Ivy menatap takjub pada apa yang sedang ditunjukkan oleh adiknya. "Ini semua apa, Er?" "Ini kamarnya Kakak sama Bravy lah, Kak. Masa kamar aku?" "Tapi ... Ini siapa yang bikin jadi kayak gini?" Eriva menghela nafas panjang. "Orang yang ngasih sama dengan orang yang ngasih nama anak Kakak juga." Ivy mendengus kesal. Baginya Bravino sudah sangat keterlaluan. Bukan hanya karena kamar dan semua isi kamar yang dibuat khusus untuk Bravy, nama anak pertama mereka. Ups, sorry. Memang anak pertama tapi bukan berarti Ivy menginginkan adanya anak ke dua, ke tiga atau selanjutnya. Ivy sendiri baru mengetahui nama anaknya saat ia akan mengurusi administrasi untuk bisa keluar dari rumah sakit. Ia memang belum sempat memberikan nama kepada sang putra karena semua kejadian terakhir ini. Kalau biaya

