut namun menuntut, sebuah ciuman dominan yang seolah menegaskan kepemilikan. Alina yang awalnya terkejut, perlahan memejamkan mata, tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja tidur Damian saat merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.