Bab 7

663 Words
Sudah tiga hari sejak pintu itu terbuka. Dan setiap malam, luka bakar di lengan Nadia membentuk simbol baru. Simbol pertama adalah tengkorak berantai. Kini muncul simbol mata yang menangis darah. Setiap kali darahnya menyentuh luka itu, terdengar bisikan—bukan dari luar, tapi dari dalam pikirannya sendiri. Suara itu menyerupai Gilang, kadang menyerupai ibunya. Kadang—tidak menyerupai siapa pun. “Tiga pintu lagi… tiga jiwa lagi…” Nadia menyembunyikan semua itu dari warga desa. Tapi malam itu, ia tahu—seseorang sudah melihatnya. Ketukan di Jendela Klinik Pukul 01.13 dini hari. Ketika ia tertidur di bangsal klinik, ketukan terdengar dari jendela. Pelan. Teratur. Tiga kali. Tok. Tok. Tok. Nadia membuka matanya perlahan. Dan di balik jendela, berdiri anak kecil, kira-kira berumur lima tahun, tanpa pakaian, tubuh penuh lumpur, dan... tak memiliki mata. “Tolong… Ibu saya di bawah... dia kedinginan...” Nadia tidak bisa menjerit. Lidahnya membeku. Ia menatap lurus ke wajah kosong itu. Anak itu perlahan menunjuk ke arah ruang bawah tanah klinik. “Ibu... ibu di sana…” Dan sebelum Nadia sempat bereaksi, anak itu menghilang. Tak ada jejak di luar jendela. Hanya embun beku dan jejak kaki kecil mengarah ke… ruang penyimpanan mayat. Klinik yang Disumpahi Keesokan paginya, Pak Kromo, kepala dusun, datang terburu-buru. Wajahnya pucat. “Bu Nadia… Ada warga yang kerasukan. Kami butuh bantuan sampean.” Nadia ikut menuju rumah korban: Bu Parti, seorang ibu penjual sayur. Perempuan itu terikat di ranjang bambu. Tubuhnya menggigil seperti kesurupan, namun dari mulutnya… keluar bahasa yang bukan milik manusia: "Ma...ta...ke...empat… buka… buka…” Pak Kromo mendekat. “Sudah dua warga lain semalam yang muntah darah sambil bilang hal sama. Ada apa ini, Bu Nadia?” Nadia hanya bisa menunduk. Tapi ketika ia akan membuka mulut, Bu Parti tiba-tiba menoleh tajam ke arahnya. Mata putihnya menatap lurus dan suara berat keluar dari tenggorokannya: “Kau! Pewaris terakhir! Kau yang membuka kembali darah keluargamu!” Rahasia Keluarga yang Terkubur Malam itu, Nadia menggeledah laci meja tua peninggalan almarhum kakeknya yang dulunya dukun desa. Di antara berkas-berkas, ia menemukan satu buku catatan tua—tertulis tangan dengan tinta merah. Di halaman pertama, tertulis: “WARISAN DARAH DARI LELUHUR PENJAGA PINTU.” Dan halaman-halaman selanjutnya mengungkap sesuatu yang membuat Nadia hampir pingsan: Gilang bukan orang pertama yang berurusan dengan Kuburan Pesugihan. Ayah Nadia sendiri pernah mencoba menutup Pintu Ketiga—namun gagal dan mati terbakar dalam rumahnya. Kakek Nadia dulunya adalah penjaga pintu, namun ketika anak-anaknya mulai membangkang dan “bermain-main dengan kekayaan instan,” kutukan itu menguat. Dan kini… hanya darah keturunan penjaga yang bisa menyegel kembali Pintu Keempat dan Kelima. Di akhir buku itu tertulis: “Jika waris terakhir gagal, maka kutukan akan hidup kembali. Bukan hanya satu desa, tapi tujuh tanah akan tenggelam. Maka kau, cucuku… akan menjadi kunci. Entah segel, atau korban terakhir.” Kematian Pertama Esoknya, warga desa kembali geger. Pak Kromo ditemukan tergantung di pohon pisang belakang rumahnya, dengan mata tercungkil dan mulut menganga. Di dadanya tertulis dengan darah: “Satu sudah dibayar. Tiga tersisa.” Warga panik. Malam itu, tak ada yang berani menyalakan lampu. Suara kentongan berbunyi tiap jam, dan bayangan mulai terlihat di sawah-sawah. Nadia mengunci diri di klinik. Tapi menjelang tengah malam, ia mendengar langkah di atap. Lalu... suara bisikan di lobang AC. “Kau tidak akan bisa kabur. Sudah takdir darahmu…” Penjaga Kuburan Muncul Tepat pukul 03.00 dini hari, pintu klinik berderak terbuka sendiri. Dari balik kegelapan luar, sosok tinggi berjubah hitam itu muncul lagi. Kini ia membawa tongkat kepala kambing dan tiga lonceng yang berdenting sendiri, meski tak ada angin. Ia berdiri tepat di ambang pintu, dan dengan suara berat mengucap: “Pintu Keempat telah terbuka… Persiapkan darahmu, Nadia. Saatnya memilih: menjadi penjaga… atau menjadi tumbal.” Bersambung ke Bab 8... Di bab selanjutnya: Nadia harus masuk ke dalam alam antara hidup dan mati untuk menutup pintu keempat, sambil menghadapi roh-roh korban pesugihan yang menuntut balas. Tapi setiap pintu yang ia tutup, mengambil ingatan, tubuh, dan jiwa Nadia sedikit demi sedikit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD