Bab 5 Kesempatan Baru?

1045 Words
Ia belum sempat memberi tahu pria itu bahwa ia kini berada di Jakarta. Telepon terakhir yang ia lakukan sore tadi tak tersambung—ponselnya tidak aktif. Biasanya itu berarti Danu sedang dalam penerbangan. Tapi malam ini, ada rasa tak tenang yang menggantung di d@da Zaskia, seperti ada sesuatu yang akan berubah tanpa bisa ia kendalikan. Begitu mereka sampai di rumah, Zaskia langsung menuju kamarnya di lantai atas. Rumah itu luas, hangat, dan sudah siap huni. Semua terasa baru, tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang tetap saja sama: ruang kosong yang terus diisi bayangan seorang pria. Ia duduk di tepi ranjang, menatap foto ibunya yang dipajang di meja kecil. Wajah lembut itu tersenyum dalam bingkai, seperti masih berusaha menenangkannya dari dunia lain. “Mom, aku sudah di sini,” bisiknya pelan. “Jakarta... tempat semuanya dimulai, kan?” Angin malam menyusup lewat jendela yang sedikit terbuka. Dari luar, terdengar samar suara lalu lintas dan dengung kota yang tak pernah benar-benar tidur. Zaskia menatap ponselnya yang diletakkan di atas meja. Layar itu gelap. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan masuk. Ia mencoba tersenyum untuk menenangkan diri. Mungkin dia masih di udara. Mungkin besok dia pulang. Tangannya meraih ponsel itu lagi, dan untuk sesaat, ia terpikir untuk mengirim pesan singkat. Tapi kemudian diurungkannya. Ia ingin membuat kejutan. Selama ini, selalu Danu yang memegang kendali—menentukan kapan mereka bertemu, kapan berbicara, kapan menghilang. Kali ini, Zaskia ingin sedikit membalik keadaan. Ia ingin menunjukkan bahwa ia juga bisa hadir tanpa diundang, bisa menemuinya tanpa harus menunggu izin. Ada semangat kecil yang tumbuh dari keinginan itu—keberanian yang bercampur rindu. “Besok aku akan menemuimu,” bisiknya pelan, lebih pada dirinya sendiri. Ia membayangkan wajah Danu ketika melihatnya datang tanpa kabar. Mungkin pria itu akan terkejut, atau mungkin marah karena Zaskia melanggar kesepakatan diam-diam mereka. Tapi di balik itu, Zaskia yakin—bagaimanapun juga, Danu mencintainya. Bukankah ia yang selalu berkata, “Kau satu-satunya yang membuatku merasa hidup”? Zaskia memejamkan mata, membiarkan bayangan itu menari di dalam pikirannya—senyum Danu, tatapan matanya, suara beratnya yang sering membuat dunia di sekitarnya menghilang. Namun semakin lama ia tenggelam dalam kenangan itu, semakin terasa pula sesuatu yang menusuk dari dalam: rasa sakit yang ia coba abaikan. Ia tahu Danu berjanji akan menikahinya, tapi ia juga tahu janji itu kini menggantung di udara tanpa kepastian. Dan di sela bayangan itu, muncul wajah lain—Adera, dengan senyum hangatnya, dengan cara menatap yang jujur dan tanpa syarat. Zaskia membuka mata pelan. Ada rasa bersalah yang tak bisa ia pahami. Ia belum mengenal Adera, tapi entah mengapa, tatapan pemuda itu meninggalkan bekas di dadanya—seperti secercah cahaya kecil yang menyusup di tengah langit yang mendung. Ia menepuk pipinya perlahan, mencoba mengusir pikiran itu. “Jangan bodoh, Kia,” gumamnya sendiri. “Kau tahu siapa yang kau tunggu.” Ia menatap ponsel itu sekali lagi. Masih sepi. Lalu akhirnya ia berbaring, menarik selimut hingga ke d@da. Di luar jendela, langit Jakarta berkilau dengan ribuan lampu, tapi di hati Zaskia, hanya ada satu cahaya yang benar-benar berarti—cahaya yang entah sejak kapan berubah menjadi api yang membakar perlahan. Dan malam itu, dengan pikiran yang setengah tertidur, Zaskia memutuskan sesuatu yang akan mengubah segalanya: besok, ia akan menemui Danu. *** Pagi Jakarta menyambut dengan cahaya lembut yang menembus tirai jendela. Suara burung bercampur dengan dengung lalu lintas dari kejauhan—suara khas kota yang tidak pernah benar-benar berhenti. Zaskia berdiri di depan cermin, mengenakan seragam barunya. Warna biru tua dengan emblem maskapai di dadanya tampak serasi dengan kulitnya yang bersih dan postur tegapnya. Di matanya, tampak bayangan kebanggaan yang samar—bukan hanya karena seragam itu, tapi karena perjalanan panjang yang akhirnya sampai di sini. Farris muncul di pintu, tersenyum lebar melihatnya. “Kalau Mommy masih hidup, dia pasti bangga sekali, Kia.” Zaskia menoleh, menahan senyum yang mulai basah oleh kenangan. “Aku cuma ingin dia tahu… aku menepati janji. Aku terbang, Dad, seperti yang Mom inginkan.” Farris mendekat, menepuk bahu putrinya pelan. “Sekarang waktumu untuk benar-benar hidup. Jakarta bukan hanya tempat baru, tapi juga kesempatan baru. Daddy yakin kamu akan baik-baik saja.” Zaskia mengangguk. “Aku akan mencoba, Dad.” ** Gedung kantor maskapai SkyVista Air berdiri megah di kawasan Sudirman. Bangunan kaca itu memantulkan langit biru yang bersih—cermin bagi ambisi dan mimpi banyak orang yang bekerja di dalamnya. Begitu melangkah masuk, Zaskia disambut suasana yang ramai dan tertib. Para awak kabin dan pilot berlalu-lalang dengan langkah cepat dan percaya diri. “Kapten Zaskia Elmira Nasir?” sapa seorang wanita muda di meja resepsionis. “Belum kapten, hanya first officer,” jawab Zaskia sambil tersenyum. Wanita itu tertawa kecil. “Untuk seorang lulusan baru, kamu sudah cukup terkenal. Nilai penerbanganmu di Osaka luar biasa. Kapten Rajendra menunggu di ruang brifing.” Zaskia berterima kasih dan mengikuti arahan. Langkahnya ringan tapi hatinya berdebar. Di ruangan itu, beberapa pilot senior sudah menunggu, salah satunya pria berwajah ramah dengan rambut beruban sebagian—Kapten Rajendra, instruktur senior yang dikenal tegas tapi adil. “Zaskia Elmira Nasir,” ucapnya sambil membaca berkas. “Pendidikan di Osaka Flight Academy, prestasi luar biasa. Aku dengar kamu juga pernah ikut program simulasi internasional?” “Ya, Kapten,” jawab Zaskia sopan. “Bagus. Kami senang kamu memilih SkyVista. Besok kamu mulai orientasi penerbangan domestik, lalu dilanjutkan dengan rute Asia.” Zaskia menahan senyum lega. “Terima kasih, Kapten. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik.” Pertemuan itu berlangsung singkat tapi berkesan. Begitu keluar dari ruang brifing, Zaskia bertemu beberapa orang karyawan yang menyapanya ramah. Rasanya seperti pulang ke rumahnya sendiri, dan dadanya muncul rasa haru yang nyaris menyakitkan. Lagi-lagi ia teringat pada ibunya. Inilah hidup baruku, pikirnya. Langit yang sama, tapi kisah yang berbeda. Siang menjelang sore ketika ia kembali ke mobil. Begitu duduk di kursi penumpang, ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya berdegup kencang. Danu. Ia menarik napas panjang sebelum menekan tombol hijau. “Hallo?” suaranya terdengar lembut, tapi gugup. “Akhirnya kamu angkat juga,” suara berat itu muncul dari seberang, disertai bunyi samar mesin jet di latar belakang. “Kamu di mana, Kia?” Zaskia tersenyum kecil. “Aku di Jakarta.” “Jakarta?” nada Danu naik tajam. “Kamu bilang apa barusan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD