Dean berjalan pelan menghampiri dua orang yang sedang bercakap itu. Sedikit perasaan lega terukir di d**a Dean ketika melihat hanya ada sebotol minuman ringan dan sebungkus roti di depan Naya.
"Dokter Naya," panggil Dean ketika dia satu meter di belakang Naya.
"Iya?"
Naya menoleh dengan senyuman ramah. Namun senyuman itu langsung menghilang begitu melihat siapa yang memanggilnya. Dapat Dean dengar Naya berdecak sebelum berbalik memunggungi Naya lagi. Tak mendapat respons yang baik, Dean akhirnya duduk di sebelah Naya. Ia letakkan kotak bekal di atas meja.
"Rica-rica ayam buat kamu."
Naya hanya mendengus pelan, tak tertarik sama sekali.
"Siapa, Dok?" Pria di depan Naya tampak bingung.
"Tau, tuh," ujar Naya ketus
"Kamu nggak mau rica-ricanya?" Dean masih mencoba membujuk Naya.
"Aku nggak akan mau makan makanan apapun yang berhubungan sama kamu."
"Apapun?" Dean menaikkan salah satu alisnya.
"Ya, apapun!"
Naya meraih roti yang telah dibuka, lalu menggigitnya. Ia mengunyah tanpa melihat ke arah Dean sama sekali.
"Nay."
"Apa?!"
"Coba dilihat bungkus rotinya."
Naya sebenarnya malas berbicara dengan Dean, namun entah kenapa dia malah menuruti kata-kata Dean. Naya membalik bungkusan dan menemukan nama merek beserta perusahaan yang menaungi merek itu, Javaras Food.
Tanpa Naya sadari, Dean telah mengeluarkan dompet dan mengambil selembar kartu dari sana. Kartu itu Dean sodorkan ke Naya dan dokter laki-laki di depannya.
"Dewata Angkasa, founder Javaras Food."
Dokter di depan Naya membalas uluran tangan Dean.
"Alder, dokter bedah anak."
Jangan tanya keadaan Naya karena sekarang dia sedang terdiam membaca situasi. Jika Dean adalah pemilik Javaras Food, artinya roti yang menjadi camilan favorit Naya tiga bulan terakhir ini miliknya juga?
"Kalau nggak salah dulu aku pernah bikinin roti yang resepnya hampir mirip. Kamu ingat?"
Naya melirik Dean dan roti di tangannya bergantian. Kemudian, roti s**u itu ia letakkan di meja kantin.
"Pantes nggak enak. Aku beli itu soalnya emang tinggal itu."
"Bukannya itu roti kesukaan kamu?" tanya Alder sukses membuat Naya mendelik.
"Dokter Alder bukannya mau ketemu residen, ya?"
Naya memberi kode dengan kedipan mata. Alder yang sudab mengerti hanya tersenyum kecil sebelum pamit pada Naya dan Dean.
"Ngapain sih ke sini?" tanya Naya begitu Alder tak terlihat lagi.
"Ngasih kamu makan siang, Naya."
"Kamu pikir aku nggak bisa beli makanan sendiri? Aku nggak butuh makanan dari kamu. Awas kalau besok ke sini lagi."
"Kalau aku ke sini lagi?"
"Kamu yang aku rica-rica."
"Boleh," ucap Dean pelan.
Naya memasang wajah sebal. Apa ancamannya kemarin masih kurang, ya?
"Aku boleh nanya sesuatu?"
"Boleh asal kamu langsung pergi habis nanya."
Dean mengangguk setuju.
"Kamu... Kenapa belum nikah?"
Pertanyaan Dean yang sederhana itu dicerna dengan cara yang sangat rumit oleh otak Naya. Apa maksud Dean menanyakan hal itu? Menghina Naya?
"Karena aku cantik, pintar, punya pekerjaan bagus, dan kaya. Orang kayak aku, nggak bisa nikah sama sembarang orang. Aku mau lelaki yang sempurna. Lelaki yang bisa bahagiain aku seumur hidup."
Dean yang menatap Naya menghela napas pelan.
"Kamu bohong, Nay. Aku selalu tahu kalau kamu bohong."
Mata mereka kini saling mengunci satu sama lain.
"Ini udah sepuluh tahun, Dean. Apa yang kamu tahu dulu, belum tentu sama sama apa yang kamu tahu sekarang. Aku udah berubah, kamu juga. Mungkin kita emang beneran nggak jodoh."
"Kenapa nggak? Kita sama-sama sendiri sekarang. Dan kalau tadi alasan kamu belum nikah itu beneran, aku bisa jadi orang itu. Lelaki sempurna yang akan bahagiain kamu seumur hidup."
Bola mata Naya bergerak untuk menyusuri wajah serius Dean.
"Kamu tuh..."
Naya tak meneruskan kalimatnya. Ia bangkit dan pergi dengan tangan berada di saku jas. Dean hanya diam. Daripada Naya marah-marah lagi karena Dean mengejarnya, lebih baik Dean duduk di sini sambil memakan rica-rica yang ia bawa.
***
Malamnya, Naya dikejutkan dengan kehadiran Dean beserta mobilnya. Pria itu telah menunggu di depan rumah Naya bahkan sebelum Naya sampai rumah.
"Tahu rumahku dari mana?" tanya Naya pada Dean yang duduk di kursi teras.
"Dari Om Satrio."
Dean tersenyum canggung. Dia tahu Naya akan bereaksi seperti ini, tapi apa wanita itu tidak lelah terus berbicara dengan nada ketus hampir membentak begitu?
"Mau ngapain?"
"Ngajak kamu makan."
"Nggak usah."
Naya berjalan lurus ke pintu, namun segera disusul Dean.
"Kalau kamu nggak mau ikut aku, aku aja yang masuk ke rumah kamu."
Dean buru-buru menutup mulut saat Naya berbalik dan menatapnya tajam.
"Kamu udah gila? Ini udah malam dan aku nggak mau ya digrebek gara-gara masukin cowok."
"Kalau aku sih nggak apa-apa. Malah bersyukur kalau digrebek warga terus dinikahin sekalian."
"Apaan, sih?" Naya mendengus keras.
"Tunggu, deh. Berarti kalau aku ke sini bukan malam boleh masuk ke rumah kamu?"
"Nggak."
"Nay."
"Kamu ngerti nggak sih kalau aku capek? Aku buru-buru pulang mau makan, mandi, terus tidur. Kamu ngapain sih gangguin aku terus?"
"Berarti kamu belum makan, kan?"
Naya memutar bola matanya malas. Sepertinya Dean akan terus ngotot sampai Naya mau memenuhi kemauannya. Seingat Naya dulu Dean tidak begini. Dulu Dean selalu menuruti apapun keputusan Naya, bukan menuntut begini.
"Nasi goreng kambing."
"Oke."
Wajah Dean langsung berubah cerah. Ia bahkan bersenandung kecil selama perjalanan menuju warung nasi goreng. Warung itu hanya di ujung jalan, tak jauh dari rumah Naya. Naya sengaja memilih tempat itu karena tidak mau berlama-lama di dalam mobil berdua dengan Dean.
Bau gurih langsung tercium begitu mas-mas penjual mulai memasak. Di sebelah mas-mas itu ada perempuan muda yang mungkin istrinya sedang membuat minuman.
"Silahkan," ujar si perempuan sambil meletakkan minuman yang dipesan Naya dan Dean.
Naya hanya tersenyum pada perempuan itu. Meskipun dekat dengan rumahnya, Naya jarang ke sini. Jika ke sini pun Naya akan membungkus nasi gorengnya.
Kobaran api yang menyala di bawah wajan menarik perhatian Naya. Mas-mas penjual itu dengan terampil mencampurkan bahan, lalu mengaduk nasi gorengnya.
Tiba-tiba saja Naya terpikir sesuatu. Sepanjang dia membeli nasi goreng, seringkali yang lelakilah yang memasak. Jika ada perempuan, dia hanya akan membantu beberes atau membuatkan minuman. Kenapa begitu? Kenapa jarang perempuannya yang memasak?
"Mikirin apa?" tanya Dean lembut.
"Kenapa kebanyakan penjual nasi goreng yang masak cowok? Padahal kan biasanya cewek lebih jago masak."
Dean menganggukkan kepalanya. Tangan kanannya lalu menunjuk ke wajan yang masih digunakan si penjual.
"Wajan sebesar itu bisa nampung mungkin sampai lima porsi. Kalau satu porsi nasi goreng itu 150 gram, artinya sekali masak bisa sampai 750 gram. Itu pun belum ditambah daging, kubis, sama yang lainnya. Ngaduk nasi goreng biar campurannya rata tuh berat, makanya biasanya laki-laki. "
Naya smapai tidak berkedip mendengar penjelasan Dean. Kalimat panjang Dean tadi bisa saja disingkat menjadi "Ngaduk nasi goreng itu berat."
"Kamu sekarang banyak omong."
"Kamu sekarang judes."
"Cuma ke kamu."
"Ayah nanya kapan kita mau nikah."
"Siapa yang mau nikah?! "
Naya meletakkan piring yang baru diterimanya dengan sedikit keras. Belum sempat Dean membela diri, sebuah telepon menginterupsi keduanya.
"Malam, Mas."
Dean sedikit tidak suka mendengar suara Naya melembut saat menjawab telepon. Apa itu tadi? Mas?
"Iya, tadi udah aku kasih rujukan. Iya, Mas."
Dean meremas krupuk ke nasi gorengnya.
"Jangan lupa bilangin ke Nia, ya. Makasih, Mas."
"Siapa, tuh?" tanya Dean dengan wajah penuh selidik.
"Bukan urusan kamu."
***