Bab3

643 Words
Pagi itu, Gilang menatap daftar di dalam koper dengan tangan gemetar. Ibu Kandung – HARI INI. Tak ada tombol untuk mengubah. Tak ada cara untuk menghapus. Nama-nama di daftar itu tak bisa disentuh, seperti ukiran batu nisan di atas makam. Di bawah nama ibunya, muncul beberapa nama lain—sepupu jauh, guru SMA, dan satu nama yang membuat darahnya membeku: Nadia. Nadia. Satu-satunya perempuan yang pernah ia cintai. Perempuan yang kini bekerja sebagai relawan kesehatan di desa terpencil. “Tidak... Nadia tidak boleh...” suara Gilang lirih, hampir seperti rintihan. Dengan tergesa, Gilang berlari ke kamar mandi, mencuci wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Tapi saat ia menatap cermin... Wajah ibunya muncul di belakangnya. Wajah pucat. Mata kosong. “Nak… Ibu capek… boleh istirahat, kan?” Gilang memekik dan berbalik—tidak ada siapa-siapa. Ia menginjak sesuatu di lantai kamar mandi. Foto. Foto ibunya sedang duduk di kursi roda, dicoret dengan tinta merah. Di bawahnya tertulis: “Satu nyawa untuk seratus juta. Dua nyawa untuk kekayaan. Tiga nyawa untuk kekuasaan.” Perjalanan ke rumah Ibu Gilang mengemudikan mobilnya dengan panik menuju rumah ibunya di Sleman, Yogyakarta. Sepanjang perjalanan, langit mendung tapi tidak hujan. Suasana seperti menjelang badai. Jalanan sepi, terlalu sepi untuk ukuran pagi hari. Ia melewati sebuah pasar lama—pasar yang dulu ramai saat ia kecil—tapi sekarang kosong. Beberapa warung masih berdiri, tapi semua tampak tua, lapuk, seperti tak pernah dibuka. Saat ia melintas, seorang nenek duduk di pinggir jalan melambaikan tangan sambil berkata: “Telat, Nak... semua sudah dipilih.” Gilang menekan gas lebih dalam. Di rumah Ibu Sesampainya di rumah ibunya, suasana sunyi. Pintu depan terbuka sedikit. “Bu?” panggil Gilang sambil masuk. Tak ada jawaban. Ruang tamu berantakan, seolah seseorang mencoba mencari sesuatu. Dinding rumah penuh coretan: “BAYAR DENGAN DARAH” Gilang berlari ke kamar ibunya. Dan di sana... ibunya terbaring di kasur. Matanya terbuka, namun kosong. Mulutnya terbuka, seperti ingin berteriak, tapi tak bisa. “Ibu!!” teriak Gilang sambil mengguncang tubuhnya. Tapi... tubuh itu dingin. Saat ia menyentuh wajah ibunya, tiba-tiba kelopak matanya bergerak—dan ibu Gilang mengucapkan satu kalimat dengan suara berat yang bukan miliknya: “Kau belum mengorbankan cukup. Pilih, Gilang... Nadia atau Ibu?” Tubuh itu langsung kaku kembali. Gilang terduduk di lantai. Air matanya jatuh. Dukun di Gunung Gamping Gilang ingat sesuatu: nama Mbah Winarko, dukun sepuh di daerah Gunung Gamping yang dulu pernah menyelamatkan pamannya dari kerasukan. Ia berkendara ke sana secepat mungkin. Rumah Mbah Winarko seperti rumah zaman kolonial: berdinding kayu, penuh ilalang. Di depan rumah tergantung tulang ayam dan kepala kerbau. Saat ia mengetuk, pintu terbuka sendiri. Mbah Winarko duduk di dalam, matanya setengah tertutup, tapi senyumnya lebar dan aneh. “Akhirnya kau datang juga. Sudah waktunya kau tahu harga pesugihanmu.” Gilang terdiam. Mbah Winarko menunjuk ke dinding. Tergantung sebuah kain hitam dengan simbol merah darah, dan di tengahnya... nama Gilang tertera. “Kuburan itu bukan sekadar tempat ritual. Itu pintu. Dan setiap orang yang kau ganti, jiwanya terjebak di antara dunia.” “Kau pikir kau bisa kaya tanpa bayar? Kau bukan mengambil rejeki orang lain... kau menggantikan takdir mereka. Sekarang, takdir mereka jadi utangmu.” Gilang menunduk, wajahnya ketakutan. “Lalu apa yang harus saya lakukan?” “Kau harus membayar dengan sesuatu yang lebih berat... lebih berharga.” “Kau harus kembali ke Kuburan Tunggul Wulung, dan bawa satu tumbal hidup. Seseorang yang percaya padamu. Jika tidak... daftar itu akan terus bertambah.” Pilihan Maut Malam itu, Gilang duduk di dalam mobilnya di depan rumah ibunya, memandangi daftar yang kini semakin panjang. Di bawah nama ibunya dan Nadia... muncul nama baru: "Gilang Saputra – TERTUNDA." Dan catatan kecil di bawahnya tertulis: "Jika tidak memilih, maka kaulah yang dikubur berikutnya." Gilang menatap telepon genggamnya. Jempolnya melayang di atas nomor kontak: Nadia. Air matanya jatuh. “Maaf, Nad... aku gak kuat...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD