Bukan Kamu

1263 Words

Pria dengan perawakan besar, tato yang sangar dan sifat yang sekeras batu itu masih terpaku di tempatnya berdiri. Masih tetap menatap bayi mungil yang berkulit kemerahan itu. Alis yang tebal, hidung mancung dan runcing di bagian ujungnya. Bibir, bahkan jari-jari bayi itu sangat mirip dengannya. Hanya saja ini versi mini seorang Bravino Armstrong. "Dia anakku," ujar Bravino lirih dan sudah ke tiga kalinya. Ia menggeleng. "Gak mungkin anak lelaki lain tapi mirip gue kan?" monolognya lagi. Bravino jadi memutar kembali segala memorinya bersama Ivy. Betapa mereka sangat sering bercinta, dan hanya berhenti jika benar-benar sudah lelah. Betapa intens ia selalu mengawasi Ivy, walaupun memang tidak dua puluh empat jam. Tanpa ada satu kali pun ia mengetahui Ivy dekat bersama lelaki lain. Kecua

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD