JANGAN LUPA VOTE DAN KOMENTAR KARENA DREAME INNOVEL LAGI BANYAK EVENT! KALIAN JUGA BISA MENANG HADIAH.
"Dia duda."
Alder menatap heran Naya yang wajahnya telah ditekuk.
"Emang kenapa kalau dia duda?"
"Ya berarti pernah nikah."
"Di mana-mana yang namanya duda pasti pernah nikah. Apa salahnya?"
Naya memutar kursi berodanya hingga jiia menghadap ke Alder. Meja mereka memang bersebelahan, jadi mudah untuk mengobrol.
"Berarti dia pernah cinta sama cewek lain. Hitungannya dia ngekhianatin aku, dong."
Alder menggelengkan kepala pelan.
"Waktu dia pergi kalian udah putus, kan? Lagian itu udah sepuluh tahun. Wajar kalau selama sepuluh tahun ini dia ketemu orang baru. Kamu juga gonta-ganti pacar."
"Aku dulu pernah ngira dia bakal pulang nyariin aku habis kuliahnya beres. Eh taunya pulang-pulang udah jadi duda," gerutu Naya.
"Nggak ada salahnya kamu coba dulu."
"Mas Alder pikir aku ketemuan sama dia tuh bukan mencoba, ya?"
Alder menyeringai tipis.
"Bukan cuma sikap kamu aja yang perlu terbuka lagi ke dia. Hati kamu juga, tuh."
"Mas Alder beneran nyuruh aku nimah sama duda itu?"
"Kenapa nggak? Dia mantan terindah kamu."
"Terindah apanya? Kamu tau sendiri dia udah bikin aku sakit hati."
"Tapi pernah jadi orang paling spesial, kan?"
"Tapi duda."
"Duda lebih berpengalaman, Nay. Lebih jago, tau."
"Ya tapi, Mas..."
Kalimat Naya terpotong oleh pintu ruangan yang dibuka. Segera Naya menggerakkan kursi ke posisi semula.
Dua orang residen dan dua orang koas memasuki ruangan.
"Malam, Dok, malam, Prof," sapa mereka satu persatu pada Naya dan Alder.
Naya dan Alder hanya mengangguk. Melihat seorang residen bernama Marina sedang memoleskan lipstik, Naya jadi jahil.
"Marina menari di atas menara, di atas menara menari Marina."
Marina menoleh canggung ke Naya yang belum berhenti bernyanyi. Malah sekarang suaranya berpadu dengan Alder.
"Menari Marina di atas menara, menara di atas Marina menari."
Naya dan Alder tertawa pelan begitu lagu mereka berakhir. Dulu mereka sering menjadikan lagu ini sebagai tantangan.
Narnia, residen yang satu angkatan dengan Marina hanya dapat menatap Alder dan Naya yang sedang tertawa.
"Dokter sukanya gitu, deh. Saya kan jadi malu," protes Marina.
"Zaidan mana?"
Naya melihat ke arah pintu, mencari keberadaan residen bedah umum yang lain.
"Zaidan lagi bantu hemikolektemi, Dok."
"Oh, kamu habis ini kosong? Bantu operasi saya, ya?"
"Iya, Dok, boleh."
Narnia di ujung ruangan dengan cepat menoleh. Pasalnya, tadi sore Naya telah mengiyakan permintaan Narnia untuk dibantu operasi kali ini.
"Bukannya dokter udah bilang mau sama saya aja?" tanya Narnia.
Naya sedikit membuka mulutnya, lalu menepuk dahi tanda melupakan sesuatu.
"Aduh saya lupa. Saya sekarang sama Marina nggak apa-apa, kan? Satu jam lagi Profesor Alder juga operasi. Kamu bantu dia aja."
Naya menoleh pada Alder. Alder ini adalah dokter bedah yang cekatan dan jarang meminta ditemani residen. Alder hanya melirik Narnia sekilas sebelum kembali ke layar komputer.
"Tuh dia gitu artinya boleh. Maaf ya Nia Ramadhani, kamu sama saya lain kali aja. Nggak apa-apa, kan?"
Narnia mengangguk pelan. Dia sengaja ingin membantu operasi Naya karena tidak ingin berada di dekat Alder.
"Yuk, Mar! Ngapain tebel-tebel itu lipstiknya? Habis ini juga pakai masker, kok."
Naya menatap jengkel pada Marina yang masih setia dengan gincunya. Ajaib sekali si Marina ini. Di saat residen lain tampil pucat dan wajah lelah, dia malah senantiasa full make up. Padahal juga tak ada yang memperhatikan make upnya.
***
Usai menjalani operasi yang tak terlalu lama, Naya janjian makan malam dengan Alma, seorang dokter anestesi. Sebagai dokter bedah, Naya sering sekali bertemu Alma di ruang operasi. Usia mereka yang tak terlalu jauh menbuat keduanya mudah akrab.
Farha juga ikut bergabung dengan Naya dan Alma. Jika dipikir-pikir lucu juga. Dulu Naya sangat dekat dengan Farah. Setelah mereka terpisah, ia malah dekat dengan Farha kembaran Farah. Mereka bisa menjadi dekat karena Farha bekerja sebagai staff manajemen trainee di perusahaan yang tak jauh dari rumah sakit tempat Naya bekerja.
"Untung deh sekarang banyak yang udah mulai sadari, jadi kalau ada yang punya tumor bisa ketahuan dari awal," ujar Naya teringat pada pasiennya tadi.
Alma mengangguk setuju sementara Farha mengerutkan kening.
"Sadari? Sadari punya tumor sendiri?"
"Sadar, periksa p******a sendiri. Ketahuan, kan, kamu nggak pernah periksa."
Farha hanya tertawa dikatai begitu.
"Jangan ketawa! Sadari tuh penting, tau!" Alma ikut mengomel. Percuma saja jika petugas kesehatan sering memberi penyuluhan tapi temannya sendiri malah tidak tahu.
"Iya deh, mulai besok aku bakal sadaromi."
"Sadaromi? Sadari, kali."
"Sadaromi. Periksa p******a oleh suami."
"Kurang ajar!"
Naya melempar gulungan tisu ke Farha, membuat wanita itu tergelak. Begini nih obrolan wanita dewasa yang sudah menikah, seringkali merembet ke hal-hal m***m. Naya yang masih berstatus perawan hanya bisa mengelus d**a.
"Kamu emang nggak mau nyoba, Nay? Enak tau," goda Alma.
Seringkali Naya menjadi ceng-cengan karena belum menikah.
"Mbak, gue tahu itu enak, tapi mau nyoba sama siapa?"
"Nikah makanya!"
"Cowok yang katanya dikenalin ayahmu nggak cocok, ya?" tanya Farha sambil menyuapkan sepotong sosis ke mulutnya.
Naya terdiam. Dia baru ingat belum pernah bercerita soal Dean. Padahal, dulu Farha dan Dean cukup dekat.
"Kok diem? Ada yang kamu sembunyiin, ya?" tuduh Farha yang tepat sasaran.
Kepala Naya mengangguk kecil sebelum bercerita soal Dean yang ternyata dijodohkan dengannya.
"Nay, serius?" Farha melebarkan matanya. "Beneran Mas Dean yang itu?"
"Ya iya, Dean yang mana lagi, coba?"
Alma iikut takjub dengan cerita Naya. Sebagai orang yang dekat dengan Naya tahu siapa itu Dean. Bahkan Farha telah memberi predikat "Orang yang bikin Naya nggak nikah-nikah." untuk Dean.
"Wah parah, sih."
"Parah gimana?"
"Ya ini beneran bukti kalau kalian jodoh. Dulu kamu bilang kalau kamu mau nikah sama cowok lain karena nggak berjodoh sama Mas Dean. Dengan lo ketemu dia lagi, itu bukti bahwa kalian itu jodoh," ucap Farha antusias.
"Jodoh apanya, Far? Yang ada aku kesel sama dia. Masa aku jodohnya duda."
"Emang kenapa kalau duda?" Alma yang bersuamikan duda sedikit tersinggung. "Asal kamu tahu, ya, duda itu lebih berpengalaman. Dia udah tahu cara mengatasi istri. Apalagi si Dean Dean itu belum punya buntut. Gas ajalah, Nay!"
Diprovokasi seperti itu, Naya malah kesal. Perasaan dari kemarin tidak ada yang membelanya. Kenapa sih tidak ada yang mau mengerti keadaan Naya? Kenapa semua dengan mudah memintanya menerima Dean kembali?
Naya meletakkan kepala ke lipatan tangan di meja. Ia menghela napas pelan.
"Jangan munafik, Nay. Aku tahu kok selama ini kamu nggak nemu calon suami yang cocok karena Mas Dean, kan? Kamu tuh masih inget sama dia. Dan di lubuk hati kamu yang paling dalam, kamu masih berharap sama dia."
"Sok tau."
"Aku emang tahu, Nay. Kamu ketemu Dean lagi setelah sekian lama emang nggak kangen? Pasti adalah perasaan pengen meluk dia buat ngelepas kangen. Iya, kan?" timpal Alma.
Naya mendengus. Ini kok seakan-akan mereka lebih tahu isi hati Naya daripada dia sendiri?
"Nay, ini mungkin kesempatan emas buat kamu. Bisa jadi istrinya Mas Dean ditakdirkan meninggal karena jodohnya yang asli tuh kamu, Nay. Jangan sampai deh kamu nyesel karena ngelepasin dia."
"Terus maksudnya aku harus nurutin dia? Nerima dia gitu aja?"
"Kalau soal akhirnya kamu nerima lagi atau nggak, itu keputusan kamu. Gue cuma bisa ngasih saran supaya kamu nggak judes-judes ke dia. Kamu nggak kasihan sama Mas Dean?" Farha mengelus surai Naya pelan.
Naya memutar bola mata malas. Jika saja Farha tahu betapa Dean telah berubah jadi tengil di mata Naya, pasti dia tidak akan merasa kasihan sama sekali.
***