Di sebuah gedung perkantoran megah milik Bratama Group—salah satu rekan bisnis strategis DDR Group—suasana di lantai eksekutif terasa mencekam.
Seorang pria tampak mengamuk di ruang kerjanya. Wajahnya merah padam, napasnya memburu, dan matanya menyiratkan keputusasaan yang mendalam.
Sebuah vas bunga mahal hancur berkeping-keping setelah menghantam dinding, menyusul nasib barang-barang lain yang sudah berserakan di lantai.
“Ini tidak boleh terjadi! Sialan!” teriak Liam frustrasi. Ia menjambak rambutnya sendiri, lalu merosot duduk di lantai, bersandar pada meja kerjanya.
“Aku harus merebutnya kembali... Tidak peduli meskipun lelaki itu adalah orang paling berkuasa di negeri ini. Aku akan mempertahankan cintaku. Tidak... ini mimpi buruk. Aku sudah menunggunya selama tiga tahun... dan dengan mudahnya b******n itu merebut Alina dariku!” lirihnya pilu.
Jay, sekretaris sekaligus sahabat Liam, berdiri di ambang pintu dengan wajah prihatin. Ia melangkah masuk hati-hati, menghindari pecahan kaca.
“Pak Liam, tolong kendalikan diri Anda. Jika Anda terus seperti ini, bagaimana Anda bisa mendapatkan kembali gadis yang Anda cintai?” ucap Jay mencoba menenangkan.
Liam mendongak, menatap tajam ke arah Jay. “Cih, kau bahkan tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, Jay. Dan sekarang kau mau mengguruiku soal perasaan?” tanyanya sinis.
Ya, Liam mencintai Alina dengan tulus. Selama ini, ia memilih memendam perasaannya demi menjaga persahabatan mereka. Ia takut jika ia menyatakan cinta terlalu cepat, Alina akan menjauh. Ia ingin menunggu waktu yang tepat, menunggu hingga ia merasa cukup pantas. Namun ternyata, pengorbanan dan kesabarannya sia-sia. Orang lain telah menyerobot masuk dan merebut gadis pujaannya.
Jay hanya menggeleng pelan. Meski ia tidak berpengalaman soal asmara, ia tahu bahwa menyakiti diri sendiri bukanlah solusi.
“Saya memang tidak berpengalaman soal cinta, Pak. Tapi saya mengerti bagaimana rasanya menyayangi seseorang dan ingin melihatnya bahagia,” jelas Jay bijak.
“Sialan kau, Jay,” umpat Liam pelan, suaranya melemah. “Aku mencintainya... sangat mencintainya.”
“Saya mengerti, Pak.”
Liam memejamkan mata, menahan air mata yang mendesak keluar. “Apa kau tidak punya kalimat penghibur lain?”
“Ada, Pak. Sebaiknya Bapak tetap menghadiri pesta pernikahannya nanti malam.”
Mata Liam terbuka seketika, menatap Jay seolah sekretarisnya itu baru saja menumbuhkan kepala kedua. “Apa kau sudah gila, Jay? Aku bahkan tidak sanggup berdiri saat mendengar kabar pernikahannya, apalagi harus menyaksikannya langsung? Apa kau mau aku mati berdiri di sana?”
“Bukan begitu, Pak,” sanggah Jay tenang. “Setidaknya demi masa depan perusahaan kita. Pak Damian adalah investor terbesar di Bratama Group. Mengambil tindakan gegabah seperti mangkir dari undangan hanya akan menyinggungnya dan membahayakan bisnis kita.”
Liam terdiam. Logikanya membenarkan ucapan Jay, namun hatinya menolak keras.
“Apa benar harus begitu, Jay?” tanya Liam, nadanya terdengar putus asa.
‘Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja harus,’ batin Jay gemas.
“Benar, Pak. Sangat benar,” jawab Jay tegas.
Liam menghela napas panjang, lalu tersenyum miris. “Baiklah kalau begitu. Aku akan datang. Aku juga ingin melihat gadis pujaanku untuk terakhir kalinya sebagai wanita lajang... meski status itu sudah berubah.”
‘Bosku benar-benar sudah gila karena cinta,’ batin Jay sambil geleng-geleng kepala.
Hari yang ditunggu-tunggu—atau ditakuti oleh sebagian orang—pun tiba.
Pesta pernikahan digelar sangat mewah di ballroom hotel bintang lima milik Damian. Dekorasinya bagaikan negeri dongeng, membuat siapa pun yang melihat akan berdecak kagum. Ribuan bunga segar didatangkan langsung dari luar negeri, lampu kristal menggantung megah, dan para tamu undangan dari kalangan elit memenuhi ruangan.
Di pelaminan, tampak sepasang pengantin yang baru saja selesai menyalami tamu VVIP. Pasangan itu terlihat serasi secara visual, meski aura di antara mereka terasa dingin.
Damian terlihat sangat gagah dan berwibawa dengan balutan tuksedo putih tulang dan dasi kupu-kupu hitam. Wajahnya yang tampan namun tegas memancarkan aura d******i yang kuat.
Di sampingnya, Alina tampak begitu memukau. Ia mengenakan gaun pengantin putih backless yang mengekspos punggung mulusnya. Gaun itu sederhana namun elegan, mempertegas kecantikan alami Alina yang luar biasa malam itu.
“Apa kau tidak bisa tersenyum sedikit lebih lebar?” bisik Damian tajam di telinga Alina, tangannya meremas pinggang gadis itu sedikit kuat.
Alina tersentak pelan dan melirik takut-takut. “Maaf, Pak... saya lelah,” cicitnya dengan wajah lesu.
“Jangan sampai orang lain tahu kau tidak bahagia. Kau dibayar mahal untuk bersandiwara. Jadi, tersenyumlah dengan benar,” tekan Damian penuh ancaman.
“Baik, Pak,” jawab Alina. Ia memaksakan sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyum palsu yang manis.
Melihat senyuman itu, Damian kembali merangkul pinggang ramping Alina dengan posesif, menarik tubuh gadis itu agar menempel padanya.
Alina merasa sangat tidak nyaman, namun ia tidak punya pilihan. Ia harus memainkan perannya sebagai istri yang berbahagia di hadapan ratusan pasang mata yang menatap iri.
Sementara itu, di sudut ruangan yang agak jauh, sepasang mata menatap pengantin itu dengan sorot terluka.
“Pak, sebaiknya kita segera menemui mereka untuk memberi selamat,” ajak Jay, menyadarkan Liam dari lamunannya.
Liam menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. “Jangan sampai aku menangis di hadapannya, Jay. Rasanya hatiku sakit sekali... seperti dicabik-cabik paksa.”
“Sudahlah, Pak. Anggap saja sekarang Bapak sedang kalah tender proyek,” hibur Jay sekenanya.
“Rasanya jauh lebih menyakitkan daripada kalah tender triliunan rupiah, Jay. Ah, aku lupa... kau kan jomblo abadi, mana paham rasanya patah hati,” sindir Liam.
‘Apa dia tidak berkaca? Dia jauh lebih menyedihkan. Sudah patah hati sebelum sempat memiliki,’ batin Jay dongkol.
“Anggap saja begitu, Pak,” jawab Jay pasrah.
Di sisi pelaminan, kedua orang tua Alina baru saja naik ke panggung untuk berfoto dan berpamitan.
“Selamat ya, Nak. Ayah dan Ibu akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu dan suamimu,” ucap Ameera, ibu Alina, dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, Bu. Aku sangat senang Ibu dan Ayah bisa hadir,” ucap Alina terharu, memeluk ibunya erat.
Antony, ayah Alina, menatap putrinya dalam-dalam. “Nak, Ayah akan melakukan apa pun untuk kebahagiaanmu. Jika kau terluka, atau ada apa-apa... datanglah pada Ayah.”
“Ayah tenang saja, aku akan baik-baik saja. Apalagi sekarang Alina punya suami yang akan melindungi Alina. Jadi Ayah tidak perlu khawatir. Jaga kesehatan kalian, ya,” ucap Alina berusaha meyakinkan, meski hatinya berteriak sebaliknya.
Antony mengalihkan pandangannya pada Damian, tatapannya berubah tajam. “Termasuk jika suamimu yang menyakitimu.”
Damian yang mendengar peringatan tersirat dari ayah mertuanya itu langsung memasang wajah meyakinkan yang sempurna.
“Itu tidak akan pernah terjadi, Ayah. Aku akan menjaga putri Ayah dengan segenap jiwa dan ragaku. Apa yang diucapkan Alina memang benar, Ayah tidak perlu khawatir,” janji Damian dengan lancar, seolah kebohongan adalah bahasa ibunya.
Antony menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Baiklah. Kami percayakan putri kami padamu, Nak.”
“Di mana Dito, Yah?” tanya Alina, mengalihkan topik agar suasana tidak tegang.
“Aku di sini, Tuan Putri!” seru seorang remaja laki-laki yang muncul dari balik punggung ayahnya.
“Bagaimana sekolahmu, Dito? Jangan bolos terus,” tegur Alina lembut pada adiknya itu.
“Kakak, ayolah... hari ini adalah hari bahagianya Kakak. Lupakan soal sekolah dulu, oke?” rengek Dito dengan nada protes.
Sontak Alina, Antony, dan Ameera tertawa melihat tingkah Dito. Tawa Alina terdengar begitu lepas dan merdu.
Damian tertegun sejenak melihat tawa itu.
‘Ternyata dia sangat cantik... apalagi saat tertawa lepas seperti itu. Matanya berbinar... Ck, apa yang kupikirkan? Sadarlah, Damian. Kau hanya mencintai Freya. Gadis ini cuma alat,’ batin Damian, segera menepis perasaan aneh yang menyusup ke dadanya.
Setelah sesi foto keluarga singkat, orang tua dan adik Alina berpamitan pulang karena Dito harus menghadapi ujian kelulusan esok hari.
Tak lama setelah keluarga Alina turun panggung, seorang pria tampan dengan setelan jas rapi melangkah mendekati pelaminan. Langkahnya mantap, namun matanya menyiratkan luka.
“Selamat atas pernikahannya, Pak Damian,” ucap Liam. Namun, tatapan matanya tidak tertuju pada Damian, melainkan terkunci rapat pada sosok gadis di samping sang CEO.
Alina terbelalak. “Liam?”