“Perusahaan ini membayar kalian untuk bekerja dan memenuhi target kuartal, bukan untuk mengurus kehidupan pribadi Asisten saya!” Brak! Oliver menggebrak meja rapat kayu jati itu dengan telapak tangannya begitu keras hingga seluruh jajaran manajer yang duduk memutari meja terlonjak kaget. Cangkir-cangkir kopi bergetar hebat, dan beberapa dokumen tebal di atas meja ikut bergeser. Suasana di dalam ruang rapat besar berkaca transparan itu seketika mendadak anjlok hingga ke titik beku. Tidak ada satu pun manajer yang berani mengangkat kepala. Seluruh jajaran eksekutif yang biasanya vokal dan penuh percaya diri kini menunduk rapat-rapat, memandangi karpet ruang rapat seolah itu adalah hal paling menarik di dunia. Oliver berdiri tegap di ujung meja. Wajah tampannya kaku bagai pahatan batu, ra

