Naya yang baru selesai mandi kini sedang memakai serangkaian perawatan wajah. Ia duduk di depan meja rias di kamarnya. Saat mengoleskan pelembab bibir, ingatan Naya terlempar ke kejadian semalam.
Naya dengan bodohnya mencium bibir Dean. Jangankan Dean, Naya sendiri juga kaget akan hal itu. Dia segera melepas ciuman mereka setelah menyadari apa yang dia lakukan.
"b**o!"
Tangan Naya yang masih memegang pelembab bibir kini memukul kepalanya. Tak cukup sekali, pukulan di kepala itu ia lakukan berulang.
"b**o! b**o! b**o!"
Naya yang rasanya ingin menangis kini meletakkan kepala di meja rias. Ia menangisi diri sendiri. Betapa bodohnya dia karena tidak dapat menahan diri semalam.
Setelah adegan ciuman yang berlangsung beberapa detik itu, suasana langsung berubah canggung. Saking malunya, Naya bahkan tak sanggup menatap mata Dean sampai pulang.
Sembari meraih ponsel di nakas, Naya merebahkan diri di kasur. Ada satu aplikasi yang baru ia download. Aplikasi itu adalah tempat orang bebas bertanya. Nanti, pertanyaan itu akan dijawab oleh pengguna lain.
Sepertinya Naya bisa menanyakan masalahnya di sini. Selama ini, orang-orang yang Naya mintai pendapat selalu berakhir membela Dean. Siapa tahu di sini dia mendapat pendapat berbeda.
Sepuluh tahun lalu, mantanmu pergi ke luar negeri dan kalian memutuskan mengakhiri hubungan. Yang menyebalkan adalah dia pergi lebih awal dari tanggal yang diberitahukan. Lalu tiba-tiba dia datang lagi dan meminta untuk mulai dari awal. Tapi ternyata dia pernah menikah dan istrinya telah meninggal. Jika kamu masih memiliki rasa padanya, apa yang akan kamu lakukan?
Setelah berulang kali mengetik dan menghapus, Naya akhirnya mengirim susunan kalimat yang menurutnya pas. Jika dipikir-pikir, kehidupan Naya penuh drama sekali. Mungkin bisa dibuat novel beberapa seri.
Ting! Tong!
Suara belum membuat Naya bangkit dari posisi rebahan.
"Sebentar!"
Naya bergerak cepat menuju pintu. Begitu benda berwarna putih itu terbuka, tampak Dean yang sedang tersenyum.
"Hai," sapa Dean.
BLAM!
Naya menutup pintu kembali dengan keras. Ia yang bersembunyi di balik daun pintu kini meringis. Jika dia tidak mau menemui Dean, bisa-bisa dia dikira baper karena kejadian semalam. Tidak! Pokoknya Naya harus bersikap biasa saja.
Tangan Naya kembali membuka pintu, lalu berdehem pelan.
"Ngapain ke sini?" tanya Naya ketus.
"Tadi aku mau ke rumah sakit, tapi kata Alder kamunya lagi nggak ada jadwal."
Naya mengernyit.
"Sejak kapan situ ngobrol sama Mas Alder?"
"Sejak... Emm..."
Dean menggantungkan suaranya. Masa iya dia bilang kalau dia mulai menghubungi Alder sejak tahu bahwa Naya dan pria itu pernah berpacaran?
"Ck! Udah nggak usah dijawab! Ngapain ke sini?"
Sengaja Naya menggunakan nada keras agar Dean sadar bahwa kehadirannya tidak diharapkan.
"Mau ngasih kamu hukuman, Nay."
"Hukuman?" Naya mengernyit bingung. "Emang aku ngelakuin apa sampai harus dihukum? Telat masuk sekolah?" lanjutnya dengan nada tak ramah.
Dean menyunggingkan senyum samar.
"Pelecehan seksual."
"Pelecehan seksual? Kamu jangan ngada-ngada, deh! Emangnya aku predator? Emangnya aku grepe-grepe orang? Cium-cium orang sembarangan?"
Tangan Naya yang tadi terlipat di depan d**a kini salah satunya terangkat untuk menutup mulut. Diamnya Naya seolah menjadi pertanda bahwa kalimatnya malah mendukung ucapan Dean.
"Orang pacaran pun, kadang ada yang nggak mau berkontak fisik sama sekali sama pacarnya, apalagi yang belum punya status. Semalam kamu tiba-tiba nyium aku tanpa minta persetujuan. Bukannya itu pelecehan seksual, ya?"
"Pelecehan seksual? Siapa yang tadi malam keenakan sampai buka mulut mainan lidah?" seru Naya jengkel dituduh begitu.
"Siapa yang tadi malam gigit bibirku sampai aku buka mulut?"
Naya mendelik mendengar balasan Dean. Semalam dia memang benar-benar kehilangan akal sehat.
"Ya namanya juga reflek orang ciuman."
"Ya sama aku juga reflek. Tapi perbuatan kamu tetap bisa dianggap pelecehan. Makanya mending aku kasih kamu hukuman sendiri daripada aku bawa ke meja hijau."
"Apaan, sih?"
Naya mendengus kesal. Dia tahu Dean itu hanya akal-akalan Dean saja.
"Hukumannya nggak buruk, Nay. Cukup biarin aku berkunjung ke rumah kamu, terus habis itu kita jalan. Setuju?"
Sebenarnya Naya sangat-sangat malas meladeni Dean. Ia merenung sejenak. Bagaimana jika Dean benar-benar menuntutnya?
"Ya udah masuk!"
Naya menyingkir untuk memberi ruang agar Dean bisa masuk ke dalam rumahnya.
"Udah sarapan?" tanya Dean begitu mereka memasuki ruang tamu.
Naya menggeleng, stok serealnya ternyata habis dan dia lupa membeli kemarin. Lagipula melihat tas belanjaan di tangan Dean, Naya sudah menduga pria itu akan memaksa untuk memasak sesuatu.
"Mau masak, kan? Udah cepetan!" ucap Naya.
Mereka kini berada di dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Naya duduk di meja makan sambil memainkan ponsel. Ia sama sekali tak tertarik pada Dean yang tengah mengeluarkan beberapa barang.
Senyuman tercipta di wajah Naya saat melihat postingannya mendapat cukup banyak respons.
Cuih! Gue sih ogah yeeuuu... Masa iya dpt barang bekas?! Tinggalin deh! Cari cwok lain yg masih seger bukan bekasan orang. Kalau ngjk nikh katanya masih cintrong, knp ga dr dulu2?! Nunggu istrinya meninggal dulu?
Naya mengangguk setuju. Dia kan masih gadis dan segar, masa iya menikah dengan duda. Dia juga setuju jika Dean memang serius, kenapa baru sekarang?
Aduch neng! Pas mantan pergi ngapainn? Ga bisa mup on yee? Duch ketahuan dech situ CLBK tp gengsi.
Setitik kesal bercokol di d**a Naya. Dasar warganet sok tahu! Tangan Naya kemudian menggulir layar untuk melihat balasan dari komentar itu.
? Setuju sih... Sendernya kyk ngarep padahal udah diputusin. Lagian udah putus masa iya nggak boleh nikah sama org lain? Padahal kalau sendernya nikah habis dia pergi jg nggak ada yg mlarang.
E tp blum tntu jg sender berharap ?? bs aja mmg bkan jdohny. Jd nder, kmu apkah berhrp??
Naya melirik Dean yang sedang memotong sesuatu. Tidak, kok! Dia tidak merasa berharap atas Dean. Dia memang kecewa dan marah. Tapi alasan dia belum menemukan orang yang tepat bukan karena berharap dengan Dean.
Sebuah komentar lain menarik perhatian Naya.
Turuti kata hati sih kalau saya. Apakah selama berpisah itu memang tidak ada laki-laki lain? Bagaimana jika memang itu cara Tuhan untuk menjodohkan kami? Saya percaya bahwa tiap pasangan memiliki takdir yang selaras. Kadang, untuk mencapai keselarasan itu, ada gejolak alur kehidupan yang menyertai. Jika dia memiliki niat baik-baik dan serius, tidak ada salahnya untuk mencoba.
"Nah, aku setuju sama komentar ini."
Naya menoleh karena suara Dean yang dekat dengan telinganya. Ia hampir memekik ketika mendapati Dean telah berdiri di belakang tubuhnya.
"Kamu kok di situ?"
Naya dengan cepat membalik ponsel agar Dean tak bisa melihat lagi.
"Kayaknya kamu asyik banget, jadi aku penasaran."
Tidak ada respons dari Nata selain decakan kesal untuk menyembunyikan gengsinya. Tentu saja Naya malu jika ketahuan menanyakan hal ini di aplikasi.
"Tapi emang nggak ada salahnya kan, ngasih aku kesempatan?"
"Segitu inginnya dikasih kesempatan? Emangnya nggak ada wanita lain yang bisa jadi istri kedua kamu?"
Dean tersenyum miring.
"Ada, tapi nggak sesempurna kamu. Lagian omongan kamu bener."
"Omongan apa?"
"Harusnya kita pura-pura nggak saling kenal biar nggak jatuh cinta lagi. Kamu bener, aku udah jatuh cinta lagi sama kamu."
Naya menyilangkan kakinya. Kursi makannya telah bergeser hingga dia berhadapan dengan Dean sedari tadi.
"Kamu tadi bilang aku sempurna, kan? Kamu salah. Aku nggak sesempurna itu. Banyak kekurangan aku yang kayaknya bisa bikin kamu mundur."
"Contohnya?"
Napas Naya terhela pelan sebelum ia kembali berucap.
"Aku udah nggak perawan."
***