"Hai, Bi." Tubuh Bravino menegang sewaktu Rere menyambutnya dalam pelukan. Saat ini ia sudah berada di apartemen Rere yang terlihat cukup mewah. Pasti hasil dari kerjanya yang membuka paha untuk Richard Milano. Berusaha sekuat tenaga untuk tak mendorong, Bravino terpaksa membiarkan Rere memeluknya. Dan sepertinya wanita itu sengaja menekan dadanya ke d**a Bravino, membuat Bravino ingin sekali membantingnya. Bukan ke tempat tidur melainkan ke lantai. 'Pulang dari sini gue harus mandi tujuh kali,' monolognya dalam hati. "Bi, kok diam aja? Katanya kamu kangen sama aku?" Rere menatap heran pada Bravino yang sikapnya masih terasa dingin. Sungguh berbeda dengan yang ia dengar di telepon tadi. "Oh, aku lagi sariawan. Perih banget kalau ngomong." "Sariawan?" Sebenarnya Bravino sendiri jug

