“Kau tidak dibayar untuk mengumpatiku dalam hati, Sam.”
Sam terperangah. Bagaimana bisa bosnya membaca pikirannya seakurat itu?
“B-baik, Pak,” jawab Sam sambil menunduk, menyembunyikan kegugupannya.
“Kita ke kantor nanti saja. Antarkan aku ke tempat gadis ingusan itu dulu.”
“Baik, Pak.”
Mobil mewah itu pun meluncur membelah jalanan pagi. Tak butuh waktu lama, kendaraan mengkilap milik Damian sudah terparkir mencolok di depan gang sempit rumah kontrakan Alina.
Tak ingin membuang waktu, Sam langsung turun untuk menjemput Alina. Damian tentu saja enggan turun; ia tidak ingin menurunkan harga dirinya dengan menginjakkan kaki di lingkungan kumuh itu.
Sementara itu, di depan pintu, Alina sudah menunggu dengan tubuh gemetar. Bukan tanpa alasan ia merasa cemas. Alina takut membuat kesalahan sekecil apa pun di hadapan CEO sekaligus calon suami galaknya itu.
Sam mengetuk pintu pelan.
Cklek. Pintu terbuka.
“Selamat pagi, Nona,” sapa Sam dengan nada datar dan profesional.
“Selamat pagi, Pak Sam,” jawab Alina dengan senyum ramah, mencoba menutupi kegugupannya.
“Maaf, Nona. Pak Damian sudah menunggu Anda di dalam mobil.”
‘Hei, kenapa tidak orangnya langsung yang menjemput? Hah, aku lupa... dia kan Sultan, jadi bebas melakukan apa saja,’ gerutu Alina dalam hati.
“Oh, baiklah. Saya sudah siap, Pak Sam.”
Sam memperhatikan penampilan Alina dari atas sampai bawah. Gadis itu mengenakan kemeja lusuh dan celana bahan yang sudah sedikit memudar warnanya.
‘Apakah memang begini penampilannya? Sangat sederhana... terlalu sederhana untuk wanita yang akan menikah dengan orang paling berpengaruh di kota ini,’ batin Sam prihatin.
“Baiklah, silakan, Nona.”
Sesampainya di dalam mobil, keheningan yang mencekam langsung menyambut mereka. Damian duduk dengan wajah dinginnya yang tak tersentuh, sementara Sam kembali menjadi patung hidup di balik kemudi.
Baru beberapa menit mobil melaju, suara bariton Damian memecah keheningan.
“Apa kau berniat mempermalukanku dengan selera kampunganmu itu?”
Alina tersentak kaget. Ia menoleh, mendapati tatapan Damian yang menelusuri pakaiannya dengan jijik.
“Eh? Ti-tidak, Pak. Bukan maksud saya seperti itu. Saya... saya hanya memiliki pakaian ini yang cukup layak untuk saya pakai,” jawab Alina terbata-bata.
“Hah? Kau bilang apa tadi? Layak?” Damian mendengus kasar. “Ck, bahkan seragam pelayanku jauh lebih berkelas daripada kain lap yang kau pakai saat ini.”
Kata-kata tajam itu bagaikan ribuan jarum yang menghujam d**a Alina. Sakit. Sangat menyakitkan. Namun, Alina berusaha tetap tegar. Ia memaksakan seulas senyum, meski hatinya perih.
‘Apakah dia menikahiku hanya untuk menghinaku? Ya, ya, ya... kaulah Rajanya, Pak Sombong,’ rutuk Alina dalam hati.
“Maafkan saya, Pak, jika membuat Bapak malu,” jawab Alina dengan nada sesantai mungkin, berusaha tidak terpancing.
Suasana kembali hening dan canggung. Tidak ada yang bicara lagi. Alina mengalihkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan jalanan yang mereka lewati.
Tunggu, batinnya. Ini kan jalan menuju distrik mode?
Benar saja, mobil berbelok ke halaman sebuah butik kelas atas. Tempat yang biasanya hanya didatangi oleh sosialita dan orang-orang kaya. Kenapa Damian membawanya ke sini?
“Maaf, Pak, kenapa—”
“Tidak perlu banyak tanya. Cepat turun,” potong Damian dingin tanpa melirik sedikit pun.
“Emm, baiklah,” jawab Alina pasrah.
Sebenarnya Damian tidak memberikan perintah lisan kepada Sam untuk pergi ke butik, namun sebagai sekretaris handal, Sam memiliki insting tajam untuk mengetahui apa yang dibutuhkan tuannya.
Sementara itu, di sebuah ruangan remang-remang di sisi lain kota.
Seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah di usianya yang tak lagi muda, membanting gelas kristal ke lantai.
PRANG!
Pecahan kaca berserakan. Pria itu, David, mendesah frustrasi.
“Sialan! Aku kecolongan! Ternyata anak itu masih hidup... bahkan tanpa aku sadari, dia sudah menjadi pengusaha sukses di kota ini,” geramnya sambil mengusap wajah kasar.
“Gun!” teriaknya menggelegar.
“Saya, Pak,” jawab Gun, asisten pribadinya, yang bergegas masuk dengan wajah tegang.
“Apa kau sudah mendapat kabar terbaru tentang pria itu?”
“S-saya akan menghubungi mata-mata kita lagi, Pak,” jawab Gun gugup. Pasalnya, ia sudah berkali-kali menghubungi informan mereka, namun hasilnya nihil.
David menatapnya tajam. “Apa kau mempekerjakan orang-orang bodoh untukku, Gun?”
Tring.
Bunyi notifikasi ponsel Gun memecah ketegangan. Gun menghela napas lega, berharap pesan ini membawa kabar baik. Ia segera membuka pesan dari salah satu pengawal yang ia susupkan.
Laporan:
[Target akan menikah akhir pekan ini dengan wanita yang bekerja di perusahaannya. Gadis itu sangat cantik. Foto terlampir.]
Gun yang membaca kabar itu langsung menyeringai lebar.
David yang melihat asistennya senyum-senyum sendiri semakin geram. “Apa kau sudah bosan hidup, Gun?!”
Gun tersentak. “Eh, maaf, Pak.”
“Apa maksudmu senyum-senyum begitu?”
“Saya mempunyai kabar baik untuk Bapak mengenai pria itu,” jawab Gun penuh keyakinan.
“Hmm? Apa?” Nada bicara David mulai menurun, karena tertarik.
“Akhir pekan besok, Pak. Dia akan menikah.”
Mendengar kabar itu, David menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. Senyum licik perlahan terbit di wajahnya.
‘Menikah, ya? Kita lihat sampai mana dia akan bertahan. Permainan akan semakin menarik,’ batinnya licik.
Kembali ke butik mewah milik Damian.
Tirai ruang ganti tersibak. Seorang gadis cantik melangkah keluar. Penampilannya berubah total. Gaun elegan yang membalut tubuh rampingnya membuat siapa saja yang melihat pasti terpana.
“Anda cantik sekali, Nona. Pasti Pak Damian tidak akan berpaling ke lain hati lagi,” puji Jessy, manajer butik tersebut. Jessy turun tangan langsung melayani mereka sebagai tanda hormat kepada pemilik butik.
Kalimat 'ke lain hati' sengaja Jessy ucapkan, meski ia tahu kekasih yang paling dicintai bosnya adalah Freya, sang model seksi yang terlihat dewasa. Sangat kontras dengan gadis di hadapannya ini yang terlihat polos namun memancarkan kecantikan alami yang memikat, bahkan tanpa riasan tebal.
“Ah, terima kasih, Nona,” jawab Alina malu-malu.
“Eh, Nona Alina, jangan memanggil saya seperti itu. Panggil saja Jessy,” sela Jessy gugup. Ia tidak mau mengambil risiko membuat bosnya marah karena dipanggil seperti nyonya besar oleh calon istri bosnya sendiri. Bisa tamat riwayatku, pikir Jessy.
“Baiklah, Kak Jessy,” jawab Alina sambil tersenyum.
“Kalau begitu, mari saya antar menemui tuan muda.”
Alina menghela napas panjang saat berjalan mengekor di belakang Jessy.
‘Hadeh, kenapa semua orang memanggilnya Bapak atau Tuan Muda? Jelas-jelas dia sudah tua. Kenapa tidak dipanggil "Om" saja sekalian? Pria itu lebih pantas menjadi pamanku dibanding suamiku,’ gerutu Alina dalam hati, masih kesal dengan insiden di mobil tadi.
U
Di ruang tunggu VIP, Damian sedang sibuk dengan ponselnya.
“Pak Damian? Bagaimana menurut Bapak?” Jessy memberanikan diri menginterupsi.
Damian mendongak. Matanya terpaku pada sosok yang berdiri di sana.
Sejenak, ia tertegun. ‘Cantik,’ gumamnya tanpa sadar dalam hati.
“Apa, Pak?” tanya Alina yang merasa Damian menggumamkan sesuatu. Ia takut melakukan kesalahan lagi.
Damian tersadar dari keterpanaannya. Wajahnya kembali datar seketika. “Tidak ada. Kau... biasa saja,” elaknya gengsi.
Jessy yang melihat reaksi itu hanya tersenyum simpul. Ia tahu bosnya itu sebenarnya tengah memuji calon istrinya, namun gengsinya yang setinggi langit membuatnya enggan mengakui.
“Kalau begitu, biar saya carikan gaun yang lain lagi, Pak,” ucap Jessy, sengaja ingin menggoda bosnya.
“Tidak perlu!” sergah Damian cepat.
Jessy menahan tawa. “Lho, kenapa, Pak? Bukannya Bapak ingin Nona Alina terlihat sangat cantik?”