Menemui Alina

1219 Words
“Halo, Lin?” suara seorang pria terdengar akrab dari seberang sana. Alina melirik sekilas ke arah kursi pengemudi. Benar saja, rahang Damian tampak mengeras, tangannya mencengkeram setir lebih kuat, seolah menahan amarah yang siap meledak. “Emm... iya, halo,” jawab Alina gugup. Ia merasa seperti mangsa yang sedang diawasi oleh predator buas yang siap menerkam kapan saja. “Kamu di mana? Aku ke kantormu sekarang, ya,” ujar Liam, sahabat Alina, dengan nada antusias. “Mau apa?” “Mau menjemputmu, lah! Apa kau tidak merindukan sahabatmu ini?” tanya Liam sambil terkekeh ringan. “Eh, bukan begitu... a-aku sudah di jalan pulang kok. Kamu tidak perlu khawatir,” tolak Alina halus, berusaha menjaga nada bicaranya agar tidak memancing emosi pria di sebelahnya. “Hmm, baiklah. Tapi lain kali kau harus menyempatkan waktumu untukku, ya?” “Baiklah, Li.” Klik. Sambungan telepon terputus. “Siapa?” tanya Damian dingin. Matanya tetap lurus ke jalan, namun auranya mencekam. Alina tersentak kaget. “S-sahabat saya, Pak,” jawabnya gugup. “Sepertinya dia menyukaimu, sampai harus menanyakan keberadaanmu segala.” Nada bicara Damian terdengar sinis, penuh curiga. “Itu tidak mungkin, Pak. Kami hanya berteman,” sangkal Alina sambil menunduk, tak berani menatap wajah bosnya. Setelah percakapan singkat itu, suasana di dalam mobil kembali hening. Hening yang menyesakkan. Alina membuang pandangannya ke luar jendela, menatap jalanan ibu kota yang mulai lengang, hingga tanpa sadar mobil mewah itu sudah berhenti di depan gang sempit rumah kontrakannya. “Turun,” titah Damian datar. “Eh?” Alina tersentak dari lamunannya. Damian menoleh, menatapnya tajam. “Apa kau sudah tidak sabar untuk menjadi istriku, hingga kau mau mengikutiku pulang ke rumahku?” Wajah Alina memerah padam karena malu. “Emm, t-tidak, Pak. Terima kasih atas tumpangannya,” ucap Alina buru-buru sambil hendak membuka pintu mobil. Namun, sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangannya. “Ada apa, Pak?” Alina menatap Damian heran. Damian mendekatkan wajahnya, membuat Alina menahan napas. “Ingat, tumpangan ini tidak gratis.” “Hah?” Alina tercengang. ‘Hei, siapa yang meminta tumpangan padamu, wahai Bapak Kikir? Aku tadi tidak memesan taksi karena dipaksa naik! Dan sekarang dia meminta bayaran? Lebih baik tadi aku jalan kaki sampai kaki gempor daripada harus berurusan dengan CEO pelit ini,’ gerutu Alina dalam hati. “Apa yang kau tunggu?” tanya Damian sarkas. “M-memangnya apa yang saya punya, Pak? Bahkan utang saya sebelumnya masih menumpuk,” cicit Alina bingung. Damian mendengus kasar, lalu melepaskan tangan gadis itu. Tatapannya merendahkan. “Sudah, lupakan saja. Kau memang tidak punya apa-apa yang berharga bagiku. Cepat turun.” “Baiklah. Kalau begitu saya permisi, Pak.” Tanpa menunggu lagi, Alina segera keluar dari mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam gang, meninggalkan pria berhati dingin itu. Setelah memastikan Alina masuk, Sam yang duduk di kursi pengemudi kembali melajukan mobil menuju kediaman pribadi Damian. Tak butuh waktu lama, mobil itu memasuki gerbang mansion megah. “Silakan, Pak,” ucap Sam seraya membukakan pintu mobil. Para pelayan sudah berbaris rapi menyambut kedatangan sang tuan rumah bak seorang raja. Damian melangkah masuk tanpa mempedulikan sambutan itu. Ia berhenti sejenak dan menoleh pada Sam. “Persiapkan semuanya dengan sempurna. Dan pastikan, wanita itu mendengar kabar pernikahanku,” titah Damian penuh penekanan. Sam mengerti siapa 'wanita itu' yang dimaksud. “Baik, Pak. Akan saya persiapkan tanpa kekurangan apa pun.” “Sekarang kau boleh pulang.” “Saya permisi, Pak. Jika Anda butuh sesuatu, segera hubungi saya.” “Hmm.” Di tempat lain, di sebuah apartemen mewah, seorang pria tampan sedang tersenyum menatap layar ponselnya. ‘Syukurlah kau baik-baik saja, Lin. Aku akan segera menyatakan cintaku dan melamarmu,’ batin Liam penuh harap. Liam, pengusaha muda berusia 25 tahun yang baru saja kembali dari luar negeri, akhirnya merasa siap. Tiga tahun ia menahan diri, menyelesaikan studinya dan membangun bisnis agar pantas bersanding dengan Alina. Ia menyukai Alina sejak gadis itu pertama kali merantau ke kota. Liamlah yang menolong Alina saat diganggu preman, dan sejak itu benih cinta tumbuh di hatinya. Kini, tidak ada alasan lagi untuk menunggu. Ia tidak tahu bahwa takdir sedang mempermainkannya. Sementara itu, di kontrakan petak yang sederhana, Alina tengah meringkuk di atas kasur tipisnya. Bahunya terguncang hebat. “Tuhan, kuatkan aku... ini semua demi keluargaku. Aku tidak mau mereka menderita jika aku menolak pernikahan ini,” lirih Alina di sela isak tangisnya. Bayangan wajah dingin Damian dan utang yang melilit ayahnya terus menghantui. “Lusa adalah hari pernikahanku, dan aku harus merahasiakan semua ini. Pernikahan macam apa ini?” Alina mengusap air matanya kasar. “Sebaiknya aku cepat tidur agar besok bisa bangun lebih segar dan melupakan mimpi buruk ini.” Tak butuh waktu lama, kelelahan fisik dan mental membuat Alina terlelap. Berbeda dengan Alina, di mansion mewahnya, Damian masih terjaga di ruang kerja yang remang. Laptopnya menyala, namun pikirannya melayang jauh. Tangannya mengelus lembut sebuah bingkai foto yang menampilkan wajah wanita cantik dan seksi. Freya. “Aku harap kau akan cepat kembali, Sayang. Tidakkah kau lihat perjuanganku selama ini? Aku melakukan sandiwara pernikahan ini hanya untuk memancingmu pulang,” bisik Damian pada foto bisu itu. Tatapan tajamnya melembut, menyiratkan kerinduan yang menyakitkan. “Aku akan tetap menunggumu.” *** Suara dering telepon yang nyaring memecah keheningan pagi, membuat Alina terperanjat kaget dari tidurnya. “Astaga... siapa sih yang mengganggu waktu tidurku pagi-pagi begini?” gumam Alina dengan mata yang masih terpejam, meraba-raba nakas mencari ponselnya. “Halo?” jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur. “Apa kau tidak mau bangun dan menyia-nyiakan waktuku yang berharga?” Suara bariton yang dingin itu seketika menyambar kesadaran Alina. Matanya yang tadinya berat langsung membulat sempurna. Ia mengenali suara itu. “T-tidak, Pak! Mana berani saya, Pak,” jawab Alina gugup, langsung duduk tegak di kasurnya. “Dua puluh menit lagi aku akan sampai di depan gangmu. Ingat, kau tidak boleh membuatku menunggu, atau kau akan tahu akibatnya,” ancam Damian datar namun menakutkan. “B-baik, Pak!” Tut. Telepon dimatikan secara sepihak. Alina menatap layar ponselnya dengan tatapan tak percaya. Rasa kantuknya lenyap berganti dengan kekesalan yang memuncak. “Dasar pria gila! Arogan! Dingin!” umpat Alina sambil melempar ponselnya ke kasur. “Jadi beruang kutub saja sekalian sana! Nggak ada lembut-lembutnya sama sekali, bisanya cuma mengancam. Cih, aku nggak sudi memberikan hatiku untuk pria seperti itu!” Alina beranjak dari kasur dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal. “Lebih baik aku cepat bersiap sebelum Beruang Kutub itu datang. Udah dingin, galak, buas lagi. Cocok sekali julukan itu,” gumam Alina. Tanpa sadar, senyum kecil terbit di bibirnya saat membayangkan Damian memakai kostum beruang kutub yang lucu namun berwajah garang. Di depan lobi mansion Damian, Sam sudah berdiri siaga di samping mobil, membungkuk hormat tatkala tuannya keluar dari pintu utama. “Selamat pagi, Pak.” “Hmm,” jawab Damian singkat tanpa menoleh, langsung masuk ke dalam mobil. ‘Hanya itu? Ck, dasar hemat suara,’ batin Sam sambil menggeleng pelan, lalu masuk ke kursi pengemudi. “Kau tidak dibayar untuk mengumpatiku dalam hati, Sam.” Sam terperangah. Matanya membelalak melihat Damian dari kaca spion tengah. Bagaimana bisa bosnya itu membaca pikirannya? “B-baik, Pak. Maafkan saya,” ucap Sam salah tingkah. “Kita ke kantor nanti saja. Antarkan aku ke tempat gadis ingusan itu dulu.” “Baik, Pak.” Mobil mewah itu pun meluncur membelah jalanan pagi ibu kota.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD