“Selamat atas pernikahannya, Pak Damian,” ucap Liam. Namun, tatapan matanya tidak tertuju pada Damian, melainkan terkunci rapat pada sosok gadis di samping sang CEO.
‘Liam... dia datang,’ batin Alina cemas. Ia menggelengkan kepalanya samar, memberikan kode lewat sorot mata agar sahabatnya itu tidak mengatakan hal bodoh tentang perasaan atau hubungan masa lalu mereka.
Damian yang peka langsung menangkap gelagat aneh itu. Ia melirik sinis. “Oh, senang bertemu denganmu, Pak Liam. Terima kasih telah memenuhi undangan saya,” ucapnya dingin, penuh intimidasi.
“Tentu, Pak. Dengan senang hati saya memenuhi undangan Anda,” balas Liam tak kalah dingin, matanya kembali beralih pada Alina.
‘Apa mereka saling mengenal? Sepertinya ada yang mereka tutupi dariku,’ batin Damian curiga. Insting kepemilikannya terusik.
“Hai, Lin. Aku tidak menyangka sekarang kau sudah menjadi Nyonya Damian. Semoga kau bahagia,” ucap Liam dengan senyum yang dipaksakan, meski matanya menyiratkan luka yang dalam.
“Aku baik, Li. Terima kasih sudah datang,” jawab Alina lirih sambil tersenyum kaku.
“Tentu saja. Kau kan sahabatku,” tekan Liam pada kata 'sahabat'.
‘Sahabat? Hah, menarik. Mana ada sahabat yang menatap sahabatnya sendiri dengan tatapan memuja seperti itu? Aku jadi ingin mempermainkannya,’ batin Damian menyeringai dalam hati. Rasa ingin mendominasi muncul begitu saja.
Tiba-tiba, Damian merangkul pinggang Alina lebih erat dan mencondongkan tubuhnya.
“Sayang, apa kau lelah? Sebaiknya kita segera ke kamar dan beristirahat,” ucap Damian dengan nada yang dibuat selembut mungkin, penuh penekanan yang ambigu.
Alina membulatkan matanya. Jantungnya berdegup kencang mendengar kata 'Sayang' keluar dari mulut pria dingin itu. Ia tahu itu hanya sandiwara, tapi efeknya tetap saja mengguncang.
‘Sialan!’ umpat Liam dalam hati. Hatinya serasa dibakar api cemburu mendengar kode implisit bahwa mereka akan menghabiskan malam pertama.
“Baiklah. Kalau begitu saya pamit. Masih ada urusan yang harus saya kerjakan,” pamit Liam kaku. Ia tidak sanggup berlama-lama di sana. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah pergi dengan bahu tegang.
Sepeninggal Liam, Alina langsung menatap suaminya. “Apa maksud Bapak bicara seperti itu?” tanyanya pelan namun menuntut.
Wajah Damian kembali datar seketika. “Tidak ada. Jangan berharap lebih. Dan ingat, jangan pernah berani mencintaiku.”
“Saya cukup tahu diri, Pak. Saya di sini hanya untuk membayar utang saya,” jawab Alina sambil menunduk, menahan rasa sesak di dadanya.
“Baguslah kalau kau sadar diri. Jadi aku tidak perlu repot-repot mengingatkanmu lagi.”
Tak lama kemudian, seorang gadis berlari kecil menghampiri pelaminan dengan antusias.
“Alina! Astaga, aku sangat merindukanmu!” seru gadis itu, Silvi, yang langsung memeluk Alina erat tanpa mempedulikan keberadaan CEO menyeramkan di sebelahnya.
“Ehem.”
Deheman berat itu seketika menyadarkan Silvi. Ia melepaskan pelukannya dan menatap ngeri pada bos besarnya.
“Eh... ma-maafkan saya, Pak. Sungguh, saya terlalu senang sampai lupa diri,” ucap Silvi gugup, takut dipecat di tempat.
“Hmm,” gumam Damian malas.
“Silvi! Aku senang sekali kau hadir. Kau datang sendiri?” tanya Alina, mencoba mencairkan suasana.
“Tentu saja aku hadir untuk sahabatku! Apa kau lupa kalau aku ini jomblo sejati?” canda Silvi sambil terkekeh.
“Dasar kamu ini,” balas Alina ikut tertawa.
Pesta akhirnya usai. Tamu undangan perlahan meninggalkan ballroom.
Setelah acara selesai, alih-alih mengajak istrinya pulang bersama, Damian justru bersiap pergi ke tempat lain.
“Sam, kau antarkan gadis itu ke mansion,” titah Damian pada sekretarisnya.
“Baik, Pak,” jawab Sam patuh.
Damian melenggang pergi begitu saja menemui beberapa rekan bisnisnya untuk pesta lanjutan di klub malam, meninggalkan Alina yang berdiri bingung dan kecewa.
“Nona, mari saya antar pulang ke mansion Bapak,” ajak Sam sopan.
“Eh? B-baiklah, Pak Sam,” jawab Alina kaget, baru menyadari ia ditinggal sendirian.
Perjalanan menuju mansion terasa sunyi. Alina terlalu lelah untuk bicara, dan Sam bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.
Tak lama, mobil mewah itu memasuki gerbang besi raksasa. Alina menatap takjub bangunan megah di hadapannya yang diterangi lampu-lampu taman yang indah.
‘Apakah ini rumah? Ah, bahkan ini lebih mirip istana. Sungguh beruntung wanita yang menikah dengan si Beruang Kutub itu... kecuali diriku yang malang ini,’ batin Alina tersenyum miris.
Begitu turun dari mobil, seorang pria paruh baya berseragam rapi menyambutnya bersama beberapa pelayan.
“Selamat datang, Nona Muda,” sapa pria itu ramah.
“Selamat malam, Pak,” balas Alina canggung.
“Nona, perkenalkan ini Pak Hadi, kepala pelayan di rumah ini,” jelas Sam.
“Suatu kehormatan melayani Anda, Nona. Jika Nona Muda membutuhkan sesuatu, Nona bisa memanggil saya kapan saja,” ucap Pak Hadi tulus.
“Terima kasih, Pak Hadi.”
“Mari Nona, saya antar ke kamar Tuan Muda,” ajak Pak Hadi.
Alina mengikuti langkah kepala pelayan itu masuk ke dalam "sangkar emas" barunya. Sementara itu, Sam kembali masuk ke mobil dan melesat pergi menyusul bosnya.
Di sebuah klub malam eksklusif, dentuman musik dan lampu remang-remang menemani para pebisnis yang sedang bersantai.
“Pak Damian, mengapa Anda berada di sini di malam pengantin Anda?” tanya salah satu rekan bisnis, Pak Handoko, dengan nada menggoda.
“Apa kau berniat berganti profesi menjadi wartawan gosip, Pak Handoko?” tanya Damian sinis, tatapannya tajam.
Glek. Pak Handoko menelan ludahnya kasar.
“Tentu saja tidak, Pak,” jawabnya gugup.
Seorang wanita berpakaian minim datang membawakan minuman. “Ini minumannya, Tuan.”
Damian menerima gelas itu, namun saat wanita itu mencoba menyentuh lengannya, Damian menepisnya kasar. Ia benci disentuh wanita sembarangan.
Tak lama kemudian, Sam muncul di tengah keramaian.
“Sam, apa gadis itu sudah sampai dengan selamat?” tanya Damian tanpa menoleh.
“Sesuai perintah Anda, Pak. Nona Alina sudah beristirahat di mansion,” lapor Sam.
Damian meneguk minumannya dalam sekali teguk. Ia sengaja menghabiskan waktu di sini karena enggan pulang dan menghadapi situasi canggung dengan istri barunya.
Sementara itu, di sebuah ruang kerja pribadi yang mewah milik David.
Pria paruh baya itu menyesap cerutunya, wajahnya tampak licik di balik kepulan asap.
“Gun, apa kau sudah menyusupkan mata-mata kita ke perusahaan Damian?” tanya David pada asistennya.
“Sudah, Pak. Akan lebih mudah bagi kita untuk menghancurkan mereka dari dalam sekarang,” lapor Gun.
“Bagus. Aku akan bermain-main terlebih dahulu. Biarkan dia menikmati waktu singkat dengan istri barunya,” ucap David sambil menyeringai jahat.
“Saya rasa... Damian hanya mempermainkan wanita yang kini menjadi istrinya itu, Pak. Pernikahan itu terlihat tidak berlandaskan cinta,” analisis Gun.
David tertawa kecil. “Sudah kuduga. Kelemahan pria seperti Damian adalah arogansinya sendiri. Kita lihat saja nanti.”
Pukul 02.00 dini hari.
Sebuah mobil berhenti di depan lobi mansion. Damian turun dengan langkah sedikit gontai, diikuti Sam yang selalu setia. Wajah Damian datar dan dingin, seperti biasa.
“Selamat datang, Pak,” sapa Pak Hadi yang masih terjaga menyambut tuannya.
“Apa dia sudah tidur?” tanya Damian tanpa basa-basi.
“Sepertinya Nona Muda sudah tidur, Pak,” jawab Pak Hadi. “Apa Bapak akan mandi sekarang? Biar saya siapkan air hangat.”
“Tidak perlu. Kau pergilah istirahat.”
“Baik, Pak.” Pak Hadi membungkuk hormat lalu undur diri.
“Kau juga pulanglah, Sam.”
“Kalau begitu saya permisi, Pak. Istirahatlah,” ucap Sam, lalu pergi meninggalkan mansion.
Damian menaiki tangga menuju kamar utamanya. Ia membuka pintu perlahan.
Cklek.
Kamar itu luas dan dingin. Lampu utama sudah dimatikan, menyisakan lampu tidur yang remang. Di atas sofa panjang dekat jendela, tampak sesosok tubuh mungil sedang meringkuk. Alina tertidur di sana, bukan di ranjang.
Damian melangkah mendekat, mengamati wajah polos gadis itu yang terlelap damai.
“Apa dia sudah mati? Sampai tidak menyadari kedatanganku sedikit pun,” gumam Damian sarkas.
Ia menggoyangkan kaki sofa dengan kakinya. “Hei. Bangun.”
Tidak ada respon.
“BANGUN!” bentak Damian.
Bruk!
“Aww!” Alina terlonjak kaget sampai terguling jatuh dari sofa dan mendarat di karpet tebal. Ia meringis memegangi sikunya.
“Apa kau merasa jadi nyonya besar di mansionku ini sampai tidur nyenyak sekali?” tanya Damian dingin.
Alina mendongak cepat, matanya yang masih mengantuk bertemu dengan tatapan tajam Damian.
Kedua pasang mata itu saling bertemu dan mengunci untuk beberapa detik. Waktu seolah berhenti.
Tiba-tiba, Damian merasakan desiran aneh di dadanya. Jantungnya berdetak tidak normal.
‘Ada apa dengan jantungku? Apa aku punya riwayat penyakit jantung? Sial, aku harus segera check-up besok,’ batin Damian menyangkal perasaannya sendiri.
Sementara itu, Alina menatap ngeri sosok tinggi menjulang di hadapannya.
‘Apa dia malaikat maut? Kenapa tatapannya menakutkan sekali di tengah malam begini?’ batin Alina gemetar.