Bab 5

771 Words
Hari berganti cepat. Matahari seolah berjalan lebih tergesa dari biasanya. Satu demi satu menit menetes seperti detik. Gilang, yang biasanya bisa tidur 5–6 jam sehari, kini tak tidur satu detik pun sejak malam keempat. Setiap malam, ia mendengar ketukan di pintu rumah. Ketukan dari tangan-tangan yang sudah mati. Dan setiap ia mengintip... tidak ada siapa-siapa. Tapi bau tanah kuburan selalu masuk lewat celah jendela. Mencari Jawaban Terakhir Gilang kini berada di sebuah rumah kayu terpencil di lereng Kaliurang. Tempat tinggal Ki Rawa, seorang dukun tua yang katanya pernah menyegel makam pesugihan di era 1980-an. Dinding rumah Ki Rawa dipenuhi tali ijuk, botol darah ayam, dan kepala kerbau yang sudah mengering. Saat Gilang masuk, Ki Rawa sedang duduk bersila menghadap lilin. “Kau yang bermain dengan roh pemuja kekayaan. Kau yang membuka pintu itu.” “Saya nggak tahu… saya cuma ikut ritualnya. Saya disuruh gali kuburan, taruh kain merah, dan—” “Dan berani menyebut nama sendiri saat bulan mati. Itulah pembukaannya. Kini kau harus menutupnya.” “Gimana caranya?! Saya... saya nggak mau mati!” Ki Rawa mengangguk pelan, lalu membuka gulungan kain dari kayu jati. Di dalamnya tergambar peta ke sebuah lokasi yang selama ini dianggap terlarang: “Kuburan Kedua. Kuburan yang hanya muncul di malam ketujuh. Tempat asal semua permintaan pesugihan.” “Kalau kau ingin memutus perjanjian… kau harus ke sana malam ini. Sebelum jam dua belas.” “Lalu?” “Kuburkan kembali nama yang kau sebut. Kubur dia hidup-hidup atau kau akan menggantikannya.” “Nama itu... saya sendiri.” “Maka kuburkan dirimu sendiri, atau seseorang yang rela menukar tempat denganmu.” Nadia dan Keputusan Terakhir Menjelang pukul delapan malam, Gilang tiba-tiba menerima telepon dari Nadia. “Lang… aku mimpi aneh. Aku lihat kamu berdiri di tengah kuburan. Lalu kamu bilang... maafin aku. Setelah itu kamu hilang. Aku takut, Lang.” Gilang membisu. Air matanya jatuh tanpa suara. “Kamu di mana, Gilang? Aku bisa nyusul. Kita bisa omongin ini sama-sama.” Tiba-tiba, ponselnya mati. Layar hangus. Hujan mulai turun. Kuburan Kedua Gilang tiba di sebuah hutan mati, sekitar satu jam dari Kaliurang. Tanahnya merah kehitaman. Di tengah hutan, berdiri sebuah gerbang batu setinggi tiga meter, di atasnya tertulis dengan huruf Jawa kuno yang membara: “Tegese Sugih, Nanging Amarga Nyawa.” (Artinya: Kaya, tapi karena nyawa.) Ia masuk ke dalam gerbang. Angin berhenti. Hutan membisu. Dan di tengah-tengah lapangan tanah hitam, berdiri sebuah liang kubur yang menganga. Tak ada yang menggali. Tanah itu terbuka sendiri, menunggu tubuh Gilang. Dan di samping lubang itu, berdiri sosok tinggi berjubah hitam. Wajahnya tidak jelas, tapi dari balik tudungnya, terdengar suara dalam yang tak bisa ditentukan jenis kelaminnya. “Pilih. Dirimu. Atau dia.” “Saya—saya gak bisa ngorbanin dia…” “Maka masuklah.” “Enggak. Harusnya ada cara lain” “Sudah tak ada waktu.” Jam di tangan Gilang menunjukkan pukul 23:55. Hujan deras. Langkahnya gemetar. Ia melangkah ke tepi liang. Di dalamnya, ia melihat bayangan dirinya sendiri—telanjang, berdarah, dan memanggil-manggil minta tolong. “Gilang... Gilang... cepat! Aku belum siap mati...!” Lalu... sebuah suara datang dari belakangnya. Suara nyata. Suara hidup. “Gilang! Jangan!” Nadia. Ia berlari di bawah hujan, wajahnya penuh ketakutan. “Apa yang kamu lakukan?! Ini semua karena pesugihan itu, ya? Kamu... kamu gak perlu ngorbanin diri” “Aku udah gak bisa mundur, Nad. Ini udah malam ketujuh.” “Kita cari jalan lain. Kita bisa kabur dari sini. Kita” Tiba-tiba, tanah mulai retak. Petir menyambar langit. Sosok berjubah mengangkat tangannya. “Pilih. Atau keduanya lenyap.” Waktu tinggal dua menit. Pilihan Terakhir Gilang memandang Nadia. Wajah itu begitu bersih. Orang satu-satunya yang tidak pantas menjadi korban keserakahan. “Maaf, Nad. Aku gak pernah pantas hidup di dunia yang sama sama kamu…” Dan sebelum Nadia bisa menarik tangannya, Gilang melompat ke dalam liang. Ia terjerembab ke dalam kegelapan. Suara tangisan Nadia menggema di atas tanah. Tapi kemudian... Tubuh Gilang tidak mendarat di tanah. Ia seperti melayang, di antara lapisan-lapisan bayangan. Di sekelilingnya, ribuan tangan menarik-narik tubuhnya, merobek-robek jiwanya perlahan. “Satu jiwa untuk seribu keinginan... Kau pikir bisa bebas semudah itu?” Epilog Bayangan Di pagi harinya, Nadia ditemukan oleh warga desa, menangis di tepi hutan. Tak ada jejak kuburan. Tak ada lubang. Tak ada Gilang. Tapi setiap malam Jumat Kliwon, kalau seseorang melintas di Hutan Lempeng, mereka kadang mendengar suara berbisik dari bawah tanah: “Aku kaya sekarang... Tapi aku di sini… selamanya…” Dan kadang, di tengah jalan sepi, ada koper merah yang muncul tanpa suara. Siapa pun yang membukanya... akan membaca satu nama. Dan satu harga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD