9. Flashback

1176 Words
Terhitung sudah hampir tiga bulan Dean berada di negeri orang. Selama hampir tiga bulan itu, kehidupan Dean hanya seputar kampus, flat, dan kafe kecil tempatnya bekerja. Flat yang Dean sewa berada di lantai delapan sehingga dapat melihat ke jalan dan bangunan di sekitarnya. Biasanya, jika Dean sedang tidak ada tugas, dia akan duduk merenung di balkon selama berjam-jam. Tidak ada hal berarti yang Dean lakukan. Dia hanya duduk, memperhatikan orang berlalu lalang, setelah itu masuk ketika pikirannya semakin kacau. Dean mengakui dengan pasti, ia merindukan Naya. Sosok Naya tak pernah absen dalam pikirin Dean barang sedetik pun. Bayangan gadis itu tersenyum, cemberut, bahkan marah, semuanya terus berputar di otak Dean tanpa ia tahu bagaimana menghentikannya. Pintu flat terbuka dan memperlihatkan isi apartemen yang rapi, bahkan terkesan tidak berpenghuni saking rapinya. Dean memang belum terlalu akrab dengan teman-temannya, sehingga belum ada yang ia ajak ke flat. Selama ini, orang yang sering Dean ajak bicara adalah Nadine, wanita yang bertemu dengannya di bandara. Nadine adalah balerina yang ingin belajar lagi di Amerika. Sama-sama dari Indonesia membuat mereka berdua menjadi cepat akrab. Sayangnya, Nadine dan Dean berbeda kota sehingga mereka hanya sempat bertemu beberapa kali. Usai meletakkan peralatan kuliah, Dean memilih untuk memasak. Bukan masakan Indonesia karena cukup sulit mencari bahan yang Dean mau. Dean sekarang hanya memasak pasta, makanan paling cepat yang bisa dia masak sekarang. Dean memakan pastanya dalam diam. Tak butuh waktu lama sampai pasta itu habis. Setelah membersihkan peralatan makan, Dean membuat kopi dan membawanya ke balkon. Dari balkon flatnya, Dean memandangi keramaian di bawah sana. Pohon-pohon yang mulai berguguran mengingatkan Dean bahwa sekarang hampir memasuki musim gugur. Dean menghela napas pelan ketika lagi-lagi teringat Naya. Apa Naya sedang tidur? Atau malah sudah bangun? Apa Naya sarapan dengan benar? Oh ya, di tanggal ini Naya biasanya sedang PMS, apa dia kesakitan? Suara-suara berisik dari balkon sebelah unitnya membuat Dean menoleh. Mata Dean menyipit saat melihat seorang wanita yang tampak kesusahan menyeret sesuatu. Dari bentuknya sih, itu seperti bagian kursi atau meja yang belum dirangkai. "Do you need a hand?" tanya Dean sedikit keras karena balkon mereka terpisah sekitar dua meter. Ketika wanita itu mendongak, Dean mengerjap pelan. Fitur wajahnya sih seperti wajah orang Asia. Sama seperti Dean, wanita itu juga terdiam sejenak. "Dean?" Kenyataan bahwa wanita itu mengetahui namanya membuat Dean mengernyit. "Imel, sepupunya Nadine." Imel telah meninggalkan barangnya. Ia berjalan ke ujung balkon dan mengulurkan tangan untuk menyalami Dean. Melihat hal itu, Dean sedikit tergelitik. Tangan mereka tidak akan bisa saling menjabat di jarak sejauh itu. Imel tampaknya juga menyadari hal itu karena ia buru-buru menarik tangan. "Maaf, aku... Emm.. Saya? Gue?" "Prefer aku, sih." "Oh, oke." Imel mengelus tengkuk untuk mengurangi rasa canggung. "Oh, pantes Nadine pernah tanya-tanya soal unit ini. Aku kira buat temannya, ternyata buat sepupunya." "Iya, aku yang minta dicariin tempat tinggal. Kata Nadine disuruh di sini aja biar ada teman orang Indonesia." "Aku juga senang punya teman yang bisa diajak ngobrol pakai Bahasa Indonesia. Ada sih kemarin yang ngajak gabung kayak komunitas gitu tapi aku belum join." Imel mengangguk pelan. "Dean, tawaran bantuannya masih berlaku, kan?" Imel menunjuk kayu yang ia geret tadi. "Oke. Aku ke situ sekarang." Begitu Dean beranjak dari balkon, Imel segera berlari. Dia membuka pintu flatnya sebelum Dean keluar. Isi flat Imel masih sama seperti template awal. Sebenarnya tak jauh berbeda dari flat Dean yang memang tidak ia hias atau renovasi. "Aku kira masangnya gampang, ternyata bawanya aja susah." Imel meringis melihat meja kayu bongkar pasang yang ia pesan secara online itu. Dean langsung duduk di balkon Imel dan mulai memperhatikan petunjuk pemasangan. "Kamu orang mana?" tanya Dean. Pasalnya, wajah Imel tidak seperti wajah perempuan jawa kebanyakan. "Aku orang Bandung tapi mamaku orang Batak, sih. Papaku yang asli Bandung." "Oh, Batak Sunda?" "Iya." Imel duduk dengan canggung. Dia ingin membantu Dean namun tidak tahu harus melakukan apa. "Kata Nadine muka kita tuh tertukar, lho." Dean yang sedang memasang skrup melirik Imel singkat. "Tertukar?" "Iya. Aku lumayan friendly tapi wajahnya galak. Aku diem aja dibilang judes. Kalau kamu orangnya cuek, diem, dingin, tapi mukanya cute." Dean menghentikan gerakan tangannya dan menatap Imel dengan mata melebar. "Aku cute?" "Eh, itu Nadine yang bilang," ucap Imel salah tingkah. Dean mengangguk paham. "Kayaknya Nadine cerita banyak soal aku." "Aku yang minta biar kita nggak canggung." "Apalagi yang kamu tahu?" "Emm... Kata Nadine..." "Kata Nadine?" "Kata Nadine kamu lagi galau." *** Sejak Imel datang beberapa bulan lalu, Dean jadi tidak terlalu kesepian. Mereka cepat akrab karena seumuran. Selain itu, Imel ternyata juga punya hobi memasak sama seperti Dean. Jika dulu sore Dean dihabiskan dengan merenung di balkon, kini tidak lagi. Imel sering mampir ke flatnya dan mereka pun akan bercerita banyak hal. Yah... Meski lebih banyak Imel yang mencari topik, sih. Malam ini Dean dan Imel telah memiliki janji untuk makan di salah satu restoran Perancis. Sengaja mereka memilih malam ini karena mulai minggu depan pasti jalanan ramai karena natal dan tahun baru. Dean merapatkan mantel hitamnya. Udara di sini terasa cukup dingin untuk Dean yang terbiasa di negara tropis. "Dean," panggil Imel pelan. Dean yang sedang mengamati dekorasi restoran menoleh. Dia sedikit penasaran karena wajah Imel tampak gugup. "Kenapa?" "Aku mau ngomong sesuatu." "Ngomong aja." "Emm.. Itu..." Imel melarikan pandangannya ke arah lain. "Apa. Mel?" "Aku... Emm..." Imel menggigit bibirnya pelan. Dia telah menunggu saat ini cukup lama. Kedekatannya dengan Dean selama ini membuat Imel yakin untuk mengutarakan perasaan. "Aku suka kamu." Setelah terdiam membeku selama beberapa detik, Dean berdehem pelan. Apa yang baru saja Imel katakan itu terlalu mengejutkan. Memang selama ini Imel sering memberinya sesuatu atau membantu Dean ketika dia membutuhkan bantuan. Akan tetapi, Dean tak pernah curiga jika itu Imel lakukan karena dia punya perasaan khusus untuk Dean. "Sejak kapan?" Jemari Imel menggaruk tas yang ia pangku untuk mengurangi kegugupan. "Udah lama. Waktu Nadine sering cerita tentang kamu, aku mulai tertarik sama kamu. Terus waktu pertama kali kita ketemu langsung, itu aku mulai beneran suka sama kamu." Suara Imel agak tercekat. Wajah Dean sekarang tampak menyeramkan. Dia menatapnya dengan tatapan marah dan tidak ada senyuman di sana. "Kita cocok, Dean. Obrolan kita nyambung dan kita juga udah dekat. Aku pikir udah waktunya kamu..." "Aku nggak bisa dan nggak mau," sergah Dean. "Aku akan anggap apa yang kamu omongin tadi nggak pernah terjadi." "Karena perempuan itu?" tanya Imel. Selama ini, Dean tidak pernah sekalipun bercerita soal perempuan yang membuatnya resah berbulan-bulan itu. Imel tahu bagaimana sosok si perempuan karena fotonya terpajang apik di flat Dean. "Namanya Naya. Aku udah nyakitin dia dengan milih pergi ke sini. Meski dia nggak tahu, aku akan ngerasa berkhianat kalau sampai nerima perempuan lain. Walaupun itu kamu." "Aku bakal nunggu." "Jangan. Aku nggak tahu sampai kapan bakal terus ngerasa kayak gini. Iya kalau cuma sampai satu tahun ke depan. Gimana kalau aku nggak bisa nerima kamu sampai aku pulang ke Indonesia lagi? Aku nggak mau bikin kamu berharap." Dean menghela napas berat. "Kita temenan aja." Udara dingin di New Haven mendadak terasa berkali lipat lebih dingin bagi Imel. Ia mengangguk pelan meski sepertinya ada bagian dari otaknya yang berteriak tidak terima. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD