Zaskia menelan ludah. “Aku dan Daddy Farris pindah ke sini. Daddy mau memulai bisnis baru, dan aku… aku sudah diterima di SkyVista Air.”
Sejenak, hanya ada keheningan di ujung sambungan. Suara bising bandara terdengar makin jelas.
“Kenapa kamu nggak bilang sebelumnya?” suara Danu terdengar lebih keras, bernada marah. “Kamu tahu nggak betapa rumitnya kalau kita tinggal berdekatan? Kamu pikir aku bisa tenang begitu saja?”
Zaskia menunduk, menggigit bibirnya. “Aku cuma… ingin memberi kejutan.”
“Zaskia!” bentak Danu pelan, tapi terdengar jelas dia sangat kesal. “Kamu nggak bisa main-main seperti ini. Semua yang kita jalani selama ini penuh risiko, kamu lupa?”
Namun, sebelum Zaskia sempat meminta maaf, nada suara Danu berubah sedikit. Lebih lembut. “Ya sudah… di mana kamu sekarang?”
Zaskia menarik napas lega. “Baru pulang dari kantor. Aku mulai orientasi besok dan akan langsung terbang.”
Danu tak menjawab segera. Ia hanya menghela napas panjang, seperti menahan sesuatu.
Lalu suaranya kembali terdengar, lebih tenang, bahkan nyaris hangat. “SkyVista, ya? Maskapai besar. Kamu memang pantas di sana.”
“Terima kasih,” jawab Zaskia, hatinya mulai tenang. “Aku pikir… kita bisa lebih sering bertemu sekarang. Tidak perlu menunggu berbulan-bulan.”
Hening beberapa detik. Kemudian dari seberang terdengar suara tawa pendek, rendah, khas Danu.
“Cuma kamu yang tahu cara menenangkan aku, walau hanya dengan kalimat sederhana,” katanya akhirnya. Nada marahnya lenyap, berganti dengan nada menggoda yang akrab di telinga Zaskia.
“Aku hanya ingin dekat denganmu,” jawab Zaskia jujur, hampir berbisik.
“Kau selalu tahu caranya membuatku kehilangan logika,” ucap Danu pelan, seolah lebih pada dirinya sendiri. “Tunggu aku pulang dari Dubai, Kia. Kita akan bicara.”
Sambungan terputus pelan. Namun suara itu masih bergema lama di kepala Zaskia—hangat dan berbahaya, seperti bara yang tak padam.
Ia bersandar di kursinya, memejamkan mata sebentar. Dalam keheningan itu, perasaannya terombang-ambing antara lega dan resah. Ia tahu Danu marah, tapi ia juga tahu… pria itu tak akan bisa lama menjauh darinya.
Jakarta baru saja membuka pintunya untuk Zaskia. Namun di balik langit yang biru itu, ada badai yang mulai berputar perlahan—badai yang bernama cinta dan obsesi.
**
Tiga hari berlalu sejak telepon itu. Jakarta tak pernah benar-benar tidur, tapi bagi Zaskia, waktu seakan berjalan lambat menunggu kedatangan Danu.
Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang dibiarkan tergerai lembut ke bahu. Gaun sederhana berwarna gading membingkai tubuh rampingnya. Di matanya ada cahaya yang sulit dijelaskan—campuran rindu dan gugup.
Di meja rias tergeletak ponsel dengan pesan terakhir dari Danu: [Penerbangan mendarat pukul 19.30. Kita bertemu di Acassia, 30 menit lagi.]
Itu nama sebuah hotel yang berada cukup dekat dari rumahnya. Kata itu saja sudah cukup membuat hatinya bergetar.
**
Hujan tipis menyambut malam Jakarta. Lampu-lampu jalan berpendar di genangan aspal. Zaskia memarkir mobilnya, lalu menarik napas dalam sebelum melangkah ke lobi.
Matanya berkeliling mencari sosok Danu, dan dia menemukan pria itu sedang duduk di pojok, area merokok, sendirian.
Zaskia berjalan mendekat dengan langkah perlahan, jantungnya berdegup cepat. Aroma maskulin yang begitu dikenalnya langsung menyergap indra begitu dia berdiri di dekat pria itu.
Danu masih mengenakan seragam pilot, yang melekat di tubuhnya, dasi longgar di leher, dan sebatang rokok padam di tangannya. Ia menatap langit malam yang basah.
“Danu…” suara Zaskia pelan, hampir bergetar.
Pria itu berbalik. Sekilas senyum muncul di sudut bibirnya, tapi tak sampai ke matanya. Ia tampak lelah, dan entah kenapa, lebih dingin dari biasanya.
Dia lalu menekan sisa rokok di asbak dan menarik tangannya. Zaskia mengikuti langkahnya menuju lift.
Mereka hanya berdiam diri saat di dalam lift.
Danu baru berbicara setelah mereka masuk ke kamar. “Kamu datang tepat waktu,” katanya datar.
“Aku kangen,” jawab Zaskia jujur, melangkah mendekat. Namun begitu ia hendak memeluknya, Danu menahan pinggangnya, menatap wajahnya dalam-dalam. Tatapan itu tajam, penuh sesuatu yang sulit dijelaskan—antara rindu, kemarahan, dan ketakutan kehilangan.
“Kamu cantik malam ini,” ucapnya akhirnya. “Terlalu cantik.”
Zaskia tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Kamu terdengar seperti menuduh.”
“Mungkin,” jawabnya pelan, menunduk sedikit, menatapnya lebih dekat. “Aku tidak suka membayangkan ada yang melihatmu seperti ini.”
Zaskia terdiam. “Danu…”
“Tapi kamu di Jakarta sekarang,” lanjutnya, suaranya lebih rendah. “Dekat denganku. Dekat dengan semua orang yang bisa tahu hubungan ini. Apa kamu sempat mikirin risikonya?”
Zaskia mencoba tersenyum. “Aku pikir kita bisa lebih sering bertemu, bukan saling menyalahkan.”
Namun Danu justru melangkah mundur. “Kamu pikir ini sesederhana itu?”
Zaskia menelan ludah. “Aku nggak ngerti,” dia menatap Danu bingung.
“Kia..” Danu menggeleng-gelengkan kepala, frustrasi. “Aku udah minta kamu bersabar, tapi kamu justru memutuskan pindah ke Jakarta tanpa bicara padaku.”
Suara Danu mulai meninggi. Di matanya, ada api yang nyaris tak terkendali.
Zaskia mengerutkan kening. “Aku cuma ingin dekat. Aku pikir kamu akan senang—”
“Senang apa?!” potong Danu tajam. “Kamu datang ke kota yang sama denganku, bekerja di maskapai besar, seolah tidak ada beban. Apa kamu sadar, Kia, kamu sedang bermain dengan hidupku?”
Zaskia terpaku. Nada itu… bukan nada pria yang dulu membuatnya merasa aman. Ini nada yang berat, nyaris menuduh, dan berisi kecemasan yang tak pernah ia pahami sebelumnya.
“Danu…” bisiknya pelan. “Aku nggak bermaksud—”
Namun sebelum ia melanjutkan, Danu menariknya ke dalam pelukan—erat, nyaris menyakitkan. Nafasnya berat di leher Zaskia, panas dan bergetar.
“Seharusnya kamu dengerin aku, Kia,” katanya di antara helaan napas. “Waktu kita bukan sekarang. Tunggu aku berhasil meraih impianku dulu,”
Zaskia membiarkan dirinya diam di sana, tapi sesuatu di dalam dirinya bergerak pelan—sebuah kesadaran kecil yang selama ini tak berani muncul. Ia mencintai Danu, ya. Tapi rasa itu kini terasa berbeda. Tidak lagi membebaskan. Tidak lagi hangat. Lebih seperti sesuatu yang menahan dan mengikat.
Beberapa jam kemudian, ketika malam sudah larut dan kota di luar jendela hanya menyisakan cahaya samar, Zaskia duduk di tepi ranjang. Danu sudah tertidur, satu lengannya masih melingkari pinggangnya dengan posesif.
Ia menatap wajah pria itu lama-lama. Ada gurat keras yang dulu tak pernah ia lihat. Entah sejak kapan, cinta mereka berubah menjadi kebiasaan yang menakutkan.
Di dalam hatinya, Zaskia tahu sesuatu mulai retak. Namun di bawah genggaman Danu yang masih hangat, ia belum berani mengakuinya.
Ia hanya memejamkan mata, membiarkan malam menelan semua pertanyaan yang belum sempat terjawab. Zaskia tidak ikut tidur, hingga kemudian memutuskan menyelinap keluar dan pulang.
Dia bertemu lagi dengan Danu beberapa hari setelah malam itu.
***
Langit Jakarta masih sama, tapi hatinya sudah tidak.
Notifikasi di layar ponsel Zaskia masih berhenti di centang satu. Sejak pagi, ia menatapnya berkali-kali—setiap kali dengan harapan yang sama, setiap kali dengan hasil yang sama pula.
Pesan terakhirnya pada Danu hanya berisi tiga kata sederhana: Sudah sampai, Sayang?
Tapi tiga kata itu kini terasa seperti jeritan tanpa jawaban.
Pesawat Danu dijadwalkan mendarat pukul 13.45 siang di Jakarta. Sekarang sudah lewat pukul lima sore. Di layar ponsel, jam digital terus bergulir, seolah mengejeknya.
Zaskia menatapnya lagi, menggigit bibir bawah, dan mencoba meyakinkan diri.
‘Mungkin dia lelah. Mungkin ponselnya mati. Mungkin dia butuh waktu sendiri.’
Tapi setiap mungkin yang ia ucapkan hanya menambah kegelisahan. Sejak beberapa minggu terakhir, Danu memang aneh—jawaban singkat, jarang menelpon, dan tatapannya setiap kali mereka bertemu selalu seperti menembus ruang kosong. Ada sesuatu di balik sikapnya. Dan saat ini, Zaskia tidak sanggup lagi menunggu untuk tahu apa.
Ia menggulir kontak ponselnya, menekan nama Arya, teman sesama pilot yang bekerja di maskapai yang sama.
“Yah, Kia, ada apa? Kau nggak biasanya nelpon jam segini,” suara Arya terdengar serak di seberang.
“Aku cuma… mau nanya, penerbangan Paman Danu—dari Frankfurt ke Jakarta—udah mendarat kan siang ini?”
“Udah. Pukul satu lewat, sesuai jadwal. Kenapa?” Zaskia menarik napas panjang.
“Nggak, cuma… pengin tahu aja.”
“Dia masih di bandara mungkin. Tapi kalau kamu mau nyusul, jangan ke terminal crew. Biasanya Danu langsung naik shuttle ke apartemen.”
Setelah sambungan terputus, Zaskia duduk diam di tepi tempat tidurnya. Di luar, langit Jakarta menjingga, bias matahari senja menerobos jendela dan jatuh di wajahnya. Tapi hangatnya tak bisa menembus d@da yang terasa sesak.
Ia menggenggam ponsel lebih erat, lalu berdiri. “Mungkin aku cuma terlalu khawatir,” gumamnya, menatap bayangan dirinya di cermin. Tapi dalam pantulan itu, ia melihat sesuatu—mata yang lelah, senyum yang dipaksakan, dan tatapan perempuan yang terlalu sering menunggu janji yang tak ditepati.
Akhirnya, ia mengambil jaket, memutuskan pergi ke apartemen Danu.
Jakarta sore itu berwarna oranye keemasan. Udara lembab menempel di kulit, membuat langkah Zaskia terasa berat. Di kepalanya, ia mengulang berbagai kemungkinan—semuanya berakhir dengan satu harapan kecil: Danu akan tersenyum melihatnya datang, seperti dulu, ketika mereka masih bisa tertawa tanpa beban
Apartemen pribadi Danu—tempat yang hanya sempat dia kunjungi beberapa kali selama empat tahun kebersamaan mereka, hanya ketika mereka pulang berlibur ke Jakarta, yang cukup jarang dilakukan karena kesibukan ibunya di rumah sakit.
Tangannya sedikit gemetar ketika menekan tombol lift. Setiap lantai yang dilewati seperti menambah detak di dadanya.
Mungkin dia tertidur. Mungkin dia cuma butuh pelukan. Namun ketika pintu apartemen itu akhirnya terbuka, harapan terakhirnya pecah tanpa suara.
Danu berdiri di ambang pintu. Wajahnya terkejut, tapi bukan bahagia. Mata yang biasanya hangat kini membeku. Ia hanya sempat berkata, “Kia—” sebelum Zaskia memperhatikan detail yang membuat darahnya berhenti mengalir: celana pendeknya—dikenakan terburu-buru, dia bahkan mengenakannya terbalik.
Dari dalam apartemen, terdengar tawa perempuan. Lembut, manja, tapi menusuk.
“Danuuu, siapa, sih yang datang? Lama banget—”
Suara itu berhenti tiba-tiba seiring sosok Vanessa Robin muncul di belakang Danu, hanya mengenakan jubah mandi putih, rambut basahnya menempel acak di bahu. Aroma sabun dan parfum mahal bercampur jadi sesuatu yang memuakkan.
Zaskia terpaku. Dunia berhenti bergerak. Suara AC, detak jam, bahkan hiruk pikuk jalan di luar, semuanya lenyap. Yang tersisa hanya Danu—dan Vanessa.
“Oh,” Vanessa mengangkat alisnya, memandang Zaskia dari ujung kepala hingga kaki. Bibirnya melengkung dalam senyum yang tajam. “Kamu Zaskia, ponakannya Danu, kan?” tanyanya ringan.
Zaskia berdiri di sana, kelu. Hanya matanya yang terus mengawasi kedua orang di depannya tanpa berkedip.
Vanessaa mengabaikan tatapannya dan melanjutkan sambil memeluk lengan Danu, “Aku Vanessa, calon istrinya Danu,” seolah memperkenalkan diri di acara makan malam, bukan di tengah pengkhianatan.