Digoda

947 Words
"Apa kau menyukainya?" bisik Damian di sela ciuman mereka. Napasnya yang hangat menerpa wajah Alina yang sudah merah padam. Alina membeku. Dia... dia mengambil ciuman pertamaku, batinnya, antara ingin menangis dan perasaan asing yang mendadak meletup di dadanya. "Lihat wajahmu ini... merah sekali. Apa kau sungguh menyukainya?" goda Damian, bibirnya menyapu daun telinga Alina, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat. Sensasi menggelenyar aneh menjalar hingga ke ujung kakinya. "T-tidak, Pak," jawab Alina terbata-bata. Damian terkekeh rendah. "Baiklah. Karena aku sedang berbaik hati, mulai sekarang kau boleh melakukan apa saja pada tubuhku. Kau boleh menyentuhku sesukamu." Dasar pria gila! Jelas-jelas dia yang menciumku duluan tadi. Kenapa sekarang dia bicara seolah-olah aku yang menginginkannya? gerutu Alina dalam hati. "Tidak, Pak," tolak Alina cepat sambil menggelengkan kepala. Damian menghentikan gerakannya. Ia menarik wajahnya sedikit menjauh untuk menatap mata Alina. Tidak ada bentakan, namun tatapan matanya berubah tajam dan mengintimidasi. "Apa maksudmu 'tidak'? Kau menolak kebaikanku?" tanyanya dengan suara rendah yang berbahaya. Nyali Alina seketika menciut. Aura dominan Damian membuatnya tak berkutik. "B-bukan begitu, Pak..." cicit Alina, matanya menatap memohon. "Lalu?" desak Damian. "S-saya... saya akan menyentuh Bapak setiap hari," ucap Alina akhirnya, menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Damian tersenyum puas. Anak pintar. Aku akan buat kau jatuh cinta padaku, Alina. Dengan begitu, tidak akan ada satu orang pun yang bisa merebutmu dariku. Kau milikku. "Apa kau berencana menggodaku dengan wajah polosmu itu, hm?" tanya Damian lagi, jarinya mengangkat dagu Alina. "Tidak, Pak!" jawab Alina panik. "Baiklah, aku percaya." Damian melepaskan kungkungannya dan duduk di tepi ranjang, menarik Alina ke dalam dekapannya. Kali ini pelukannya terasa lebih hangat, bukan menuntut. "Karena kau sudah menurut dan suasana hatiku sedang baik, aku akan mengabulkan satu keinginanmu hari ini. Katakan sekarang sebelum aku berubah pikiran." Alina terdiam dalam dekapan suaminya. Pikirannya berkecamuk. Kenapa jantungku berdebar begini saat dipeluk dia? Apa aku mulai jatuh hati? Tidak... tidak mungkin. Aku harus membentengi hatiku. Pria ini penuh teka-teki. "Hei, kenapa melamun? Kalau tidak ada, aku batalkan tawaran—" "Jangan, Pak!" potong Alina cepat. Ia mendongak menatap Damian. "Saya... saya ingin izin bertemu sahabat saya, Pak." Mata Damian menyipit. Sahabat yang mana? Awas saja kalau dia bertemu bocah tengil Liam itu lagi. "Siapa sahabatmu? Jika itu laki-laki, jangan harap aku mengizinkanmu melangkah keluar dari pintu rumah ini," ucap Damian datar, posesifnya kembali muncul. "Dia perempuan, Pak. Namanya Silvi," jawab Alina lembut, berusaha meyakinkan. Damian menatap mata jernih istrinya, mencari kebohongan di sana. Nihil. Kenapa dia cepat sekali berubah? Tadi manis, sekarang dingin lagi. Dasar pria moody, batin Alina bingung. "Baiklah. Tapi kau harus pulang tepat waktu. Sebelum matahari terbenam, kau sudah harus ada di rumah," putus Damian. "Terima kasih, Pak! Bapak baik sekali!" Tanpa sadar, saking senangnya, Alina memeluk leher Damian erat-erat. Damian terpaku sesaat mendapat pelukan spontan itu. Perlahan, senyum tulus terbit di bibirnya. Rasanya... menyenangkan. Kau tidak akan bisa lari lagi dariku, Istri Kecil, batin Damian. Menyadari kesalahannya, Alina buru-buru melepaskan pelukan itu. "Eh, maaf, Pak..." Siang harinya, di sebuah restoran di pusat kota. Seorang wanita tampak mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dengan tidak sabar. "Ke mana sih Alina? Katanya sebentar lagi sampai. Bisa jamuran aku menunggu di sini," gerutu Silvi, sahabat Alina. Tak lama kemudian, lonceng pintu restoran berbunyi. Seorang wanita muda masuk dengan mengenakan dress selutut bermotif bunga yang sederhana namun manis. Penampilannya yang segar dan natural membuat beberapa pengunjung pria menoleh kagum. Cantik sekali, batin beberapa orang yang melihatnya. Aura Alina yang polos namun anggun sangat kontras dengan pengunjung lain yang rata-rata berpenampilan glamor. "Hai! Aku di sini!" lambaikan Silvi. Alina tampak celingukan sebentar sebelum menemukan keberadaan sahabatnya. Ia tersenyum lega dan menghampiri meja Silvi. "Maaf ya, Vi, aku terlambat," ucap Alina merasa bersalah sambil duduk. "Iya, tidak apa-apa. Tumben sekali? Biasanya kamu yang paling on time. Memangnya tadi dari mana?" tanya Silvi penasaran. "Aku... harus izin dulu sama suamiku. Prosesnya agak alot," jawab Alina jujur. Mata Silvi berbinar. "Astaga, aku sampai lupa sahabatku ini sudah jadi istri orang. Pasti Pak Damian sangat mencintaimu ya, sampai dia seposesif itu tidak membiarkanmu pergi." Silvi membayangkan betapa romantisnya pernikahan Alina bak drama Korea. Sementara Alina yang sedang minum air putih langsung tersedak mendengar ucapan itu. Uhuk! Uhuk "Eh, kamu kenapa, Al? Kamu sakit?" tanya Silvi panik. Alina menepuk dadanya, berusaha meredakan batuknya. "Aku... aku tidak apa-apa kok. Cuma kaget saja." Cinta apanya? Dia menikahiku mungkin hanya agar bisa punya mainan di rumah, batin Alina miris. "Ya sudah, ayo kita pesan makan. Aku lapar sekali menunggu Ibu Presdir kita ini," canda Silvi. Alina hanya memutar bola matanya malas. "Jangan panggil begitu. Pesananku seperti biasa ya." Sambil menunggu makanan, mereka berbincang ringan. Silvi dengan antusias menceritakan gosip kantor tempat mereka dulu sering bersama (sebelum Alina menikah). "Al, kau tahu tidak? Di kantor ada sekretaris baru, lho," cerita Silvi. "Oh ya? Aku tidak tahu," jawab Alina santai. "Lho? Apa suamimu tidak cerita? Sekretaris itu kan bekerja langsung dengan Pak Damian." Aku tidak peduli, batin Alina. "Mungkin Mas Damian lupa memberitahu. Kami jarang bicara soal pekerjaan," jawab Alina sambil tersenyum tipis untuk menutupi kenyataan bahwa komunikasi mereka memang minim. "Wah, pasti Pak Damian tidak mau membebanimu dengan urusan kantor karena dia sangat mencintaimu," simpul Silvi lagi sambil terkekeh. Alina hanya tersenyum kecut. Kalau kau tahu alasannya menikahiku, kau tidak akan bilang begitu, Vi. Waktu berlalu cepat. Langit di luar mulai berubah warna menjadi jingga. Alina melirik jam tangannya dan terlonjak kaget. "Astaga! Vi, ayo kita pulang. Aku takut suamiku marah kalau aku belum sampai di mansion saat gelap," ucap Alina panik, teringat ancaman halus Damian tadi. "Dasar. Aku yang mengajak, kau yang buru-buru pulang," gerutu Silvi, namun ia tetap bangkit. "Maaf ya, lain kali kita sambung lagi!" pamit Alina seraya bergegas pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD