Pengkhianat

899 Words
"Apa kau mulai berani membantahku sekarang, hm?" Suara berat itu langsung menyambut Alina. Damian duduk di sofa tunggal dengan kaki menyilang, sorot matanya tajam menusuk, seolah sudah menunggu mangsa sejak tadi. Deg! Mati aku, batin Alina. "M-maaf, Pak," cicit Alina, kepalanya tertunduk dalam. "Kemarilah." Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Alina melangkah mendekat dengan patuh. "Duduk di sini. Ceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Kau tahu aku paling benci dikhianati dan dibohongi," ucap Damian dingin, setiap katanya penuh penekanan. Alina duduk di tepi ranjang dengan gelisah. "Tadi saya hanya makan siang bersama Silvi dan menemaninya berkeliling sebentar, Pak. Sungguh, tidak ada yang lain." Damian menatapnya lama, mencari kebohongan. "Mulai sekarang, kau tidak kuizinkan keluar tanpa pengawasanku atau Sam." Mata Alina membelalak. "Tapi Pak, di kontrak—" "Jangan membantah," potong Damian cepat. Ia bangkit dari duduknya. "Cepat turun. Kita makan malam." Damian melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Alina yang bengong. Apa dia menungguku untuk makan malam? batin Alina. Seketika wajahnya memanas. Ah, tidak mungkin. Dia cuma lapar dan butuh pelayan untuk menuangkan air minumnya. Jangan ge-er, Alina. Makan malam berlangsung hening. Hanya denting sendok dan garpu yang terdengar di ruang makan yang terlalu luas itu. "Besok aku akan pergi ke luar kota. Ada inspeksi mendadak ke anak perusahaan," ucap Damian memecah keheningan. Alina tersentak. "Hah? Bapak mau pergi?" "Kenapa? Kau kaget atau senang?" sindir Damian. "Kau tetap di rumah. Jika butuh sesuatu, katakan pada Hadi." "Apa saya boleh menginap di rumah orang tua saya selama Bapak pergi?" tanya Alina hati-hati, melihat celah kebebasan. "Hmm." Damian bergumam tidak jelas, namun ekspresinya tidak menolak. "Apa itu artinya boleh, Pak?" desak Alina. "Aku di sana selama satu minggu. Tapi aku akan usahakan pulang lebih awal agar kau tidak mati menahan rindu padaku," ucap Damian dengan tingkat kepercayaan diri setinggi langit. Alina menahan diri untuk tidak memutar bola mata. Siapa juga yang akan rindu pada pria dingin dan narsis sepertimu? Umur sudah kepala tiga tapi kelakuan seperti remaja puber, umpatnya dalam hati. "Kenapa diam? Kau pasti mencemaskanku, kan?" goda Damian, tangannya terulur mengusap puncak kepala Alina. Alina memaksakan senyum manis yang kaku. "Iya, Pak. Cepatlah kembali. Saya pasti akan s-sangat merindukan Bapak." Puas kau sekarang? batin Alina kesal. Damian tersenyum tipis, jelas menikmati kebohongan manis istrinya itu. Time skip... Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa pernikahan mereka sudah berjalan sepuluh bulan. Hubungan mereka aneh namun stabil. Damian terus memaksakan "cinta" dengan caranya yang posesif dan otoriter, memanjakan Alina dengan materi namun mengikatnya dengan aturan. Sementara Alina, perlahan mulai terbiasa—atau mungkin pasrah—dengan drama rumah tangga ini. Ia belajar memainkan perannya sebagai istri penurut agar Damian senang, meski hatinya masih bertanya-tanya tentang tujuan akhir pernikahan ini. Di sisi lain, Liam masih diam. Ia belum bergerak agresif untuk merebut Alina. Ia memilih menunggu momen yang tepat, saat Damian lengah atau saat Alina benar-benar sudah muak. Menunggu harimau tidur adalah strategi terbaik, pikirnya. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Badai menghantam DDR Group. "Aku mau kau menemukan pengkhianat itu hari ini juga, Sam!" bentak Damian. Suasana kantor pusat DDR Group mencekam. Berkas rahasia tentang tender proyek pemerintah bocor ke pihak lawan. "Baik, Pak," jawab Sam sigap, wajahnya tak kalah tegang. BRAK! Damian menggebrak meja kerjanya. "b******k! Siapa yang berani bermain api denganku? Aku pastikan dia tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan di manapun seumur hidupnya." Tok... Tok... "Masuk," perintah Damian dingin, berusaha mengontrol emosinya. Lexa, sekretaris senior, masuk dengan wajah pucat. "Permisi, Pak. Ini ada surat pengunduran diri mendadak dari Marsha." Damian mengernyit. "Marsha? Asisten barumu itu?" "Benar, Pak." Kecurigaan langsung menyergap benak Damian. Di saat perusahaan kena masalah kebocoran data, karyawan baru tiba-tiba resign mendadak? Terlalu kebetulan untuk diabaikan. "Apa alasannya?" "Dia bilang harus pulang kampung mengurus ibunya yang sakit keras, Pak." "Alasan klasik," desis Damian. "Kau boleh keluar." Sepeninggal Lexa, ponsel Damian berdering. Sam. "Katakan." "Pak, saya sudah menemukan jejak digital pelakunya." "Siapa? Cepat katakan!" "Kecurigaan Anda benar. Akses login yang digunakan untuk menyalin data itu milik Marsha. Dan rekaman CCTV koridor server room menunjukkan dia masuk di luar jam kerja." "Sialan!" umpat Damian. "Cari dia. Seret dia ke hadapanku sekarang juga!" "Itu masalahnya, Pak. Marsha sudah menghilang. Dia check-out dari apartemennya kemarin sore dan jejaknya terputus. Sepertinya ada pihak profesional yang membantu pelariannya dengan menyamarkan identitasnya." Damian memijat pelipisnya yang berdenyut. Ini bukan pencurian biasa. Ini terencana dan didukung orang dalam atau pihak ketiga yang kuat. "Panggil Leo," titah Damian datar. Leo. Dia bukan karyawan biasa. Pemuda 25 tahun itu adalah kartu As milik Damian. Dulu, Damian menemukannya sebagai remaja 16 tahun yang kabur dari panti asuhan, hidup menggelandang namun memiliki otak jenius. Damian membiayai hidup dan pendidikannya hingga ke luar negeri. Kini, Leo adalah mahasiswa S2 di Negara W sekaligus hacker jenius yang bekerja di bayang-bayang untuk mengamankan kepentingan digital Damian. Di belahan dunia lain, di sebuah apartemen yang penuh dengan layar monitor. "Halo," sapa suara riang dari seberang telepon. "Tuan Leo, cepatlah kembali ke Indonesia. Tuan Damian membutuhkan Anda sekarang," ucap Sam tanpa basa-basi. "Hei, santai sedikit, Paman Sam! Aku baru saja mau—" Tutt. Sambungan diputus sepihak. Leo menatap ponselnya dengan wajah cemberut. "Hah... selalu saja begini. Dasar kanebo kering. Kenapa sih aku dikelilingi pria-pria kaku dan dingin? Si Bos Dingin dan Si Sekretaris Robot. Nasib... nasib." Meski menggerutu, tangan Leo bergerak cepat di atas keyboard, memesan tiket penerbangan tercepat ke Indonesia. Jika Damian memanggilnya pulang, artinya ada masalah besar yang tak bisa diselesaikan dengan cara legal biasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD