Wanita Damian

1250 Words
Saat Jessy masih berusaha menggoda bosnya, pikiran Damian justru melayang pada percakapannya dengan Sam semalam. Sebuah keputusan impulsif yang ia ambil demi tujuan yang lebih besar. Malam sebelumnya, di ruang kerja Damian... “Sam, aku berubah pikiran.” Sam yang sedang membereskan berkas sontak berhenti. Ia menatap tuannya dengan bingung. “Maksud Bapak apa?” “Apa otakmu sudah tidak berfungsi lagi, Sam?” tanya Damian ketus. ‘Astaga, mana saya tahu Bapak ingin apa? Saya hanya manusia biasa, wahai Bapak Damian yang terhormat, bukan cenayang,’ gerutu Sam dalam hati, namun bibirnya tetap terkatup rapat. “Maaf, Pak,” ucap Sam sambil menunduk sopan. Damian berdecak kesal. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan kota malam hari. “Aku ingin mengadakan resepsi pernikahan, Sam. Besar-besaran,” ucap Damian datar namun tegas. Sam terbelalak. “Apa Bapak yakin?” tanyanya penuh selidik. “Bukannya kemarin Bapak ingin merahasiakan pernikahan ini? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?” Damian berbalik, tatapannya tajam dan penuh perhitungan. “Aku yakin, Sam. Aku tahu apa yang kau khawatirkan.” “Benar, Pak. Kita bahkan belum tahu siapa dalang di balik pembantaian keluarga Bapak di masa lalu. Musuh Bapak banyak sekali di luar sana. Mengadakan pesta besar sama saja dengan memasang target di punggung Bapak sendiri,” jelas Sam cemas. Seringai tipis muncul di wajah Damian. “Justru itu tujuannya, Sam. Aku ingin memancing mereka keluar. Tikus-tikus itu tidak akan menampakkan diri jika tidak ada umpan yang menarik.” Sam terdiam, mencerna rencana berbahaya tuannya. “Lusa adalah hari pernikahanku. Berikan gadis itu cuti sampai hari H. Siapkan resepsi pernikahan yang paling mewah. Buat semua undangan merasa iri pada gadis itu. Aku ingin pernikahan ini menjadi berita utama di semua stasiun TV dan media cetak,” titah Damian. “Baik, Pak. Saya mengerti sekarang. Saya akan selalu mendukung keputusan Bapak dan memastikan semuanya berjalan lancar.” “Bagus. Besok aku akan mengenalkan gadis itu di kantor. Kau urus semuanya.” “Baik, Pak. Tapi... apakah Bapak sudah membeli cincin pernikahan?” tanya Sam mengingatkan. Damian menepuk keningnya pelan. “Kau benar, aku sampai lupa hal sepele itu. Besok kita seret gadis kecil itu untuk membelinya.” Kembali ke masa kini, di butik... “Pak?” panggil Jessy, membuyarkan lamunan Damian. Damian tersentak pelan. Ia menyadari tatapannya sedari tadi terpaku pada Alina yang berdiri canggung dengan gaun indahnya. “Kita harus segera berangkat. Kau sudah membuang waktuku sia-sia,” ucap Damian dingin, menutupi rasa malunya karena tertangkap basah sedang melamun. Tanpa aba-aba, tangan kekar Damian meraih pergelangan tangan Alina dan menariknya keluar dari butik, meninggalkan Jessy yang tersenyum penuh arti. Sesampainya di gedung DDR Group, suasana lobi yang biasanya sibuk mendadak hening. Semua karyawan menunduk hormat saat CEO mereka melintas. Namun, bisik-bisik mulai terdengar dan pandangan mereka berubah sinis tatkala melihat siapa yang berjalan di samping sang big boss. Itu Alina. Karyawan baru dari divisi pemasaran. Yang membuat mereka lebih terkejut adalah tangan Damian yang menggenggam tangan Alina dengan posesif, seolah mendeklarasikan kepemilikan. Damian berjalan dengan dagu terangkat, acuh tak acuh pada tatapan karyawannya, sementara Alina menunduk dalam-dalam, wajahnya merah padam menahan malu dan takut. Merasa gadis di sampingnya menciut, Damian meremas pelan tangan Alina. “Angkat kepalamu,” bisik Damian tegas, namun hanya bisa didengar oleh Alina. “Kau hanya boleh menunduk di hadapanku. Apa kau mengerti?” Alina tersentak kaget dan refleks mendongakkan kepalanya. “B-baik, Pak,” jawab Alina gugup. “Bagus. Jadilah wanita yang penurut. Jika tidak, kau harus membayar denda karena melanggar kontrak.” ‘Hah? Denda? Apa lagi ini?’ batin Alina panik. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di otaknya yang sudah kusut. “Apa maksud Bapak?” tanya Alina polos. “Aku jelaskan di ruanganku saja.” Cklek. Pintu ruangan CEO terbuka. Alina melangkah masuk ke ruangan yang sangat luas dan elegan itu. Desain interiornya minimalis namun memancarkan aura kekuasaan yang kuat, sangat cocok dengan karakter penghuninya. Meski pernah masuk ke sini sekali saat insiden pemanggilan pertama, Alina tidak sempat memperhatikannya karena terlalu takut. Kini, meski rasa takut itu masih ada, ia bisa melihat betapa mewahnya "kandang" sang monster ini. Damian melepaskan tangan Alina dan duduk di ujung meja kerjanya, melipat tangan di d**a. “Kenapa Bapak membawa saya ke sini dengan cara seperti itu? Apa Bapak sengaja ingin membuat saya memiliki banyak musuh di kantor ini?” tanya Alina dengan napas memburu. Entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk protes. ‘Mati aku! Habislah riwayatku,’ rutuk Alina dalam hati begitu menyadari nada bicaranya. Damian menatapnya intens. “Aku hanya ingin mengenalkan calon istriku pada 'perusahaanku'. Apa itu salah?” “Apa?!” pekik Alina kaget. Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya, di kota Paris, Prancis. Seorang wanita cantik dengan tubuh proporsional tengah berpose di depan kamera. Blitz kamera menyambar-nyambar, menangkap pesonanya yang memukau. Dia adalah Freya. Seorang model internasional yang kariernya sedang meroket. Freya tersenyum puas setelah fotografer memberikan tanda selesai. Ia merasa memiliki segalanya: kecantikan, ketenaran, dan keyakinan bahwa ada seorang pria kaya raya yang setia menunggunya di seberang benua. Pria yang ia tinggalkan demi ambisinya. “Hhh, akhirnya selesai juga,” desah Freya sambil menghempaskan tubuhnya di kursi rias. “Aku sudah tidak sabar untuk menemuinya, Molly. Aku yakin Damian pasti sangat merindukanku. Dia akan selalu setia padaku. Apa kau percaya pada kekuatan cinta kami, Molly?” Freya menoleh pada manajer sekaligus sahabatnya itu. Ck. Molly berdecak pelan sambil memutar bola matanya malas. ‘Apa dia tidak sadar betapa egoisnya dirinya?’ batin Molly. “Apa kau masih sebegitu percaya dirinya setelah apa yang kau lakukan padanya, Fre?” tanya Molly sangsi. Freya menatap pantulan dirinya di cermin sambil membenahi rambut. “Hei, apa maksud ucapanmu itu? Tentu saja aku percaya. Damian akan selalu setia menunggu kepulanganku, karena dia gila padaku.” “Setelah meninggalkannya bertahun-tahun dan jarang memberi kabar? Kau bahkan tidak menyadari bahwa kau sudah menyakitinya,” sindir Molly tajam. “Kau tahu kan, kalau aku memberinya kabar terus-menerus atau meminta izin, dia tidak akan membiarkanku pergi menjadi model. Ini impianku sejak kecil, Molly!” bela Freya. “Jadi kau memanfaatkannya?” tanya Molly penuh selidik. Freya mengangkat bahu acuh tak acuh. “Awalnya mungkin iya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku sadar aku mencintainya. Dia tampan, kaya, dan berkuasa. Paket lengkap.” “Itu bukan cinta, Freya. Itu obsesi dan rasa kepemilikan,” bantah Molly. “Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas, saat berpisah jauh dengannya, aku merasakan sesuatu yang hilang. Setelah kontrak ini selesai, aku akan kembali padanya dan hidup bahagia selamanya,” ucap Freya dengan nada final. Molly menghela napas panjang. “Aku harap dia masih mau menerimamu kembali. Tapi jujur saja, aku ragu. Apalagi jika dia tahu tentang... kebiasaanmu di sini.” Freya langsung menoleh tajam, matanya menyala marah. “Apa maksudmu?” “Bagaimana dengan pria-pria yang sering menghangatkan ranjangmu selama di Paris? Meskipun Pak Damian menerimamu kembali, jika dia tahu bahwa dia bukan satu-satunya... aku yakin dia akan sangat kecewa.” “Cinta akan membuatnya memaafkanku,” sanggah Freya cepat, meski ada nada cemas dalam suaranya. “Lagi pula, itu hanya kebutuhan fisik semata. Hatiku tetap milik Damian. Dan kau... kau itu sahabatku, Molly. Sebaiknya kau tutup rapat-rapat mulutmu itu.” “Hahh... baiklah,” Molly menyerah. Percuma mendebat wanita narsis ini. “Sudah, jangan banyak menceramahiku. Apa besok jadwalku masih padat?” Freya mengalihkan pembicaraan. “Ya, seperti biasa.” “Aku sudah tidak sabar menyelesaikan kontrak ini dan segera pulang.” “Enam bulan lagi, Freya. Jadi bersabarlah.” “It’s okay. Demi Damian, aku akan bersabar.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD