Naya masih bergelung nyaman di bawah selimut. Hari ini dia hanya ingin beristirahat dengan bermalas-malasan di rumah. Akan tetapi seseorang yang tiba-tiba datang tampaknya akan menggagalkan rencana Naya.
"Ya ampuuun! Dari tadi dipanggil kok nggak bangun-bangun?"
Naya menggeliat, ia lalu menguap dengan kondisi setengah sadar. Siapa yang meneriakinya pagi-pagi begini? Ah, sepertinya Naya sedang bermimpi. Naya, kan, tinggal sendiri.
"NAYAAAA!"
Kini tak lagi sekadar teriakan. Sebuah tepukan keras mendarat di p****t Naya. Hanya butuh beberapa detik untuk Naya mengumpulkan kesadaran. Naya segara menyibak selimut, lalu terdiam dalam posisi terduduk melihat siapa yang mengganggu paginya.
"Ih Mama! Kenapa, sih?"
Ratih yang berkacak pinggang di sebelah kasur langsung mendelik begitu putrinya kembali merebahkan diri.
"Kenapa? Ini udah siang, Nay! Kamu mau tidur sampai kapan?"
"Maaaa tadi malam tuh aku HOAAAAAAM. Aku operasi berjam-jam. Tolong biarkan anakmu itu tidur dengan tenang," jelas Naya dengan suara yang sedikit mirip gumaman.
"Kamu dari tadi malam tidur tuh nggak salat subuh?"
"Aku lagi dapet."
"Ya jangan males-malesan gini. Ayo banguun!"
Ratih menarik tangan Naya, memaksa wanita itu bangkit dari posisi nyamannya. Naya mengeluarkan lenguhan kesal sebagai bentuk protes, apalagi saat sang mama mampu membuatnya duduk di pinggir ranjang.
"Buka matanya!"
Mata Naya terbuka perlahan. Ratih adalah salah satu orang yang susah sekali Naya bantah.
"Kenapa, Ma?"
"Kamu nyawanya belum ngumpul? Dari tadi nanya kenapa kenapa. Ini udah siang, Nay. Anak perawan kok bangunnya siang-siang."
Dikatai seperti itu, Naya mendadak kesal. Dia menatap Ratih intens dengan bibir cemberut.
"Emang kata siapa aku masih perawan?" tanya Naya dengan suara seraknya.
Selanjutnya, Naya tahu bahwa dia salah berucap. Terbukti dari Ratih yang menatapnya tajam. Dengan gerakan cepat, Naya segera berdiri menghindari Ratih yang kini memukulnya.
"Ma! Ma! Jangan dipukul!" teriak Naya ketika Ratih berhasil meraih kaki kanannya, lalu melayangkan pukulan di sana.
"Oh, nggak mau dipukul? Nih!"
Naya makin menjerit ketika Ratih memberinya cubitan keras.
"Ma! Ini KDRT! Ampun Maaa!"
"Ngomong apa kamu tadi?" tanya Ratih dengan nada galak.
"Aku masih perawan, kok. Masih perawan!"
Begitu Ratih melepas tubuhnya, Naya segera mengelus paha. Cubitan Ratih adalah salah satu yang paling Naya hindari. Kalau cubitan itu disertai amarah, dapat dipastikan jika bekasnya akan membiru.
"Mama tuh nggak boleh cubit anak sembarangan! Nanti dikira ibu tiri. Ibu tiri aku aja nggak pernah tuh cubit-cubit!" protes Naya.
Ratih hanya menggeleng pelan pada sang putri.
"Makanya kalau pagi-pagi tuh bangun. Walaupun capek, paling nggak bangun dulu. Kamu harus belajar biar pas udah nikah nggak kaku."
"Idih-idih! Siapa yang mau nikah?"
"Kamu, dong! Mama udah setuju kok sama cowok yang dikenalin ayahmu. Siapa namanya? Dewa, kan?"
"Dean."
"Iya itu."
Naya memutar bola matanya malas. Kenapa sih lelaki itu harus disebut-sebut?
"Mama tahu, kan, kalau ternyata dia mantanku yang ke Amerika?"
Naya kini mengekor sang ibu ke lantai bawah.
"Tahu, terus kenapa? Kata ayahmu dia orangnya baik dan mapan."
Ratih mengangsurkan piring ke Naya. Dia sebenarnya tahu jika Naya kelelahan, makanya dia mampir untuk membawakan makanan.
"Dulu waktu aku nangis gara-gara dia, siapa yang bilang kalau aku harus lupain dia; aku harus move on; aku harus cari laki-laki lain yang lebih baik dari dia? Mama, kan? Kok sekarang malah belain dia?" Naya memberi tatapan sengit untuk Ratih.
"Masalahnya sampai sekarang kamu nggak nemu-nemu laki-laki yang lebih baik dari dia. Daripada mama lumutan nunggu kamu nyari laki-laki lain mending sama dia aja."
"Ma, dia duda, lho."
"Udah tahu."
"Rela anaknya jadi istri kedua?"
"Dulu waktu mama nikah sama papa, mama janda dan dia masih bujang. Nyatanya sampai sekarang kita baik-baik aja, kan?"
Naya menggeleng. Keadaan mama dan papa tidak sama dengan keadaan dia dan Dean!
Melihat putrinya yang bersungut, Ratih menarik kursi makan di sebelah Naya, lalu duduk di sana. Ditatapnya Naya yang sedang memakan balado telur buatannya.
"Jujur sama Mama! Kamu nolak dia bukan karena dia duda, kan?"
Suapan Naya terhenti. Ia menatap Ratih dengan mata menyipit.
"Kamu nggak mau sama dia karena kamu mau balas dendam, kan?"
"UHUK!"
Naya memukul dadanya beberapa kali karena tersedak. Tangannya melambai-lambai sebagai isyarat meminta minum. Segelas air putih yang disodorkan Ratih langsung Naya tenggak sampai habis.
"Tuh, kan, benar!"
"Balas dendam apa, sih?" Naya lanjut menyuap balado telur seolah tak terjadi apapun.
Ratih merapatkan tubuhnya pada Naya.
"Kamu pasti mikir, 'Ih, enak banget jadi dia. Ninggalin aku, nikah, terus pas jadi duda balik lagi ke aku.' Iya, kan?"
"Sok tahu."
"Mama tahu, Naya! Kamu tuh sebenarnya masih cinta sama dia."
"Ma, hubungan aku sama dia itu udah sepuluh tahun yang lalu!"
Bunyi kriuk terdengar saat Naya menggigit kerupuk di sela kalimatnya.
"Kamu boleh bohongin ayah. Kamu juga boleh bohongin Mama. Tapi kamu nggak boleh bohongin diri kamu sendiri, Nay. Jangan denial terus! Ada kalanya kamu harus jujur dan nerima kalau hati sama otak kamu itu nggak sejalan."
Naya asyik makan, pura-pura tidak mendengar.
"Dulu kamu selalu merasa nggak butuh ayah. Kamu selalu menganggap kalau kamu benci sama dia. Pada akhirnya kamu juga tersiksa, kan? Itu karena kamu nggak jujur sama perasaan kamu. Sekarang kamu harus coba jujur, Nay."
"Mama kenapa, sih, maksa? Mama nggak mau, ya, lihat Naya bahagia?"
"Justru Mama maunya kamu bahagia. Tapi gimana kalau kebahagiaan kamu itu Dean?"
Gerakan tangan Naya terhenti. Ia menatap piringnya yang masih terisi setengah. Pertanyaan Ratih terngiang di kepalanya.
Bagaimana jika kebahagiaan Naya itu Dean?
Naya menggeleng. Tidak! Dia tidak boleh terpengaruh pada omongan orang lain. Bisa saja, kan, Dean yang meminta Ratih datang pagi ini.
***
"Cantik."
Nadine meletakkan ponsel yang tengah menampilkan foto Naya. Ini bukan kali pertama dia melihat foto si Naya-Naya itu, tapi terakhir kali dia melihatnya sudah lama sekali. Mungkin waktu dia berkunjung ke apartemen Imel yang berakhir ke apartemen Dean juga.
"Pantas aja lo yang sendu, gundah gulana tiba-tiba semangat. Padahal gue masih inget gimana sedihnya lo waktu Imel meninggal."
Dean tersenyum tipis. Ujung ibu jarinya mengusap pegangan cangkir.
"Perasaan manusia, tuh, adalah hal paling absurd di dunia ini. Gue yang galau bisa tiba-tiba seneng lagi karena ketemu Naya."
"Kenapa nggak dari dulu aja, sih?" Nadine menyesap lemon tea miliknya.
"Gue kira dia udah nikah, Dine."
"Terus kalau lo tahu ternyata dia masih single, lo bakal nikahin dia habis Imel meninggal?"
"Ya nggak, lah!"
Dean menggeleng tegas.
"Kok nggak? Ini buktinya lo deketin dia lagi karena lo tahu dia belum nikah."
"Gini, Nadine. Gue sama Naya secara kebetulan dijodohin. Gue deketin dia sebagai cowok yang dijodohin sama dia. Gue mau buka lembaran baru sama dia. Kalau dulu gue langsung nikahin Naya, mungkin perasaan gue beda. Mungkin dulu gue hanya anggap Naya sebagai pelarian doang."
"Kalau sekarang? Naya lo anggap apa?"
Dean mencoba menahan senyuman. "Calon istri."
"Idih!" Nadine menatap Dean jijik. "Gue yakin Naya nggak akan mau nerima elo."
"Mungkin iya. Tapi semua kebetulan ini kayak ngasih tahu gue kalau gue sama Naya itu jodoh."
Nadine hanya menggeleng prihatin pada sahabatnya yang tengah dimabuk cinta itu.
***