8. Terlambat

1292 Words
"Waktu aku lulus kuliah... Aku... Sudah menikah, Nay." Naya melempar tatapan ke arah lain. Ke mana saja asal bukan ke Dean. Sekarang ada rasa perih yang tanpa sengaja hadir dan membuat d**a Naya terasa sesak. "Oh ya, aku lupa." Naya membawa rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga. "Kamu di berapa lama di Indonesia?" "Hampir dua tahun." "Hampir dua tahun dan kamu nggak coba buat nyari aku?" tanya Naya cepat. Rasanya sekarang apapun yang dikatakan Dean akan terdengar salah. Dean menghela napas pelan. Dia tidak bisa dan tidak akan marah, karena memang dia yang keterlaluan. "Aku takut kamu udah menikah. Setelah bertahun-tahun aku pikir ka..." "Kamu nggak pernah coba!" potong Naya. Dean mengangguk pelan. Ia menelan ludah demi melihat ekspresi Naya. Naya marah, namun matanya sedikit berkaca. Dean tidak suka atas fakta bahwa dia penyebabnya. "Sekarang, aku pengin perjuangin kamu lagi Nay. Aku mau kita mulai semuanya dari awal." "Kamy tahu kan kamu udah telat?" "Aku tahu. Tapi bukannya lebih baik telat daripada nggak sama sekali?" "Kalau istri kamu meninggal, kamu nggak akan pernah nemuin aku lagi, kan?" Rasa senang karena Naya mau menerima ajakannya berubah jadi sedikit penyesalan. Dean tahu Naya pasti akan menanyakan hal itu, tapi tidak bisakah ditunda? Dean masih ingin menikmati peran hanya sebatas pria yang dijodohkan dengan Naya. "Istri kamu meninggal kenapa?" tanya Naya setelah seorang pelayan selesai menata makanan di meja. "Sakit." "Menurut kamu harus apa?" "Ya?" "Sakitnya istri kamu itu... Menurut kamu aku harus berbela sungkawa atau gembira?" Mata Dean menatap Naya tajam. Ucapan Naya barusan sedikit kasar. Ada banyak hal yang bisa Naya katakan, tapi haruskah membawa-bawa almarhum istrinya? "Aku di sini sebagai duda yang dijodohkan sama kamu. Jadi tolong jangan sangkut pautin sama sama istriku." Naya yang sedang memotong udang dengan sendok menghentikan gerakannya. Dengan bibir yang digigit, dia menatap Dean. "Maaf," lirih Naya. Dari sekian banyak perkiraan kata yang akan keluar dari bibir Naya, Dean tak menduga bahwa kata itu yang keluar. Dan entah kenapa kenyataan Naya meminta maaf malah membuatnya merasa tidak nyaman. "Jangan minta maaf, Nay. Kamu nggak salah." Naya tak menghiraukan Dean lagi. Kini ia fokus pada makanan sambil berusaha keras agar tidak ada air mata yang jatuh. Tidak, Dean tidak boleh melihatnya menangis. *** Semua gara-gara Dean! Naya menghempaskan beberapa tas belanja ke kasur. Setelahnya, ia ikut membaringkan diri di sana. Sepulang dari restoran tadi, Naya langsung mampir ke mall. Ia sengaja membeli banyak barang mahal yang tidak ia butuhkan karena kesal. Bagaimana tidak? Perkataan Dean di restoran tadi benar-benar menyebalkan! "Apa tadi katanya? Jangan sangkut pautin dengan istriku? Istriku?! BEGOOOOO!" Naya bergerak heboh dia atas kasur, membuat satu dua tas tertendang dan jatuh ke lantai. Naya bahkan tak peduli jika tas belasan juta di dalamnya lecet atau rusak. Karena sekarang, ada sesuatu yang kondisinya lebih parah. Perasaan Naya, emosi Naya, semuanya sedang tidak baik-baik saja. Dan itu semua karena laki-laki bernama Dewata Angkasa alias Dean. "AARRRGGHHHH!" Naya mengerang keras untuk mengeluarkan amarahnya. Bukankah Dean bilang ingin memperjuangkannya? Kenapa malah lebih membela mantan istrinya itu? Memang secantik apa dia daripada Naya? Seingat Naya dulu Dean kan m***m, apa istrinya itu bule cantik yang suka pamer belahan? Memikirkan hal itu Naya jadi menggeram lagi. Dering telepon menginterupsi aktivitas Naya. Jika itu telepon dari rumah sakit, Naya mungkin akan menolak datang. Dia tidak mungkin mengobati orang jika dirinya sedang tidak baik-baik saja. "Apa?!" tanya Naya begitu panggilan tersambung. Dia bahkan tak melihat siapa yang menelepon. "Wah, wah, santai Nay, santai." Suara di ujung telepon membuat Naya menilik layar ponselnya. Ia segera berdehem pelan melihat nama yang tertera di layar. "Halo, Mas. Kenapa, ya?" "Kamu di rumah, kan? Aku udah mau sampai, nih." "Hah? Sampai?" Naya terdiam sebentar sebelum teringat sesuatu. "Iya Mas aku di rumah. Ini aku udah siap, kok. Aku tunggu ya." "Bye, Nay. See you." "See you." Naya menepuk pelan dahinya setelah panggilan terputus. Bisa-bisanya dia lupa jika ada janji dengan Dimas. Dengan kecepatan super, Naya mandi dan membereskan kamar. Dia harus sudah siap sebelum Dimas sampai. Tepat ketika Naya menuruni tangga, suara bel berbunyi. Naya mempercepat langkah menuju pintu. Ia berusaha tersenyum manis begitu melihat sosok Dimas. Dimas yang hampir kepala empat kini terlihat dewasa sekali. Bulu halus di rahang serta aroma parfum yang Dimas miliki membuatnya terlihat sangat maskulin. "Hai, Mas." "Hai, Nay." "Masuk dulu, Mas." Naya mundur dua langkah agar Dimas bisa masuk ke dalam rumahnya. "Hai Naya." Sesosok perempuan di belakang Dimas berpelukan dengan Naya. "Mbak Nadhira gimana kabarnya?" "Baik, Nay. Ayo salim dulu sama tante Nay." Nadhira mengelus pelan punggung salah satu gadis cilik di belakangnya. Salah seorang yang bernama Rosa maju dan menyalami Naya. "Halo, Tante Nay." "Halo, Rosa." Setelah melepas tangannya dengan Rosa, Naya mengulurkan lagi tangan kepada Jasmine. Alih-alih menyalaminya seperti Rosa, Jasmine malah melengos menyusul sang ayah yang telah duduk di kursi tamu. "Jasmine..." Nadhira sedikit mendelik pada Jasmine, tapi tak dihiraukan. Naya berdecak pelan. Entah kenapa dia tidak pernah akur dengan salah satu anak kembar Dimas dan Nadhira itu. "Bawang Merah sama Bawang Putih jahatan Bawang Merah. Mawar sama Melati harusnya lebih jahat Mawar. Ini malah kebalik," sindir Naya pada si kecil. Jasmine hanya mengedikkan bahu tanda tak peduli. Dimas sekeluarga yang tinggal di kota sebelah memang sering bermain ke rumah Naya. Sebenarnya sih bukan bermain. Jasmine dan Rosa sama-sama mengikuti gymnastic dan tempat latihannya ada di kota tempat Naya tinggal. Naya sih senang-senang saja. Dia jadi bisa bermain dengan anak-anak Dimas dan Nadhira. "Yang dua kok nggak ikut?" tanya Naya sedikit kecewa. Biasanya, dua anak Dimas yang lain ikut ke sini. Naya lebih senang pada mereka karena masih bayi dan tidak menyebalkan seperti Jasmine. "Diculik sama neneknya. Tadinya Rosa sama Jasmine mau diajak juga, tapi mereka nggak mau," jawab Nadhira yang kini sedang memindahkan martabak yang ia bawa ke piring. "Sekarang tanggal berapa sih, Ma?" tanya Dimas pada Nadhira. "Tanggal tiga belas. Emangnya kenapa?" "Oh tiga belas, pantes aja si Naya mukanya kusut. Kamu lagi PMS, ya?" Naya yang sedang menonton Rosa bermain ponsel bersungut tak terima. "Nggak, aku lagi nggak PMS. Emang lagi kesel tapi bukan gara-gara itu." "Kesel kenapa?" Ditanyai begitu, Naya baru ingat bahwa dia belum bercerita apa pun pada Dimas dan Nadhira. Padahal biasanya mereka berdualah yang paling sering Naya mintai pendapat. Naya menghitung. Sejauh ini hanya keluarganya, Alder, Farha, dan Alma yang tahu soal Dean. Naya memang ember bocor, jadi menceritakan soal ini pada Dimas tidak ada salahnya, kan? *** Dean duduk tak nyaman di kursi tunggu. Matanya ia paksa untuk tetap terbuka. Kopi yang baru diminumnya lima menit lalu tidak banyak berguna. Dengusan kesal keluar dari mulut Dean. Kurang ajar sekali dia diminta ke bandara pagi-pagi buta. Mana yang minta dijemput tak kunjung terlihat, lagi. Dean melirik arloji. Jika bisa menelepon, itu artinya orang itu telah mendarat sejak tadi, bukan? Pandangan Dean memindai isi bandara yang tak terlalu ramai. Ia lalu mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan untuk yang ke sekian. Selang beberapa menit, pesan Dean akhirnya dibalas. Orang yang Dean tunggu mengatakan bahwa ada sedikit masalah dengan barang yang ia bawa sehingga harus berurusan dengan petugas. Daripada kebablasan tidur, Dean memilih untuk membuka galeri. Sudut bibirnya terangkat melihat potret seorang wanita yang makan bersamanya kemarin. Seorang pegawai restoran telah ia tugaskan untuk membidik Naya sebanyak dan sebagus mungkin. Ini Dean lakukan karena ia sadar belum punya foto Naya lagi sejak sepuluh tahun yang lalu. Saat Dean mendongak, dia mendapati orang yang dia tunggu tengah berjalan dengan dua koper di tangannya. Perempuan itu sangat kuat untuk seseorang yang baru dari perjalanan jauh. Dean menggeleng pelan melihat tampilan perempuan tadi. Jeans ketat, high-heels super tinggi, blus merah menyala yang senada dengan lipstik serta kacamata hitam membuatnya terlihat sangat menonjol. Ayolah, ini masih dini hari dan buat apa kacamata hitam itu? Menyadari bahwa perempuan itu tak melihatnya, Dean melangkah mendekat sambil melambai. "Nadine!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD