Rencana awal Naya sih dia akan langsung pulang setelah acara di rumah Budhe Nia selesai. Namun tentu saja rencana itu tidak akan terealisasikan. Jika ayahnya tahu Naya datang tapi tidak mampir, pasti sudah dikatai anak durhaka.
Jadilah malam ini Naya singgah di rumah sang ayah sebelum pulang besok pagi. Satrio sampai sekarang masih tinggal bersama ayah mertuanya alias Profesor Adam.
"Selamat malam, Profesor," sapa Naya pada pria yang rambutnya telah memutih itu.
Tidak banyak yang berubah dari Profesor Adam. Dia masih lincah dan asyik diajak ngobrol. Profesor Adam sepertinya adalah pembuktian dari omongan orang bahwa dokter itu panjang umur.
"Selamat malam, Dokter Naya," balas Profesor Adam dengan nada jahil. "Kamu kok pulang nggak ngasih kabar? Lebaran udah lewat lho, Nay."
"Aku tadi ngelayat, Prof. Oh ya, ayah mana?"
Meski telah berhasil memanggil Satrio dengan ayah dan Astrid menjadi bunda, Naya tetap canggung jika harus memanggil Profesor Adam kakek.
"Satrio tadi lagi keluar sama Astrid, paling bentar lagi pulang."
"Oh, kalau gitu aku ke kamar dulu, ya," pamit Naya sebelum melesat ke kamar di lantai dua yang memang disiapkan untuknya.
Naya merebahkan diri ke kasur yang menbuat tubuhnya terpantul pelan. Dia lalu menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah, meniru sayap burung. Ck! Buat apa buru-buru menikah jika itu berarti Naya harus berbagi ranjang?
"Mbak Naya."
Tubuh Naya yangg awalnya berbaring kini terduduk karena panggilan dari luar pintu. Dari suaranya sih sepertinya Dika, adik Naya yang kini sedang menempuh pendidikan kedokteran.
"Masuk, Dik."
"Kok tiba-tiba pulang? Mau nikah?"
Naya berdecih dan melempar bantal pada adiknya itu. Dulu mereka memang canggung, namun sekarang Naya malah lebih akrab dengan Dika daripada adik dari mamanya.
"Ibu kostku meninggal."
Naya melirik ke Dika yang duduk di kursi belajar.
"Kamu udah sampai mana pelajarannya?"
"Lagi latihan suturing pad terus, sih." Tangan Dika bergerak untuk memainkan hiasan di meja belajar Naya.
"Masih suturing pad?"
"Iya."
"Interpretasi EKG gimana?"
Dika menghela napas. Sudah menjadi rahasia umum jika salah satu momok di pendidikan kedokteran adalah interpretasi EKG.
"Aku rasanya mau berhenti aja, deh," ujar Dika dembari menyandarkan punggung ke kursi.
"Terserah kamu sih. Kalau mau berhenti ya berhenti aja."
"Mbak Naya nggak mau ngelarang atau ngasih nasihat apa gitu? Kok malah terserah."
Naya tertawa kecil.
"Ya gimana lagi, Dik? Kamu sendiri kan yang ngejalanin. Kalau kamu udah bilang nggak bisa dan nggak mau, nggak akan ada yang bisa ngubah itu."
"Karena batas kemampuan kita adalah saat kita bilang nggak bisa. Gitu, kan?"
Dika sudah khatam sekali dengan kalimat andalan Naya itu. Setiap dia mengeluh atau ingin menyerah seperti tadi, pasti kata-kata keramat itu keluar dari bibir Naya.
"Itu kamu tahu. Udah ah aku mau turun, kayaknya ayah udah pulang."
Naya bangkit karena tadi sempat mendengar suara mobil sang ayah. Benar saja, sosok pria itu telah duduk di meja makan dengan beberapa makanan di hadapannya.
"Eh, ini kakek-kakek makanannya sembarangan banget. Jangan lupa itu hatinya dijaga."
Naya duduk di sebelah Satrio dan mencomot setusuk sate taichan.
"Hei! Jangan berani panggil aku kakek jika dikau belum memberiku cucu."
Itu lagi, itu lagi! Bahasan Satrio pasti tidak pernah jauh dari pernikahan, cucu, dan jodoh. Memangnya kenapa sih jika Naya belum menikah? Toh Naya cukup bahagia sekarang.
"Kenapa sih nyuruh aku nikah terus? Yoona SNSD seumuran aku juga belum nikah nggak apa-apa, tuh. Selama aku bisa bahagia dengan kelajanganku ini, kenapa nggak?"
"Bahagia setelah menikah tuh beda, Nay. Lagian kamu lajang... Bentar, lajang? Sama yang kemarin dibawa ke sini udah putus?"
Naya mengangguk.
"Udah ganti, tapi tadi malam putus."
Bahu Satrio melemas, lelah sekali dia menghadapi sang putri.
"Kamu nggak kasihan sama ayah? Ayah tuh udah tua, lho. Masa kamu nggak mau ngasih ayah cucu? Ayah kan juga pengin ngerasain ijab qobul gitu."
"Anaknya ayah kan bukan cuma Naya. Itu yang dua lagi disuruh nikah, dong."
"Mereka kan laki-laki. Umur segitu belum nikah nggak apa-apa, Nay. Lagian mereka masih belum pada lulus."
Naya berdecak. Ini nih alasan kenapa semakin banyak feminis yang ingin menunjukkan eksistensi. Masyarakat masih terikat pada pemikiran kolot yang entah kenapa selalu menyudutkan perempuan.
"Kalau belum ada jodohnya ya mau gimana lagi, Yah?"
Wajah Satrio berubah cerah.
"Makanya itu ayah mau jodohin kamu," ujarnya dengan antusias.
Naya memutar bola matanya malas. Itu lagi. Bahasan sejak dia masih kuliah sampai sekarang.
"Siapa lagi, Yah? Ayah lupa pernah jodohin aku sama anak teman ayah yang katanya sempurna, eh taunya cuma nafsuan itu?"
"Yang ini beda, Nay. Ingat nggak sama Dewa? Kemarin ayah ketemu bapaknya Dewa. Kamu mau kan kenalan sama Dewa? Ayah udah lihat fotonya dan cakep, kok. Kamu pasti suka."
"Dewa? Kayaknya ayah udah lama banget nggak nyebut-nyebut dia. Kok ini tiba-tiba mau jodohin aku sama dia lagi?"
Satrio tertawa pelan.
"Dewa kemarin udah nikah, makanya ayah nggak mau jodohin kamu sama dia lagi."
"AYAH NYURUH AKU JADI ISTRI KEDUA?!" seru Naya dengan mata melebar.
Satrio segera melambaikan kedua tangannya di udara.
"Nggak, bukan gitu. Kemarin ayah baru tahu kalau istrinya udah meninggal beberapa tahun, makanya sekarang dia lajang. Kamu mau ya ketemu sama Dewa?"
"Ayaaaaaah! Dewa masih jomblo aja dulu aku ogah, sekarang malah duda."
"Dulu kan kamu udah ada pacar. Mumpung sekarang kamu lagi nggak sama siapa-siapa."
Naya memasang wajah cemberut. Kesannya kok seperti dia tak becus mencari calon suami sendiri, sih?
"Udah dicoba dulu."
Naya menoleh saat merasakan belaian di pundaknya. Astrid tersenyum dan duduk di sebelahnya.
"Harus banget ya ketemu sama dia? Naya males ah kalau nanti cuma kayak yang kemarin."
"Ketemu dulu kan nggak ada salahnya, Nay. Nanti kalau kalian udah kenal tapi kamu mau nolak juga boleh," bujuk Astrid.
"Asal kamu jangan dikit-dikit nyari kekurangan dia," sambung Satrio.
Naya tak menjawab, malah memainkan beberapa sate yang berada di piring.
"Nay, kita pengin kamu segera nikah bukan semata-mata karena keinginan kita doang."
"Naya nggak nikah udah bahagia, kok."
"Mama kamu lebih bahagia kalau bisa lihat kamu nikah."
Gerakan tangan Naya terhenti. Ia melirik pada Astrid yang kini menatapnya lembut. Meski tak seperti Satrio yang blak-blakan, Naya tahu jika mama dan papanya ingin agar dia segera menikah.
"Tapi kalau nggak cocok aku boleh nolak, kan?"
"Boleh, Nay, yang penting kamu coba dulu."
***
Setelah didesak sang ayah selama sebulan, Naya akhirnya menyanggupi. Siang ini dia telah berada di restoran dekat rumah sakit tempatnya bekerja. Matanya tampak mencari-cari sosok Dewa yang katanya tampan itu.
Naya menopangkan dagu di tangan. Awas saja jika Dewa tidak setampan yang ayahnya ceritakan. Meski dia tampan pun, Naya tetap tak yakin jika lelaki itu akan menjadi suaminya.
Maksudnya, Dewa itu duda. Duda! Masa iya Naya yang masih perawan ting-ting ini harus menikah dengan duda? Untungnya sih Dewa tidak punya anak. Jika lelaki itu telah memiliki buntut, Naya bakal lari jauh-jauh.
Kesal menunggu, Naya memilih untuk menelepon sang ayah.
"Gimana Nay, udah ketemu?"
"Ck! Orangnya ditungguin dari tadi nggak dateng-dateng. Dia niat nggak sih?"
"Sabar dong. Dewa kan dari luar kota langsung ke situ demi nemuin kamu."
"Ya ini udah hampir satu jam Naya nunggu."
Naya merengut ketika tak sengaja menyenggol garpu hingga jatuh berdenting. Ia kemudian menunduk untuk mengambil garpu itu.
"Yah, kayaknya udah dateng," ujar Naya ketika melihat sepasang kaki yang mendekat ke mejanya. Dilihat dari kolong meja seperti ini sih langkahnya cukup meyakinkan.
"Maaf saya telat." Suara berat itu, terdengar di telinga Naya.
Naya buru-buru bangkit dari posisinya. Begitu melihat lelaki dengan kemeja biru laut itu, mata Naya mengerjap pelan.
"Gimana? Ganteng, kan?"
"I... Iya, Yah. Banget."
***