Kini ia berada di dalam apartemen mewah lantai 25, Jakarta Selatan. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan. Kartu kredit platinum ada di saku. Mobil sedan hitam keluaran Eropa terparkir di basement. Semua... datang tiba-tiba, tanpa proses.
Anehnya, tidak ada yang mempertanyakan. Bank membuka rekening atas namanya dengan saldo awal satu miliar rupiah. Sebuah perusahaan properti tiba-tiba menunjuknya sebagai direktur muda. Kontrak kerja, surat legalitas, semua sah.
Tapi Gilang tahu... itu bukan berkat kerja keras.
Itu bayaran dari setan.
Malam pertama di apartemen
Hujan turun deras. Gilang sedang menatap lampu-lampu kota dari balik jendela besar ketika listrik mendadak padam.
Klik. Gelap.
Beberapa detik kemudian, TV menyala sendiri.
Gilang melirik. Salurannya tak dikenal—hanya layar gelap dengan suara-suara lirih. Seperti napas orang banyak yang tumpang tindih.
Dan di tengah layar muncul gambar:
Sebuah makam dengan nisan bertuliskan namanya.
“Gilang Saputra. Lahir: 1996. Mati: menolak lupa.”
Gilang buru-buru mematikan TV. Tapi layar tak padam. Justru wajahnya sendiri muncul—bukan wajahnya yang sekarang, tapi versi dirinya yang luka-luka dan penuh tanah.
Tiba-tiba suara dari speaker TV berbunyi rendah dan dalam:
“Banyak yang ingin kau gantikan... Tapi berapa yang sanggup dikubur?”
Gilang menjerit dan melempar remote. TV pecah.
Listrik kembali nyala seketika. Tapi kini kamar menjadi lebih dingin. Dindingnya seakan basah. Aroma tanah dan darah memenuhi udara.
Ia menoleh ke cermin kamar mandi... dan cermin itu berkabut dari dalam. Dari balik kabut, muncul tulisan:
"Jatah pertama sudah lunas. Siapkan jatah berikutnya."
Hari Ketiga: Penggantian Pertama
Keesokan paginya, Gilang pergi ke kantor. Ia mengenakan jas mahal, rambut klimis, sepatu mengilap. Semua orang menyapanya sopan.
Namun, ketika ia masuk lift, seorang office boy tua memandangnya dengan mata lebar. Tangannya gemetar sambil menunjuk.
"Pak... belakang Bapak... itu siapa?"
Gilang refleks menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tapi ketika ia menatap pantulan lift yang terbuat dari baja—ia melihat sosok berdiri di belakangnya. Wajahnya tidak punya mata, hanya rongga hitam menganga.
Seketika, lift mati. Lampu padam. Tubuh Gilang terpaku.
Dalam gelap, ia mendengar suara napas berat. Kemudian bisikan:
“Yang dikubur belum tidur. Yang kau ganti... belum tenang.”
Cahaya kembali menyala.
Office boy pingsan.
Gilang hanya bisa berdiri gemetar, mendengar suara detak jam berdentang seperti bunyi paku diketik di peti mati.
Malam Keempat: Mimpi yang Mengubur
Gilang tidur gelisah. Ia bermimpi berada di tengah ladang kuburan. Tapi semua kuburan itu terbuka. Dan di dalamnya, bukan jenazah biasa.
Setiap liang berisi orang-orang yang ia kenal.
Tetangganya waktu kecil. Guru SMP-nya. Sopir ojol langganan. Satpam kampus. Mereka semua menatap ke atas, dengan mata kosong, seolah bertanya: “Kenapa aku?”
Gilang berlari di antara liang kubur. Tapi kemanapun ia pergi, tanah di bawahnya membuka. Tangannya tertarik ke dalam. Suara-suara mengerang:
“Kami tidak pernah meminta mati… Kau yang memilih kami…”
Ia bangun sambil berteriak.
Bajunya basah. Tapi bukan karena keringat tapi tanah merah. Tangannya penuh lumpur. Dan... di kakinya, ada potongan kain kafan. Tanda Kutukan
Hari kelima, di pagi yang kabur oleh kabut aneh, seseorang mengetuk pintu apartemen Gilang.
Tok. Tok.
Ia buka.
Seorang wanita tua berdiri di ambang pintu. Wajahnya penuh kerutan, mengenakan kebaya lusuh dan selendang hitam. Matanya menatap tajam.
“Jatah pertamamu sudah diambil. Tapi kau lupa satu hal penting, Nak…”
Gilang hanya bisa menatap. Tubuhnya menggigil.
“Setiap orang yang kau gantikan, akan datang menagih kembali tempatnya. Kau siap, Gilang? Siap melihat siapa yang akan mati selanjutnya demi kekayaanmu?”
Wanita itu pergi begitu saja.
Gilang tak bisa bicara. Tapi di dalam ruang tamunya, kini ada sebuah koper hitam besar.
Ia membukanya perlahan...
Dan di dalamnya bukan uang. Tapi satu lembar daftar.
Nama-nama. Tanggal-tanggal. Semuanya nama orang yang ia kenal. Dan di samping nama-nama itu, tertulis dua kolom:
“MATI” atau “HIDUP.”