Sekarang Naya paham kenapa Satrio sangat yakin bahwa Dewa adalah tipe Naya. Ya, itu kenyataannya. Dewa adalah tipe Naya sekali.
Helaan napas lembut keluar dari hidung Naya, mengeluarkan perasaan tak habis pikirnya. Matanya menelisik pria yang kini duduk di hadapannya.
"Sejak kapan nama kamu Dewa?"
Pria tadi berdehem pelan, lalu tersenyun manis.
"Dewata Angkasa, Dean," jawabnya dengan hati-hati. Meski terkesan datar, pria itu tak mampu menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.
Satu jam yang lalu, dia masih sempat melayangkan protes pada sang ayah. Selama ini Dean baik-baik saja dengan statusnya sebagai duda. Tak ada hal mendesak yang membuatnya perlu menikah lagi dalam waktu dekat. Jika ingin menikah pun, dia bisa mencari istri sendiri tanpa harus melalui perjodohan seperti ini.
Namun begitu melihat sosok yang dijodohkan dengannya, Dean jadi ingin berterima kasih pada sang ayah. Wanita yang bertahun-tahun mematri rindu di dadanya tiba-tiba saja muncul. Tak ada lagi rambut sepundak atau baju kasual seperti yang Dean lihat dulu. Naya telah berubah menjadi wanita dewasa.
Perubahan itu berhasil membuat mata Dean tak berkedip. Dia cantik, selalu cantik. Polesan lipstik merah yang berani sangat cocok dengan fit dress marun yang ia kenakan.
Dean menelan ludah, berusaha bersikap setenang mungkin.
"Kamu apa kabar, Nay?"
"Hampir tiga puluh tahun tapi belum nikah sampai harus dijodohkan, menurut kamu kabar baik atau buruk?"
Selain penampilannya yang berubah, hal ini juga Dean sadari. Cara Naya bersikap padanya berbeda 180 derajat. Jika dulu Naya akan bertutur kata dengan lembut, manja, dan sedikit kekanakan, kini ia terkesan acuh dan kasar. Dean tidak akan protes, karena dia bisa maklum.
"Baik."
Mata Naya melotot mendengar ucapan Dean. Baik katanya? Sekarang Naya sedang malu setengah mati karena harus bertemu Dean lagi dengan keadaan dia sebagai perawan tua. Padahal dulu dia pernah berkata akan mencari suami yang jauh lebih baik dari Dean.
"Baik kamu bilang?"
"Iya. Kalau kamu udah nikah, kita nggak akan ada di sini sekarang. Aku... Nggak akan ketemu kamu lagi."
Naya menatap netra yang tampak sedikit gugup itu. Di mana Dean yang ia kenal? Dean yang tatapannya tajam dan dingin sampai-sampai Naya ingin melarikan diri tiap ditatap olehnya.
Jika Satrio tak bisa langsung mengenali Dean, Naya paham. Dean memang sedikit berubah dari yang terakhir dia ingat. Pipinya tak chubby seperti dulu. Tubuhnya juga lebih tegap dan terbentuk. Dan lagi, hampir sepuluh tahun tak bertemu tentu saja Satrio tak bisa langsung mengenalinya.
"Kamu udah tahu dari awal soal ini?"
Dean menggeleng pelan.
"Ayah bilang nama kamu Maya."
Hidung Naya berkerut karena kebetulan yang tidak pernah ia duga ini. Dean? All of sudden? Alih-alih senang, Naya justru marah melihat sosok itu ada di depannya.
"Kata ayah kalau nggak cocok boleh nolak. Tolong bilangin orang tua kamu perjodohannya gagal."
"Nay." Dean memegang tangan Naya yang berjalan keluar restoran.
Naya menunduk hanya untuk memberi tatapan tajam pada Dean.
"Apa?" tanya Naya ketus.
Dean bangkit dari tempat duduknya hinga dia berhadapan dengan Naya. Beberapa orang di restoran kini melirik mereka berdua.
"Kita di sini buat saling kenal, Nay. Kenapa kita nggak coba dulu? Kita bisa mulai semuanya dari awal lagi."
Naya tersenyum sinis. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Dean.
"Setelah semuanya?"
"Nay, kita coba dulu."
"Nggak mau!" Naya menepis tangan Dean sebelum berjalan meninggalkan pria itu.
Dean tak mengejar. Ia tetap berdiri di tempatnya sambil menatap punggung Naya yang mulai menjauh. Dari balik dinding kaca restoran, dapat ia lihat Naya berjalan ke mobil BMW putih. Belum juga membuka pintu mobil, Naya malah berbalik dan masuk ke restoran lagi.
Dean menatap Naya yang mendekat. Wanita itu melewati tubuhnya untuk meraih tas di meja.
"Tasku ketinggalan," ujar Naya cepat.
Dean hanya tersenyum tipis. Matanya masih sibuk meneliti tampilan Naya. Dean tidak tahu apakah Naya bertambah tinggi atau tidak karena ada highheels yang melekat di kakinya.
"Dewa," panggil Naya pelan. Ada rasa kecewa ketika panggilan "Mas Dean" yang dulu Naya sematkan kini telah berganti.
"Iya Naya?"
"Aku harap kita nggak usah ketemu lagi. Anggap aja hari ini nggak pernah terjadi."
"Aku nggak bisa."
"Kenapa nggak? Sepuluh tahun kamu bisa, kok."
Naya memberi lirikan tajam sebelum kembali keluar dari restoran.
***
Bantal kecil yang berada di ujung sofa kini harus merasakan kepahitan. Sejak setengah jam yang lalu, bantal abu-abu itu menjadi pelampiasan Naya. Diremas, dipukul, dibanting, bahkan digigit.
"ARGHHHHHH!"
Tampak belum puas, Naya memukuli bantal itu beberapa kali lagi. Dalam pikiran Naya kini berseliweran segala hal yang membuatnya marah, sedih, kecewa, dan gemas dalam satu waktu.
Dewa adalah Dean. Kebetulan macam apa itu? Bisa-bisanya dia tidak tahu jika orang yang dulu sempat dibangga-banggakan sang ayah adalah kekasihnya sendiri.
Rasa jengkel menyelimuti d**a Naya saat mengingat reaksi Satrio. Belum sempat Naya mengatakan ingin membatalkan perjodohan, Satrio sudah heboh sendiri. Katanya ini takdir Tuhan. Naya dan Dean dipertemukan kembali karena mereka berdua adalah jodoh. Bahkan pria paruh baya itu sudah semangat mengusulkan tanggal dan tempat pernikahan.
Dan bagaikan daun gugur milik pohon tetangga, berita itu cepat sekali menyebar. Grup keluarga sudah gencar menanyai Naya soal kelanjutan hubungannya dengan Dean. Maksud hati ingin memberitahu untuk dibatalkan, eh, malah diaminkan.
Naya menatap kesal bantal abu-abu di pangkuannya. Mereka pikir semudah itu, ya? Hanya karena dia dan Dean pernah menjalin hubungan di masa lalu, bukan berarti itu bisa diulang, kan?
Sesaat Naya terdiam. Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu yang ia lewatkan. Jika Dean adalah Dewa, artinya... Dean duda?
"Ih nyebeliiin!!"
Naya melempar bantal tadi jauh, bahkan hampir menyenggol televisi. Sekarang kekesalannya telah sampai di puncak. Selama sepuluh tahun Naya terus bergonta-ganti pacar tanpa bisa menemukan sosok yang tepat untuk dinikahi. Tapi lelaki itu? Sepertinya mudah sekali baginya membuka hati dan menikah dengan perempuan lain.
Tidak mau! Pokoknya Naya tidak mau kalau harus menikah dengan Dean. Naya tahu Dean senang bertemu dengannya kembali. Namun bagi Naya sekarang, semakin Dean bahagia, maka semakin Naya kesal. Naya tidak mau membuat Dean merasa menang karena bisa menikahinya.
***
Dean sudah lupa kapan terakhir kali ia menyentuh dapur pribadi. Sudah cukup lama sejak dia memilih bahan dan mengolahnya dengan penuh perasaan. Selama ini, Dean hanya memasuki dapur jika itu berhubungan dengan Pabrik makanan miliknya.
Menurut orang-orang di sekitarnya, sih, Dean mulai melupakan hobinya itu sejak tiga tahun lalu, saat istrinya meninggal dunia. Dean jadi sendu, tak bersemangat, dan selalu menyibukkan diri untuk bekerja tanpa mau mencari hiburan.
Tapi pertemuannya dengan Naya kemarin sepertinya akan membawa perubahan besar bagi Dean, sekali lagi. Bertemu dengan Naya kembali sebagai orang yang akan dijodohkan dengannya adalah salah satu dari daftar keajaiban dunia versi Dean. Seajaib itukah Naya? Iya, karena wanita itu berhasil membuat Dean berkutat di dapur selama berjam-jam hari ini.
Mata Dean menatap bangga kotak bekal di tangannya. Dia tahu Naya akan menolak mentah-mentah jika diajak makan bersama. Kalau begitu, kenapa tidak Dean saja yang mendatanginya?
Setelah bertanya pada satpam, Dean kini melangkah menuju kantin rumah sakit. Kantin ini sebenarnya kantin karyawan rumah sakit, namun pengunjung boleh ikut membeli makanan di sini.
Sudut bibir Dean naik saat melihat sosok Naya dari kejauhan. Ini pertama kalinya Dean melihat Naya berpenampilan sebagai dokter, bukan hanya mahasiswi kedokteran.
Baru dua langkah berjalan, Dean berhenti karena ada lelaki lain yang bergabung dengan Naya. Dari gelagatnya sih mereka terlihat akrab.
Ah, tidak mungkin. Ia dan Naya dijodohkan sebelum ini. Tidak mungkin kan Naya dijodohkan jika dia memiliki kekasih?
* * *