Zaskia menatap wanita itu tajam.
Usia Vanessa sepertinya tidak muda lagi. Walaupun semua upaya perawatan sudah dilakukan untuk menutupi usia, tapi Zaskia bisa menebak usianya sekitar awal 30an. Dia sudah sangat matang, dan mungkin itu yang membuat Danu tergoda membawanya ke atas ranjang.
Tubuh Zaskia menegang membayangkan tangan kokoh yang selama empat tahun ini menyentuh tubuhnya telah menyentuh tubuh wanita ini. Dia tiba-tiba merasa mual.
“Lanjutkan kesenangan kalian. Maaf, sudah mengganggu,” ucap Zaskia akhirnya, setengah mati berusaha terlihat tegar.
Ia mundur selangkah. Lalu dua langkah. Danu melangkah maju, tapi Vanessa menaruh tangannya di bahu pria itu, seolah menandai wilayahnya.
“Sudahlah, Danu,” katanya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar Zaskia. “Ponakanmu sudah besar, dia pasti cukup paham untuk tidak menceritakan apa yang dia lihat pada keluarga kalian. Lagi pula, kita sebentar lagi menikah, nggak masalah kita melakukannya, kan?”
Ucapan itu seperti cambuk terakhir.
Zaskia berbalik, berlari menuruni tangga dengan mata yang kabur oleh air mata. Nafasnya tersengal, lututnya lemas, tapi ia terus berlari, seperti ingin meninggalkan seluruh kenyataan di belakangnya.
Di luar, langit Jakarta telah berubah kelabu. Hujan turun perlahan, seperti ikut berduka.
Ia berhenti di trotoar, menggenggam ponsel yang kini basah oleh air hujan. Layarnya masih memperlihatkan pesan terakhirnya—Sudah sampai, Sayang?—masih dengan satu centang, seolah dunia pun menolak memberinya jawaban.
Zaskia menatap gedung tinggi apartemen di seberang jalan, Danu masih berada di sana bersama wanita itu. Pria itu sama sekali tidak mengejarnya. Karena dia tidak berarti apa-apa baginya. Vanessa bahkan mengetahui dia adalah ponakan Danu.
Zaskia tergugu. Tangannya menutup mulut, menahan suara yang nyaris keluar sebagai jeritan. Dadanya terasa seperti diremas.
Dia memilihnya.
Bukan aku. Bukan lagi aku.
Hujan makin deras, mengguyur seluruh tubuhnya, tapi ia tidak bergerak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zaskia benar-benar merasa kehilangan arah. Cinta yang ia jaga seperti sayap kini patah, dan semua yang tersisa hanyalah kehampaan.
Ketika akhirnya ia tiba di rumah malam itu, jam menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit. Untung saja ayahnya sedang menghadiri jamuan bisnis, jadi tidak melihat kondisinya yang mengenaskan seperti ini. Setidaknya dia tidak perlu bingung memberikan penjelasan pada ayahnya.
Zaskia langsung masuk ke kamar. Ponselnya berbunyi dan bergetar tanpa henti—nama Danu muncul di layar. Panggilan pertama, kedua, ketiga, keempat… Zaskia hanya menatapnya. Lalu meletakkan ponsel di atas ranjang tanpa menjawab.
Ia menatap langit dari balik jendela. Lampu kota berpendar samar di bawah hujan. Suaranya nyaris tak terdengar ketika ia berbisik,
“Kamu sudah cukup menyakitiku, Danu. Aku sudah cukup mencintaimu.”
Zaskia menatap dirinya di cermin. Bukan wajah yang ia kenal. Kulitnya pucat, matanya sembab, dan senyumnya telah lama mati. Bayangan di depannya seolah milik orang asing—seorang perempuan yang pernah percaya, pernah mencintai, dan kini tidak tahu harus apa dengan hatinya yang hancur.
Air mata jatuh tanpa permisi, satu demi satu, lalu semakin deras. Tidak ada suara. Hanya gemerisik daun dari pepohonan di luar yang tertiup angin di sela hujan deras yang masih terus turun.
“Kamu bodoh, Kia…” Bisikan itu keluar di antara helaan napasnya sendiri.
“Bodoh karena masih berharap dia mencintaimu.” Di meja, ponselnya berbunyi dan bergetar lagi.
Nama itu muncul di layar.
Danu Hendrawan.
Nada dering yang dulu membuat jantungnya berdebar kini terasa seperti bel alarm yang menyakitkan. Ia menatap layar itu lama—sekali, dua kali, tiga kali—hingga akhirnya menekan tombol, mematikan ponsel tanpa ragu.
“Cukup,” gumamnya lirih. “Aku nggak mau dengar suaramu lagi.”
Sunyi kembali mengisi kamar. Hanya detak jam dinding yang perlahan terdengar seperti ejekan waktu.
Zaskia meraih bantal, memeluknya erat. Di kepalanya, kenangan Danu menari-nari tanpa ampun, suara lembutnya di bandara Kansai saat Zaskia mengantarnya kembali terbang, tawa mereka di tepi danau saat salju turun, kalimat yang selalu ia ulang—
“Begitu karierku mapan, aku akan menikahimu, Kia. Dunia hanya perlu waktu buat paham cinta kita.”
Kini setiap kata itu berubah menjadi pisau yang berputar di d@da.
Ia menutup matanya, berharap tidur bisa menghapus semuanya. Tapi malam itu tidak memberi belas kasihan. Tidurnya dangkal, penuh mimpi buruk: Danu yang tersenyum sambil menggenggam tangan Vanessa, tubuhnya menjauh, lalu lenyap dalam cahaya lampu bandara.
Saat fajar akhirnya datang, Zaskia bangun dengan mata bengkak tapi hati yang sedikit lebih tegas.
“Aku akan kerja,” katanya pelan, menatap langit keabu-abuan di luar jendela.
“Aku akan terbang… sejauh mungkin dari dia.”
***
Bandara Soekarno-Hatta pagi itu penuh hiruk pikuk.
Langkah-langkah petugas berpadu dengan panggilan boarding announcement yang bergema di seluruh terminal. Di antara semua itu, Zaskia berdiri tegak di ruang kru, siap memulai tugasnya.
Tangan kirinya menggenggam flight briefing dengan kuat, sementara tangan kanannya sedikit gemetar. Ia berusaha tampak tenang, tapi di dalam, setiap detak jantungnya terasa seperti hentakan pesawat saat menembus badai.
Hari pertama terbang. Hari pertama setelah segalanya runtuh.
Rekan sesama co-pilot, Rio, menepuk pundaknya sambil tersenyum. “Gila, kamu kelihatan kayak patung. Santai, Zas. Ini cuma penerbangan domestik. Jakarta – Surabaya - Denpasar. Easy flight.”
Zaskia mengangkat wajah, tersenyum tipis. “Iya, aku cuma… kurang tidur.”
“Ah, nervous ya?”
“Nggak juga,” jawabnya pelan. “Cuma mikir… banyak hal.”
Langit pagi itu tampak sempurna. Biru muda, bersih, dengan semburat tipis awan putih yang melayang tenang. Namun di balik kaca kokpit, d@da Zaskia justru terasa sesak.
Seragamnya masih tampak baru—putih bersih dengan garis emas di bahu, topi pilot yang pas menutupi sebagian wajahnya. Dari luar, ia terlihat seperti sosok muda penuh semangat yang siap menaklukkan dunia. Tapi di balik senyum profesional yang ia tampilkan, rahangnya menegang, dan jemarinya yang menggenggam buku panduan kecil itu bergetar nyaris tak terlihat.
“Ready for preflight check, Co-pilot?” suara Kapten Wiranto terdengar di sebelahnya, tenang dan mantap.
Zaskia menoleh cepat, tersenyum kecil. “Ready, Captain.” Ia berusaha agar suaranya terdengar yakin, meski napasnya berat.
Suara tombol-tombol, tuas, dan indikator digital memenuhi kokpit. Setiap klik terdengar terlalu keras di telinganya. Ia mengulang prosedur satu per satu seperti hafalan yang pernah ia kuasai—hanya saja kini, otaknya bekerja mekanis, tanpa rasa.
“Altimeter set, navigation checked, flaps position confirmed,” suaranya jernih, tapi kosong.
Kapten mengangguk puas. “Good. You’re calm. That’s good.”
Zaskia tersenyum lagi—senyum tipis, sekadar isyarat bahwa ia mendengar. Di dalam kepalanya, ribuan suara bergema: tawa Danu, nada bicara lembutnya, janji-janji yang kini terasa seperti kepingan kaca di dadanya. Ia meneguk ludah, menatap lurus ke depan.
Jangan pikirkan itu.
Fokus.
Terbang.
Saat pesawat mulai bergerak di landasan, getaran lembut menjalar ke seluruh tubuhnya. Suara mesin yang dulu membuatnya bersemangat kini terasa asing—seperti lagu lama yang kehilangan maknanya.
“Take off,” ujar Kapten perlahan.
Zaskia menegakkan tubuhnya, jemarinya menyentuh tuas kendali. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya pelan. Roda mulai berputar cepat, landasan bergeser di bawah mereka, dan dalam hitungan detik, pesawat terangkat meninggalkan permukaan bumi.
Dan ketika pesawat akhirnya mengudara, Zaskia menemukan kembali rasa yang lama ia rindukan: rasa tenang.
Di atas sana, awan terlihat damai, langit membentang biru seperti lembar kosong. Tidak ada Danu, tidak ada Vanessa, tidak ada masa lalu. Hanya desau angin dan dengung mesin yang konstan.
Awan pertama menyapa jendela di sisi kanan. Cahaya matahari menembusnya, membiaskan warna keemasan di wajah Zaskia. Ia memandang ke luar, ke langit yang luas tak berujung—tempat yang memberinya rasa hidup, kebebasan, kebanggaan.
Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan dirinya tersenyum tipis.
Kini, ruang itu terasa sunyi.
Terlalu sunyi.
Ia tersenyum kecil tanpa alasan, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja. Tapi senyum itu tak sampai ke mata. Di balik kaca helm komunikasinya, ada gadis muda yang berusaha melupakan sesuatu yang bahkan udara di ketinggian pun tak bisa membawanya pergi.
“Beautiful, isn’t it?” Kapten Wiranto meliriknya.
Zaskia mengangguk. “Yes, Captain. Very beautiful.” Tapi suaranya pelan, seperti angin yang kehilangan arah.