"Cemburu?" tanya Naya.
Tiba-tiba saja Dean jadi diam dengan dahi sedikit berkerut. Dean yang sedang melahap nasi goreng menggeleng.
"Aku nggak akan cemburu sebelum kita nikah."
Naya yang mendengar itu kontan meletakkan sendok dan garpunya hingga mengeluarkan suara berdenting.
"Nikah, nikah! Siapa yang mau nikah sama kamu? Mending juga aku nikah tukang nasi goreng."
"SUAMI SAYA, MBAK!"
Sepasang suami istri yang tadi sedang menonton video bersama di bangku ujung kini melihat ke arah Naya. Si istri merangkul suaminya posesif sedang sang lelaki hanya cengar-cengir. Ya... Siapa tahu Naya benar-benar berniat jadi istrinya.
"Maaf, Mbak, nggak serius, kok," ujar Naya.
Dean tersenyum geli melihat wajah Naya yang jadi canggung.
"Kamu masih nggak mau ngasih tahu siapa yang nelepon?" tanya Dean lagi.
"Katanya nggak cemburu."
"Penasaran."
"Yang tadi di kantin."
"Al... Alden?" Alis Dean terangkat saat mengingat nama pria yang berkenalan dengannya tadi.
"Alder," ucap Naya mengoreksi.
"Masalah pasien?"
"Dijelasin juga paling kamu nggak ngerti," ucap Naya ketus.
"Oke." Dean menganggukkan kepala. "Rumah kamu besar. Kamu nggak mau gitu punya teman di rumah? Kan kalau kamu sendiri pasti sepi."
"Nggak."
"Kerjaan kamu gimana? Pasiennya nurut sama kamu? Dulu kan kamu takut banget kalau dapet pasien bandel."
"Kamu sekarang cerewet."
"Kamu sekarang judes."
"Nggak," elak Naya cepat. "Aku cuma judes ke kamu," lanjutnya.
"Kok gitu?" tanya Dean.
"Kok gitu? Kamu nggak pura-pura bodoh, kan?"
Naya menarik tisu untuk mengelap bibirnya. Ia kemudian bangkit karena merasa kenyang. Meski makanannya belum habis, Dean ikut bangkit menyusul Naya. Biarlah perutnya tak terisi penuh. Bisa melihat Naya makan di hadapannya saja Dean sudah sangat bersyukur.
Sepanjang perjalanan ke rumah Naya, Dean terus tersenyum, yang mana membuat Naya merasa kesal. Bisa-bisanya pria ini tersenyum seakan-akan semua baik-baik saja.
"Ngapain senyam-senyum?"
"Seneng bisa makan bareng kamu lagi. Kapan-kapan aku masakin, ya? Dulu kan kamu..."
"Bisa nggak berhenti ngomong 'dulu'? Sekarang ya sekarang. Jangan bahas sesuatu yang udah terjadi bertahun-tahun yang lalu."
Dean menggigit bibir pelan sebelum kemudian mengangguk.
Saat mobil Dean berhenti di depan rumahnya, Naya tak langsung turun. Obrolannya dengan Alder mengingatkannya akan sesuatu.
"Kenapa?" tanya Dean sambil tersenyum saat Naya malah menatapnya alih-alih turun dari mobil.
"Kamu kenapa nggak datang di pemakaman budhe Nia?"
Pertanyaan Naya sukses membuat senyum di wajah Dean memudar. Mata Dean bergerak pelan, menerawang sesuatu. Dia lalu menoleh lagi ke arah Naya yang masih menunggu jawaban.
"Budhe Nia meninggal?"
Melihat Dean yang balik bertanya, Naya menghela napas pelan.
"Kayaknya kamu terlalu sibuk sama kehidupan baru kamu di Amerika."
Naya kemudian keluar dari mobil, meninggalkan Dean yang tampak merenung.
***
Jam bulat yang tertempel di dinding berdetak pelan. Jarum pendek berada di antara angka tiga dan empat, sementara jarum panjangnya di angka lima. Naya masih berada di ruangan tempatnya melayani pasien.
"Jadi dari hasil pemeriksaan, Aisya harus operasi ya, Bu. Nanti opname dulu buat dikasih antibiotik," ucap Naya setelah melihat beberapa lembar hasil pemeriksaan.
Seorang ibu muda yang merupakan ibu sekaligus wali Aisya mengerutkan kening.
"Harus operasi, Dok?"
"Iya, Bu. Infeksi usus buntunya Aisya ini sudah parah, jadi harus dioperasi. Kasihan juga Aisya sudah kesakitan."
Naya tersenyum manis sambil mengusap pelipis sang gadis yang wajahnya tampak sendu itu.
"Tapi, Dok, saya lihat di internet nggak harus operasi, kok. Katanya kalau kita kasih bawang putih sama minyak jarak bisa sembuh, tuh, Dok. Nggak bisa dicoba dulu, ya?"
Naya berusaha keras untuk menahan senyumannya. Ini bukan pertama kali dia mendapat pasien yang lebih percaya internet seperti ini. Kadang, Naya bahkan akan mengomel jika ada pasien dengan keadaan memburuk karena diberi ramuan yang tidak-tidak oleh pihak keluarga. Padahal jika dibawa ke dokter, keadaannya tidak akan terlalu parah.
"Begini, Bu. Dari hasil pemeriksaan Aisya, di usunya itu telah terjadi abses. Abses ini adalah benjolan isinya nanah dan harus segera dikeluarkan nanahnya. Jadi mau nggak mau Aisya harus dioperasi sebelum absesnya pecah."
"Oh... Gitu. Ya udah dioperasi aja nggak apa-apa, nanti biar langsung saya bayar biayanya."
Ibu-ibu tadi mengelus rambutnya, lalu membawa ke belakang telinga, seperti sengaja memamerkan anting emas yang bertengger di telinganya. Suster Naya bahkan sempat meringis saat melihat penampilannya yang seperti ingin ke mall daripada mengantar anaknya berobat.
Naya meraih kalender kecil di meja dan spidol dari saku jasnya. Ia melihat beberapa tanggal yang belum dilingkari.
"Untuk jadwal operasinya nanti..."
"Dokter yang operasi?" tanya sang ibu.
Naya mengerjap dengan bingung, namun masih memasang senyum.
"Iya, Bu, nanti saya sendiri yang mengoperasi Aisya."
"Aduh!"
Si ibu menghempaskan tubuh ke kursi, membuat Naya makin terheran. Koas dan residen yang berdiri di belakang Naya saling menatap bingung.
"Kenapa ya, Bu?"
"Maaf ya, Dok, ini saya nggak bermaksud menyinggung. Tapi Aisya ini kan masih tiga belas tahun, masa dokter yang operasi?"
"Memangnya kenapa, Bu?"
Naya meletakkan kalendernya pelan.
"Kok kenapa." Ibu tadi tertawa pelan. "Aisya kan termasuk anak-anak, masa dioperasi sama dokter bedah biasa? Harusnya kan dia dioperasi dokter anak."
Melihat kondisi Aisya yang tampak lemah membuat Naya tak mampu mengomel. Dia menarik napas pelan untuk mengisi stok kesabaran.
"Bu, kalau operasi usu buntu masih smaa saya, kok. Dokter bedah anak itu memang menangani operasi pada anak sampai usia delapn belas tahun, tapi nggak semuanya, Bu. Ada beberapa operasi yang memang bisa ditangani dokter bedah umum."
Si ibu berdecak pelan, tanda tak puas akan jawaban Naya.
"Ya udah deh nggak apa-apa sama dokter. Tapi beneran dokter ya! Awas aja kalau koas yang ngeoperasi."
Mata si ibu menatap galak koas dan residen di belakang Naya.
***
"Serius ibunya ngomong gitu?"
Alder sedikit terbahak mendengar cerita Naya. Naya mendengus. Dia kesal setengah mati, kenapa lelaki di depannya ini malah tertawa?
"Iya. Nyebelin tapi aku juga nggak bisa marah. Masa anaknya udah lemes gitu minta dikasih bawang sama minyak dulu. Itu kalau abses keburu pecah gimana? Terus kelihatan banget dia ngeremehin aku," gerutu Naya.
"Ibunya belum tahu aja kalau kamu dokter paling rajin di sini."
"Aku tuh tahu orang-orang menganggap dokter itu manusia mulia. Tapi semulia-mulianya dokter, kita tetap manusia, kan? Nggak mungkin kali kita sengaja berbuat yang nggak-nggak ke pasien. Ini malah lebih percaya internet."
Sebuah cekungan tercipta di pipi kanan Alder saat tersenyum pada Naya. Mereka sedang berada di ruangan yang menjadi kantor dokter bedah beserta residen. Untungnya hanya mereka berdua yang ada di sini, jadi Naya bisa bebas bercerita pada Alder.
"Dulu pekerjaan dokter terhambat karena kurangnya informasi. Orang jadi takut dan belum mau percaya sama kita. Sekarang dokter terhambat karena kemajuan informasi. Orang-orang jadi gampang kemakan berita-berita palsu."
Naya mengangguk setuju. Memang sih pengobatan tradisional tidak sepenuhnya salah, namun banyak penyakit yang tidak bisa disembuhkan begitu saja hanya dengan rempah-rempah segala macamnya.
"Nay, ceritain dong cowok yang waktu itu ketemu di kantin. Dia yang dijodohin ayah kamu itu, kan?" tanya Alder antusias.
Naya jadi ingat, sudah cukup lama Dean tidak menemuinya lagi. Ini membuat Naya semakin dongkol. Ternyata usaha Dean mendekatinya lagi hanya segini.
"Udah pernah."
"Masa, sih? Kayaknya belum."
Alder mengerutkan kening, berusaha mengingat di cerita yang mana Dean muncul. Meski usia mereka terpaut cukup jauh, Naya tidak sungkan bercerita banyak hal pada Alder. Dia bahkan tahu sosok-sosok yang pernah menjalin hubungan dengan perempuan itu, termasuk dirinya sendiri.
"Jangan-jangan..." Alder menyipitkan mata. "Pas kamu kuliah, ya? Yang ninggalin kamu waktu lagi sayang-sayangnya?"
Naya mengangguk lesu. Memang demikian adanya. Dean meninggalkan Naya saat Naya sangat menyayangi lelaki itu. Mana pergi tanpa pamit, lagi!
"Wow. Terus artinya CLBK, dong?"
"Nggak!"
"Kok nggak? Dari gelagatnya sih dia jelas deketin kamu. Pasti kaya. Javaras Food kan produknya banyak, Nay."
Naya menggeleng.
"Dia duda."
***