‘Maafkan aku, Silvi. Aku tidak bermaksud berbohong, tapi lain kali aku pasti akan menceritakan semuanya,’ batin Alina pedih.
“Lin, kok kamu melamun?” tanya Silvi yang menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.
Alina tersentak, lalu buru-buru menggeleng. “Eh, enggak kok. Mungkin aku cuma belum sepenuhnya pulih,” elaknya sambil memaksakan senyum.
“Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit saja,” ajak Silvi cemas.
“Aku tidak apa-apa, Silvi. Lebih baik kita cepat kembali bekerja sebelum Pak Presdir datang.”
“Hmm, baiklah. Come on.”
Sementara itu, di lantai teratas gedung DDR Group, seorang pria tampak fokus bekerja. Tatapan tajamnya lurus menelusuri barisan kalimat pada berkas yang menumpuk di meja.
Pintu ruangan terbuka perlahan.
“Pak,” panggil Sam.
Damian hanya melirik sekilas ke arah sekretaris kepercayaannya itu tanpa menghentikan kegiatannya.
“Semua rencana Bapak berjalan dengan lancar,” lapor Sam dengan nada formal.
“Hmm,” gumam Damian singkat.
‘Jawaban macam apa itu? Sungguh, jika orang lain yang menghadapimu, aku yakin mereka tidak akan sanggup memahami jalan pikiranmu, Pak Damian yang terhormat,’ batin Sam, setengah menggerutu dalam hati.
“Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?” tanya Sam.
“Panggilkan gadis itu sekarang,” perintah Damian dingin, matanya masih terpaku pada berkas di hadapannya.
“Baik, Pak.” Sam membungkuk hormat dan segera undur diri.
Di divisi pemasaran, Alina tengah berusaha memfokuskan pikirannya pada pekerjaan ketika seorang wanita berpenampilan rapi menghampirinya. Itu Lexa, salah satu sekretaris eksekutif.
“Nona Alina Saraswati, Anda dipanggil Pak Presdir ke ruangannya,” ucap Lexa sopan namun tegas.
Alina ternganga. “S-saya, Nona?” tanyanya memastikan.
“Benar, Nona. Sebaiknya Anda bergegas sebelum Pak Presdir marah,” saran Lexa.
“Baik, saya akan segera ke sana.” Alina menjawab dengan suara bergetar. Setelah Lexa pergi, jantung Alina berpacu liar.
Setelah sampai di lantai 30—lantai khusus tempat sang CEO bertahta—Alina mulai merasakan sesak yang teramat sangat. Ketakutan menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat telapak tangannya basah oleh keringat dingin.
Alina menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
‘Kamu pasti bisa menghadapi monster itu. Kamu harus bisa, Lin,’ lirihnya menyemangati diri sendiri.
Tangannya yang gemetar mengetuk pintu kayu mahoni yang besar itu.
“Masuk.” Suara bariton terdengar dari dalam, dingin dan mengintimidasi.
Pintu terbuka. Alina melangkah masuk dengan ragu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang luas dan mewah itu. Matanya menangkap sosok Sam yang berdiri tegak, lalu jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi kebesarannya. Pria itu tak bergeming, seolah kehadiran Alina tidak ada artinya.
“Apakah kau akan tetap berdiri di situ sepanjang hari?” Damian akhirnya memecah keheningan tanpa menoleh sedikit pun.
“Eh?” Alina tersentak kaget. Ia buru-buru melangkah dan duduk di kursi hadapan Damian.
Damian meletakkan berkasnya, lalu menatap Alina dengan tatapan menusuk. “Aku ingin kita merahasiakan pernikahan kita dari siapa pun, kecuali keluargamu,” ucapnya tajam, langsung pada inti permasalahan.
Deg.
Alina merasakan sesak di dadanya. Kata-kata Damian bagai hujaman ribuan jarum. Sakit. Sangat sakit.
“Jangan pernah berharap lebih pada pernikahan ini. Karena dalam waktu satu tahun, aku akan menceraikanmu.”
Alina hanya bisa menunduk, tak berani menatap pria yang telah membuat air matanya siap tumpah.
‘Apakah aku hanya pelampiasannya saja? Ah, aku lupa... aku dinikahi oleh monster ini hanya untuk membayar utangku,’ batin Alina sambil tersenyum kecut, menertawakan nasibnya sendiri.
“Dan satu lagi,” lanjut Damian dengan nada merendahkan. “Jangan terlalu percaya diri bahwa aku akan menyentuhmu. Kau sangat jauh dari tipeku. Buang jauh-jauh pemikiranmu itu. Di mataku, kau tak lebih dari sekadar pelayan pribadi.”
Alina mendongak, memberanikan diri menatap pria yang baru saja menginjak-injak harga dirinya. Meski air matanya telah lolos membasahi pipi, ia berusaha menegakkan wajahnya.
“Bapak tidak perlu khawatir. Saya akan selalu mengingat semua yang Bapak katakan,” ucap Alina dengan suara serak namun tegas.
“Bagus. Kau harus ingat, semua perintahku adalah mutlak dan tidak bisa dibantah.”
“Baik, Pak. Tapi... apa saya masih boleh bekerja?” tanya Alina ragu.
Damian mengibaskan tangannya acuh tak acuh. “Lakukan apa pun sesuka hatimu, asalkan tidak mengganggu kenyamananku.”
“Terima kasih, Pak. Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, saya permisi.” Tanpa menunggu jawaban, Alina segera bangkit dan bergegas meninggalkan ruangan yang terasa mencekik itu.
Sepeninggal Alina, keheningan kembali menyelimuti ruangan.
“Apa kau melihatnya, Sam?” tanya Damian, sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum sinis.
“Saya melihatnya, Pak,” jawab Sam datar.
“Sepertinya aku memiliki mainan baru yang tidak membosankan.”
“Apa Bapak menyukai Nona Alina?” tanya Sam hati-hati.
Damian mendengus. “Mana mungkin aku menyukai gadis ingusan sepertinya, Sam? Dia jauh sekali jika dibandingkan dengan kekasihku.”
“Saya harap Bapak tidak menyesali ucapan Bapak nanti.”
“Sudahlah, Sam. Kembali ke tempatmu bekerja.”
“Baik, Pak.”
Hari sudah sore. Langit mulai berubah jingga. Para karyawan mulai bersiap untuk pulang, kecuali mereka yang harus lembur.
“Lin, kamu pulang bareng aku aja, ya?” tawar Silvi saat mereka berjalan keluar gedung.
“Enggak deh, Vi. Aku naik bus saja. Lagian ini masih sore,” tolak Alina halus. Ia butuh waktu sendiri.
“Hmm, baiklah. Kalau begitu aku duluan, ya.”
Alina mengangguk. Setelah Silvi pergi, Alina menyeret langkahnya menuju halte bus. Namun sialnya, setelah menunggu hampir setengah jam, bus yang ditunggu tak kunjung datang. Langit semakin gelap. Karena tidak memungkinkan memesan taksi online di jam sibuk seperti ini, Alina memutuskan untuk berjalan kaki.
Suara klakson mobil yang nyaring mengejutkannya.
Sebuah mobil sport mewah berhenti tepat di sampingnya, menghalangi jalannya. Alina tidak tahu siapa pemiliknya dan tidak mau peduli.
‘Jalanan kan masih luas, kenapa harus klakson berisik sih? Memangnya ini jalan nenek moyangnya apa?’ gerutu Alina dalam hati sambil terus melangkah.
Kaca jendela mobil itu turun perlahan. “Apa kau sudah mulai berani mengumpatiku di belakangku, Alina?”
Jantung Alina seakan berhenti berdetak. Ia sangat mengenali suara bariton itu. Perlahan, ia menoleh. Wajah Damian yang datar terlihat dari balik kemudi.
“Emm... t-tidak, Pak. Mana berani saya mengumpat Bapak,” jawab Alina gugup, wajahnya pucat pasi.
Damian menatapnya tajam. “Apa kau ingin tidur di jalanan?”
“Eh? Tidak, Pak,” jawab Alina sambil menunduk, meremas ujung blazernya.
“Cepat naik. Aku tidak punya banyak waktu.”
“B-baik, Pak.”
Alina masuk ke dalam mobil dengan canggung. Suasana di dalam mobil mewah itu terasa jauh lebih mencekam daripada di luar. Hening. Alina duduk kaku di samping bos sekaligus calon suaminya itu. Ia bahkan takut untuk bernapas terlalu keras.
Damian melirik sekilas. Melihat kegugupan gadis itu, ada rasa kepuasan aneh yang menyusup di hatinya. Gadis itu terlihat seperti kelinci yang terperangkap.
“Besok kau ambil cuti untuk mempersiapkan diri,” ucap Damian tiba-tiba, memecah keheningan. “Lusa adalah hari pernikahan kita, dan aku tidak mau kau sakit lalu merepotkanku.”
Sam, yang menyetir di depan, melirik dari kaca spion tengah. ‘Apa aku tidak salah dengar? Tumben sekali Pak Damian peduli—atau setidaknya berpura-pura peduli. Semoga ini awal yang baik,’ batin Sam penuh harap.
“Baik, Pak,” cicit Alina.
Tiba-tiba, dering ponsel memecah ketegangan di antara mereka. Tak lama kemudian, Alina menerima panggilan itu dengan ragu.
“Halo, Lin?” terdengar suara seorang pria di seberang sana.