11. Bolehkah?

1298 Words
Dean berdiri tak sabar di lobi rumah sakit. Tidak ada angin tidak ada hujan, Naya mengajaknya pergi. Tentu saja Dean tidak menolak. Ini adalah hal yang sangat mengejutkan bagi Dean. Awalnya Dean ingin mengajak Naya bertemu dengan Nadine. Sayangnya Nadine menolak. Wanita itu bilang belum saatnya Naya tahu tentang hal-hal atau orang yang berhubungan dengan Imel. Karena itulah kali ini Dean mempersilakan Naya memilih tempat tujuan. Bibir Dean sedikit terangkat saat melihat Naya di kejauhan. Akan tetapi senyum itu sedikit memudar karena sosok laki-laki yang berjalan beriringan dengan Naya. Alder tampak berbicara sesuatu yang membuat Naya tergelak. Dean menatap mereka sinis. Ini kan area rumah sakit. Mereka berdua harusnya bersikap profesional, bukan tertawa-tawa seperti orang kasmaran begitu. "Mas, aku duluan, ya," pamit Naya pada Alder. Dean merengut. Apa tadi? Mas? Bukannya Naya memanggil Alder profesor, ya? "Duluan." Dean ikut-ikutan pamit pada Alder sebelum melangkah menyusul Naya. Begitu di mobil, Dean menyetir dalam diam sementara Naya bersenandung kecil. Harusnya Dean senang mendengar senandung Naya, namun Alder malah mengganggu pikirannya. "Ganteng, ya?" Naya menoleh pada Dean yang sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya. "Aku ganteng?" "Bukan kamu, tapi dokter yang kamu panggil mas. Alder atau siapalah itu." Naya mengangguk setuju. "Emang. Mana pinter banget, rajin, sering ngasih traktiran, sering bantuin bikin tesis, suka anak kecil, ramah, kaya, lengkap pokoknya," tambah Naya. Hembusan napas Dean terdengar lebih keras. Ia mulai menatap Naya sedikit tak nyaman. Naya sendiri tampak tak terusik. "Kalau lengkap kenapa nggak dipacarin?" "Pernah." Dean sedikit berjengit mendengar jawaban Naya. Untungnya dia sedang berada di lampu merah, jadi tidak sampai melakukan sesuatu yang membahayakan. "Kenapa putus?" tanya Dean. Mata Naya menerawang ke jalan raya yang cukup sepi, lalu menghela napas pelan. "Yosafat Alderian Wijaya. Kita putus sebelum semuanya terlalu jauh. Toh kita tahu kalau hubungan kita nggak akan berhasil." Dean mengangguk pelan, paham dengan maksud Naya. "Padahal dia kandidat utama calon suamiku dulu. Bayangin, deh. Habis selesai residen langsung nikah sama profesor pembimbingnya. Keren, kan?" Wajah Naya sengaja ia buat sumringah. Dari awal ia tahu maksud Dean menanyakan Alder karena lelaki itu cemburu. "Iya, hebat," jawab Dean singkat. Ia dongkol karena Naya malah memuji-muji Alder. "Kamu tumben ngajak aku pergi duluan. Kenapa? Kangen?" tanya Dean mengalihkan topik. Telinganya sudah panas karena pujian Naya untuk Alder. "Nggak usah geer! Ini kalau nggak disuruh sama mama juga aku nggak akan mau. Lagian kamu kok mau-mau aja? Kamu pengangguran, ya? Kayaknya nggak pernah kelihatan sibuk kerja." "Kan aku yang punya pabrik sama restoran. Ongkang-ongkang kaki juga uangnya masuk. Kapan-kapan kalau kamu mau, aku ajakin ke pabrik, deh." Naya berdecih mendengar kesombongan Dean. Dia tidak terlalu terkejut, sih. Seingatnya meski dulu tak secerewet sekarang, Dean memang sering membanggakan dirinya sendiri. Mobil Dean berhenti di parkiran sebuah taman bermain. Sengaja Naya mengajak Dean ke sini sore hari karena malamnya lampu-lampu yang terpasang di taman ini akan terlihat sangat menarik. Mirip seperti pasar malam versi modern. "Mau main atau makan dulu?" tanya Dean. Naya memainkan tali slingbag yang ia kenakan. Dengungan muncul dari bibir Naya yang kali ini dipoles dengan lipgloss merah muda. Setelah berpikir beberapa saat, Naya memutuskan untuk mengunjungi kedai sereal. Dari luar, kedai ini tampak manis dengan d******i warna peach. Mata Naya berbinar melihat berbagai macam kardus sereal yang dipajang di kedai ini. Dengan semangat penuh, Naya berjalan menuju ke meja bar. Sereal yang dipilih Naya adalah sereal luar negeri yang belum sempat Naya coba. Beberapa bulan belakangan Naya memang sedang menggandrungi sereal dan yoghurt. Tiada hari bagi Naya tanpa sereal dan yoghurt. Jika ada makanan lain untuk sarapan, Naya akan menjadikan sereal sebagai camilan. "Enak?" Dean tersenyum melihat Naya yang memakan serealnya dengan lahap. Ada yang sedikit berubah dari Naya. Dulu, Naya makan dengan pipi bergerak menggemaskan, lalu akan ada beberapa noda di bibirnyaㅡyang akan dibersihkan Dean nantinyaㅡ. Sekarang, Naya makan dengan pelan dan anggun. Tidak ada gerakan terburu atau pipi bergerak heboh karena mengunyah. "Kalau nggak enak nggak aku makan," jawab Naya dengan nada menyebalkan. Tapi Dean tidak kesal, malah melebarkan senyum. "Kalau kamu suka sereal, besok aku bikin kedai kayak gini juga, ah. Atau bikin produk baru aja kali, ya? Menurutku kamu bagusnya namanya apa?" Dean mengaduk seral bercampur s**u di mangkuknya. Ia mengamati sereal itu dengan seksama. "Nggak usah sombong, deh." "Aku nggak sombong, Nay, aku serius. Selain bikin kamu senang, itu juga bikin dompet aku makin tebal. Kamu masa nggak ada ide, sih?" Naya mengedikkan bahu. Wanita itu tidak tertarik dengan keseriusan Dean. Beberapa detik kemudian, Naya menatap Dean antusias. "Cerecoffee." Dean mengerutkan alis. "Sereal dan kopi?" "Iya! Selama ini kan sereal identik rasa buat anak-anak. Gimana kalau kamu bikin rasa kopi? Cocok buat orang dewasa yang harus ngerasain kopi di pagi hari. Kopi dikasih s**u juga enak, kan? Di Indonesia belum ada, tuh." Dean mengangguk setuju mendengar ide Naya. Ini cukup menarik. Menggabungkan dua hal yang identik dengan pagi hari, sereal dan kopi. Pikiran Dean kini menerawang. Mungkin akan lebih unik jika kopi yang dipakai adalah kopi khas Indonesia. "Kamu nggak beneran mau bikin kan?" Naya menyipitkan matanya. Jujur tadi dia tidak seserius itu dalam memberikan ide. Dean hanya tersenyum simpul sambil mengedikkan bahu. *** Ketika malam datang dan lampu-lampu di taman bermain mulai dinyalakan, Naya antusias meminta naik bianglala. Dia menunggu saat malam untuk menaiki benda berbentuk lingkaran itu agar bisa melihat pmendangan lampu-lampu kota. "Nggak takut?" tanya Dean ketika benda itu mulai bergerak. Tadinya Dean ingin duduk bersebalahan dengan Naya, namun wanita itu mebgusirnya dan ia harus puas hanya duduk berhadapan. "Nggak. Aku pernah ke sini beberapa kali." "Sama pacar kamu?" Dean menatap Naya yang asyik melihat ke luar jendela. "Nggak. Pas pacaran sama Alder kita lagi sibuk sama kerjaan, jadi nggak sempat ke sini. Pas sama pacarku yang lain pada males, katanya kekanakan." "Berarti aku spesial, dong?" "Biasa aja." Dean mengusap tengkuk mendapat jawaban ketus dari Naya. "Aku mau nanya," ujar Naya tiba-tiba. Masih beberapa menit sampai mereka sampai di puncak. "Apa?" "Kok bisa secepat itu nerima aku? Maksudnya kenapa bisa seyakin itu mau nyoba sama aku lagi? Kenapa nggak pikir-pikir dulu buat nolak perjodohan ini?" Dean mengerjap pelan. "Karena masih sama." "Apanya?" Tangan Dean terulur untuk meraih tangan Naya, lalu membawanya ke d**a pria itu. "Punya Naya." Setelah diam beberapa detik, Naya langsung berdehem dan menarim tangannya. "Aku bukan cewek dua puluh tahun yang digituin bakal baper, kali," protes Naya. Untunglah udara dingin malam ini cukup menyelamatkan pipinya yang menghangat. Cih! Punya Naya apanya? Bekas istrinya, kali? Batin Naya berusaha mengenyahkan perasaan aneh yang menjalar di dadanya. "Hampir aku lupa kamu hampir tiga puluh tahun. Perempuan umur tiga puluh tahun bapernya diapain, sih?" goda Dean. Dia sengaja menekankan frasa tiga puluh tahun. "Nggak usah bawa-bawa umur!" "Kamu yang mulai, Nay." Naya dengan wajah cemberut mengalihkan pandnagan lagi ke jendela. Posisi mereka makin tinggi dan lampu-lampu dari bangunan di dekat taman bermain tampak indah. Semoga saja tidak ada adegan bianglala macet seperti di film-film. Karena jika iya, Naya akan sangat merasa sial terjebak bersama Dean. "Tapi aku serius, Nay," lirih Dean namun tetap bisa didengar Naya. Naya kini menoleh ke Dean yang menunduk. "Bahkan setelah... Setelah aku bisa mencintai orang lain, setelah aku bisa menikah dengan orang lain... Kadang... Ada kalanya aku mikirin kamu seharian. Aku nggak pernah bisa ngelupain kamu sepenuhnya." Naya menelan ludah. Dia menatap datar lelaki yang sedang tersenyum tipis itu. Saat Dean mendongak dan netra mereka bertemu, ada gelenyar aneh merajai tubuh Naya. Bolehkah kali ini Naya mengkhianati dirinya sendiri? Bolehkah kali ini Naya berdusta pada pikirannya sendiri? Atau malah seperti kata mama... Bolehkah kali ini Naya jujur pada perasaannya? Tubuh Naya condong ke depan. Ia menangkup wajah Dean dengan tangannya yang sedikit bergetar. Dean hanya diam ketika akhirnya Naya menggerakkan kepala untuk memutus jarak di antara mereka. Jika Naya memejamkan mata dalam ciuman mereka, Dean malah tak berkedip. Bibir Naya terasa dingin, sangat dingin. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD