Rencana pernikahan

1281 Words
“Apa Anda baik-baik saja, pak?” tanya Sam dengan nada meyakinkan, setelah pintu ruangan terbuka. Damian tidak langsung menjawab. Ia menatap kosong ke arah jendela besar di balik meja kerjanya. “Apa dia masih bersikeras tidak mau pulang?” tanya Damian pada sekretaris pribadinya itu. Sam sudah tahu siapa yang dimaksud oleh tuannya. Ia langsung mengerti ke mana arah pembicaraan ini. “Seperti yang Anda duga, pak. Nona Freya dikabarkan baru akan kembali satu tahun lagi,” jawab Sam hati-hati. ‘Apa Anda masih mengharapkan Nona Freya? Apapun akan saya lakukan, asal tuan Muda bahagia,’ batin Sam prihatin. Ya, Freya adalah seorang model yang cantik dan seksi. Wanita itu pergi meninggalkan Damian demi ambisinya menjadi model internasional yang sukses. Padahal jika Freya mau, Damian bisa memberikan apa pun yang wanita itu inginkan, termasuk uang dan popularitas tanpa perlu bersusah payah. “Apa yang harus aku lakukan, Sam? Agar dia dengan sendirinya pulang dan kembali padaku?” Damian bertanya dengan nada frustrasi. “Apa Anda yakin menginginkan Nona Freya untuk kembali?” tanya Sam, mencoba memastikan. Sejujurnya, Sam kurang yakin dengan wanita yang menjadi kekasih pak mudanya itu. Freya terlalu egois. “Apa aku terlihat seperti pembohong?” Bukan menjawab, Damian malah melempar pertanyaan tajam. “Maafkan saya, pak.” Suasana menjadi hening sejenak. Hanya terdengar detak jam dinding yang mengisi kekosongan di ruangan luas itu. Seketika, terlintas sebuah rencana di benak Sam. Sebuah cara drastis untuk membuat Freya cepat pulang tanpa perlu diminta. “Pak, bagaimana jika anda menikah dengan wanita lain? Agar Nona Freya pulang karena mendengar kabar pernikahan Anda,” usul Sam. Damian menoleh cepat. “Apa kamu gila, Sam? Mana mungkin aku menikahi wanita lain sedangkan aku hanya mencintai Freya? Lagipula, aku tidak mau membuat orang lain sakit hati karena perbuatanku,” elaknya. “Maafkan saya, pak, jika saya lancang.” Damian terdiam, berpikir sejenak mengenai usul gila sekretarisnya itu. Tidak terlalu buruk, pikirnya. Jika hanya untuk memancing kedatangan Freya... Jika memang Freya benar-benar mencintaiku, maka dia akan datang karena cemburu. “Kurasa rencanamu tidak terlalu buruk, Sam. Carikan aku gadis yang polos dan tidak banyak menuntut,” titahnya kemudian. ‘Mana ada yang begitu, Tuan Muda? Sekarang sudah sangat sulit menemukan gadis senaif itu,’ batin Sam skeptis. Sam berpikir keras, memindai daftar nama di kepalanya. Tiba-tiba ia teringat seseorang. “Bagaimana dengan Alina Saraswati, pak? Anda bisa menggunakan alasan utangnya untuk menikah dengan anda,” usul Sam. Mata Damian berbinar licik. “Kau benar, Sam. Siapkan surat perjanjian yang tidak akan merugikan diriku. Surat perjanjian itu harus sudah selesai sebelum aku pulang dari kantor,” titah Damian tegas. “Baik, pak. Kalau begitu, saya pamit undur diri.” Sam membungkuk hormat lalu berlalu meninggalkan ruangan Damian. Saat ini. Isak tangis terdengar memilukan di sebuah kamar sempit. Alina terus terisak sambil memeluk lututnya. “Kenapa semua ini terjadi, ya Tuhan? Bagaimana dengan kedua orang tuaku?” lirihnya di sela tangis. “Aku harus kuat... aku harus bisa melalui semua ini demi keluargaku,” gumam Alina, mencoba menyemangati dirinya sendiri. Setelah kejadian sore itu—saat ia dipanggil ke ruangan CEO—Alina nampak tidak baik-baik saja. Ia tampak murung, namun Alina selalu berusaha menyembunyikan segala keluh kesahnya di depan sahabatnya. Sementara itu, di gedung DDR Group, tampak dua orang pria sedang merencanakan tahap selanjutnya untuk menjebak Alina dalam sebuah pernikahan kontrak. “Sam!” panggil Damian dari interkom. Sam segera bergegas menghampiri tuan mudanya. “Iya, pak?” “Cepat kau hubungi orang tua gadis itu. Aku mau acaranya hanya dihadiri keluarga saja dan tidak ada resepsi,” perintah Damian dingin. “Baik, pak.” “Secepatnya, Sam. Dan kembali ke ruanganmu sekarang!” “Baik, pak.” Setelah keluar dari ruangan Damian, Sam segera menghubungi kedua orang tua Alina untuk meminta 'restu'. Itu hanyalah formalitas. Meskipun tanpa kehadiran kedua orang tua Alina pun, pernikahan akan tetap berjalan sebagaimana mestinya karena kuasa uang Damian. Tut... tut... tut... Sam menghubungi ayah Alina. “Halo?” terdengar suara seorang pria paruh baya di seberang sana. “Halo, pak. Saya Sekretaris Sam dari DDR Group. Saya ingin menyampaikan kabar bahagia, bahwa putri Tuan yang bernama Alina akan segera menikah minggu depan dengan Tuan Muda pemilik perusahaan di mana Alina bekerja,” jelas Sam dengan nada profesional yang dibuat sehalus mungkin. “Benarkah? Tapi kenapa Alina sendiri tidak mengatakannya?” tanya Pak Antony penuh selidik. “Itu karena Nona Muda sedang sangat sibuk untuk menyiapkan segala keperluannya, pak. Beliau meminta saya mewakilinya sementara waktu,” dalih Sam cepat. “Apakah putriku baik-baik saja?” Nada suara Pak Antony terdengar cemas. “Tentu, putri Tuan baik-baik saja. Menjelang hari pernikahan, saya akan mengirim jemputan ke rumah untuk membawa keluarga Tuan kemari.” “Baiklah kalau begitu.” Klik. Telepon dimatikan. Di kampung halaman, Pak Antony segera menceritakan kabar pernikahan putrinya yang mendadak ini kepada istri dan putranya. “Apa?!” teriak Dito dan ibunya, Ameera, bersamaan. “Kalian tenang dulu. Ayah akan mencari tahu kebenarannya. Bagaimana kalau kita hubungi Alina sekarang?” tanya Pak Antony pada Dito dan Ameera. Mereka berdua mengangguk setuju. Tut... tut... tut... “Halo, Nak?” “Halo, Ayah,” jawab suara lembut di seberang sana. “Nak, apakah kau baik-baik saja?” tanya Pak Antony cemas. “Emm... aku baik-baik saja, Ayah,” jawab Alina. Suaranya terdengar sedikit gugup. “Nak, apakah benar kau akan menikah dengan bosmu?” tanya Pak Antony memastikan. Deg. Alina mematung. Tubuhnya gemetar. Apa yang harus aku katakan, ya Tuhan? batin Alina panik. “Nak? Apa kau benar baik-baik saja?” desak Pak Antony saat tak mendengar jawaban. “Eh, i-iya, Ayah. Aku baik-baik saja. Ayah benar... aku akan menikah dengan CEO di perusahaan tempat aku bekerja,” jelas Alina dengan napas tertahan. Ia terpaksa berbohong. “Nak, apa kau mencintai pria itu?” Pertanyaan itu membuat air mata Alina kembali menetes. Ia berpikir sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. “Emm, aku mencintainya, Ayah. Tidak perlu cemas. Aku akan baik-baik saja. Maaf aku belum memberi tahu kalian sebelumnya,” jawab Alina, berusaha terdengar meyakinkan. “Baiklah, Nak. Semoga kau bahagia. Tapi ingat, jika kau ada masalah atau pria itu menyakitimu, tolong cerita sama Ayah. Ayah tidak mau putri Ayah yang cantik ini kenapa-napa.” Hati Alina mencelos mendengar perhatian ayahnya. “Baiklah, Ayah.” “Ya sudah, jaga dirimu baik-baik. Ayah tutup dulu teleponnya.” “Kalian juga. Aku sangat menyayangi kalian semua.” Klik. Sambungan terputus. Ponsel di tangan Alina terjatuh ke kasur. Tak terasa, air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata kini meluncur deras. Sakit. Itulah yang Alina rasakan saat ini. Dadanya terasa sesak mengingat pernikahan paksa karena utang itu sudah ada di depan mata. ‘Tuhan, kenapa harus sesakit ini? Dosa apa yang telah kuperbuat di masa lalu hingga aku harus merasakan hukuman seberat ini?’ lirihnya sambil terisak memeluk bantal. Keesokan harinya, Alina kembali bekerja seperti biasa. Ia berusaha terlihat tegar karena tidak mau membuat sahabatnya khawatir. “Alina!” teriak seorang gadis tomboi yang berlari menghampiri mejanya. “Silvi, kamu apa-apaan sih teriak kayak gitu? Lihat tuh, kita jadi pusat perhatian karyawan lain,” tegur Alina yang tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu. “Kamu ke mana aja, Lin? Aku khawatir, tau! Sudah tiga hari kamu nggak masuk kerja,” cecar Silvi tanpa menghiraukan teguran Alina. “Aku cuma nggak enak badan, kok. Kamu nggak usah khawatir, Vi.” “Kenapa kamu tidak mengabariku? Apakah kau sudah tidak menganggap aku sahabatmu lagi?” tanya Silvi dengan mata menyelidik. “Bukan begitu... aku hanya tidak ingin merepotkanmu saja,” jawab Alina gugup, menghindari tatapan Silvi. ‘Maafkan aku, Silvi. Aku tidak bermaksud berbohong, tapi suatu saat nanti aku pasti akan menceritakan semuanya,’ batin Alina pedih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD