Bab 6

674 Words
Sudah tiga minggu sejak malam Gilang menghilang. Nadia tidak pernah bisa tidur nyenyak sejak saat itu. Bukan karena duka semata. Tapi karena setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat tanah terbuka, dan wajah Gilang—bukan seperti dirinya, tapi separuh membusuk, separuh menjerit. Dan di mimpinya, Gilang selalu berkata hal yang sama: “Tutup pintunya, Nad… sebelum ada yang masuk lagi.” Namun apa yang dimaksud Gilang? Pintu apa? Kejadian Aneh di Desa Sejak malam itu, desa mulai berubah. Anak-anak sering mengigau. Beberapa orang tua mulai berjalan dalam tidur dan bicara dalam bahasa yang tak dikenali. Bahkan seekor anjing peliharaan ditemukan menggali tanah di belakang balai desa, menggonggong tanpa henti ke arah sebuah batu besar yang setengah tenggelam. Di batu itu, tertulis ukiran dengan huruf kuno: “Wong sing ngupakara, bakal mati ning nyawane dewe.” (Barang siapa yang menjaga rahasia ini, akan mati oleh jiwanya sendiri.) Penduduk desa mulai resah. Namun semua berpura-pura. Pertemuan dengan Lelaki Misterius Suatu sore, Nadia sedang duduk di beranda klinik desa saat seorang lelaki tua muncul di jalan setapak. Bajunya compang-camping, matanya cekung dalam, dan ia membawa satu kantong kain dari kulit kerbau. “Kamu Nadia, ya?” “Iya… siapa, Pak?” “Saya cuma pembawa pesan. Dari… Gilang.” Nadia langsung berdiri, detak jantungnya berhenti sejenak. “Dia... masih hidup?!” Lelaki itu tersenyum miris. “Tidak. Tapi jiwanya belum hancur sepenuhnya. Dan dia bilang, kamu harus ke... Pintu Ketiga.” “Pintu Ketiga?” “Pintu yang pernah disegel oleh darah. Tapi kini terbuka karena keserakahan anak muda. Pintu yang jika terbuka sepenuhnya… bukan cuma satu desa yang tenggelam, tapi seluruh tanah di bawahnya.” Lelaki itu menyerahkan kantong kulit kerbau itu pada Nadia. Di dalamnya ada satu benda yang membuat Nadia muntah seketika: Lidah manusia. Masih basah. Dan di bawah lidah itu, terselip sepucuk kertas kumal bertuliskan: “Batu ketiga, akar keempat, darah keenam.” Petunjuk yang Menuntun ke Neraka Nadia, walau takut, merasa ia tak bisa mundur. Ia tahu jika tak mengikuti petunjuk itu, bukan hanya dirinya yang akan hilang. Tapi seluruh desa… mungkin lebih luas dari itu. Malam itu, ia mengikuti simbol di peta lama milik Gilang yang masih tersimpan di klinik. Petanya mengarah ke sebuah bukit tak bernama di belakang hutan pinus, tertutup semak belukar dan dikenal warga sebagai lokasi larangan. Di sana, setelah menghitung batu ketiga dari pohon beringin, menggali akar keempat, dan memercikkan darah dari jarinya... tanahnya terbuka sendiri. Sebuah pintu kayu berkarat muncul di dasar lubang, dengan simbol aneh tergambar: tengkorak bermahkota dan dua tangan terikat rantai. Nadia menghapus keringat dingin di dahinya. Ia tahu, apa pun yang ada di balik pintu ini... bukan manusia. Dan sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, pintu itu terbuka sendiri. Apa yang Keluar Bukan Manusia Udara dari dalam gelap, dingin, dan membawa bau busuk yang menusuk hingga ke paru-paru. Lalu terdengar… derap langkah. Sesuatu sedang keluar. Nadia tak bisa bergerak. Tubuhnya beku. Dari dalam, muncul bayangan hitam besar. Bukan roh. Bukan manusia. Tapi sosok tinggi, mirip manusia, dengan wajah tertutup kain hitam, dan setiap langkahnya mengeluarkan bunyi beling pecah dan tulang retak. Sosok itu membawa benda menyerupai lonceng kecil—dan setiap lonceng itu berbunyi, tanah bergetar. “Penjaga telah dibangunkan...” “Kuburan telah menuntut... lebih banyak nyawa.” Lalu sosok itu menoleh langsung pada Nadia. Suara berat bergema dalam pikirannya, tanpa ia buka mulut. “Kau… wanita yang ditunda. Kini waktumu telah kembali.” Nadia menjerit, berlari, terjatuh, lalu pingsan di tanah. Sadar dengan Luka yang Berbicara Ia terbangun di klinik. Ditemani warga desa. Namun ada yang aneh. Di lengannya, ada luka bakar berbentuk simbol tengkorak dan rantai. Dan setiap malam, lukanya terasa panas dan berbisik dalam bahasa yang tidak bisa ia mengerti. “Buka... Pintu keempat…” Bersambung ke Bab 7... Di bab berikutnya, Nadia harus memecahkan simbol kutukan yang muncul di tubuhnya satu per satu—dan setiap simbol berarti satu korban baru. Mampukah dia menghentikan kebangkitan roh penjaga Kuburan Pesugihan? Atau apakah semua ini bagian dari rencana yang jauh lebih besar rencana yang melibatkan keluarga Nadia sendiri?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD