Malam menebar gelap pekat di langit Jogja. Hujan turun tak seperti biasa—deras, deras sekali, seperti langit ingin menenggelamkan dunia. Tapi lebih dari itu, ada bau aneh yang terbawa angin. Bau amis. Bau tanah kuburan basah dan... darah.
Gilang duduk di dalam mobilnya, tangannya gemetar menggenggam ponsel. Namanya tercantum jelas di daftar kematian—“Tertunda.”
Artinya, kalau ia tak menyerahkan tumbal berikutnya… dia yang akan dikubur.
Dan nama satu-satunya yang muncul sebagai “layak dijadikan pengganti” adalah:
Nadia Pramesti.
Seseorang yang dulu pernah ia cintai diam-diam. Seseorang yang tak pernah tahu bahwa Gilang menatapnya dari kejauhan, menyembunyikan kekaguman di balik malu.
Tapi Nadia bukan seperti orang-orang lain.
Ia baik. Terlalu baik. Relawan kesehatan. Gadis yatim piatu yang memilih tinggal di desa terpencil, merawat para lansia dan anak-anak terlantar. Ia tak layak... untuk ini.
Tapi Gilang tahu, perjanjian itu tak mengenal siapa layak dan siapa tidak.
Yang ada hanya: siapa yang akan dikubur, dan siapa yang menggantikannya.
Perjalanan ke Desa Siluman
Gilang menyalakan mobilnya dan menuju Dusun Gempal, tempat Nadia tinggal. Lokasinya berada di kaki Gunung Merapi, dikelilingi hutan pinus dan jalan-jalan sempit. Waktu tempuh biasanya dua jam, tapi malam itu, kabut turun begitu tebal hingga jarak pandang hanya lima meter.
Di tengah jalan, suara di radio mobil mendadak menyala sendiri:
“Satu nyawa untuk menunda kematian. Dua nyawa untuk menunda kutukan. Tapi tak ada penundaan yang gratis…”
Gilang meninju dashboard mobil. Radio mati.
Namun saat ia menoleh ke spion tengah… ada sosok duduk di kursi belakang.
Perempuan, rambut panjang menutupi wajah. Kuku-kukunya panjang, penuh lumpur.
“Kau mencintainya, tapi akan menyerahkannya?”
Gilang membanting rem. Saat ia menoleh ke belakang—kursi kosong.
Ia berusaha mengatur napas.
Tapi dari kaca jendela, ia melihat jejak kaki basah dan berdarah menempel di luar mobil.
Dusun Gempal
Desa itu sepi. Terlalu sepi.
Tak ada suara jangkrik. Tak ada lampu menyala. Rumah-rumah beratap rumbia berjajar seperti kuburan kecil.
Gilang turun dari mobil dan menuju balai kesehatan kecil di tengah desa. Ia membuka pintu kayu yang berderit.
Dan di sana, dengan baju lusuh dan rambut dikuncir seadanya, berdiri Nadia.
Mata bening itu menyambut Gilang dengan senyum hangat.
“Gilang? Kamu? Di sini?”
“Aku... aku cuma lewat. Sekalian mau lihat kamu.”
“Kebetulan banget. Desa ini sepi banget akhir-akhir ini. Banyak orang sakit, tapi juga... banyak yang tiba-tiba hilang.”
Gilang menelan ludah. “Hilang?”
“Iya. Dua anak kecil dan satu ibu tua hilang tiga hari lalu. Nggak ada jejak. Anehnya, di depan rumah mereka... selalu ada bunga kamboja basah. Dan... darah.”
Mata Gilang membesar.
“Nad… kamu harus pergi dari sini.”
“Hah?”
“Desa ini... kamu gak aman di sini. Ada yang".
Nadia tertawa kecil, namun tawanya segera terputus saat listrik padam.
Gelap.
Lalu... suara langkah kaki di atap. Seperti binatang... atau manusia merangkak.
“Apa itu?” bisik Nadia.
Gilang menarik tangan Nadia. “Kita harus keluar dari sini sekarang.”
Tumbal atau Terbunuh
Mereka keluar dari balai kesehatan dan berjalan cepat menuju mobil. Tapi jalan desa kini tertutup kabut. Dan satu per satu rumah di sekitar mereka mulai mengelupas— bukan karena tua, tapi seolah ditarik dari dunia nyata ke dalam mimpi buruk.
Gilang tahu... Kuburan Pesugihan telah menjemput Nadia.
Ia berhenti.
Di depannya, tanah mulai retak, dan dari celah-celah tanah muncul tangan-tangan membusuk, menggeliat, merangkak ke arah mereka.
Nadia menjerit.
“Gilang! Apa ini semua?!”
Gilang harus memilih. Menyerahkan Nadia. Atau ikut tenggelam bersama dalam lubang kematian.
Dan suara itu muncul lagi, kali ini dari langit gelap:
“Tumbalkan yang kau sayangi. Atau ikut terkubur bersamanya.”
Air mata Gilang jatuh. Tangannya gemetar.
Namun... ia menarik Nadia ke belakangnya.
“Ambil aku. Jangan dia.”
Tanah mendadak hening. Tangan-tangan itu berhenti.
Lalu... semuanya lenyap.
Di Ambang Neraka
Gilang pingsan. Saat ia terbangun, ia berada dalam ruangan gelap. Dinding dari batu hitam. Di depannya, ada satu cermin besar... dan di dalam cermin itu, ia melihat:
Dirinya sendiri. Dikubur hidup-hidup.
Suaranya sendiri berteriak dari dalam cermin:
“Tumbalkan dia… sebelum malam ketujuh. Atau kau akan tinggal di sini... SELAMANYA.”
Cermin pecah.
Gilang terbangun lagi. Kali ini di mobil. Nadia duduk di sebelahnya, tidur. Mereka sudah sampai di luar desa.
Ia selamat.
Untuk sementara.
Tapi dalam sakunya, ada lembaran baru dari daftar kematian.
Nama paling atas masih: Nadia – Tertunda.
Dan di bawahnya...
Gilang Saputra – MALAM KE-7.