“Tolong jujur sama saya, Noll. Apa saya ini memang cuma cara kamu buat nunjukin perlawanan ke ibu dan kakak kamu?” Pintu penthouse Oliver tertutup keras dengan bunyi dentuman tebal yang menggelegar, memotong sunyi malam Surabaya secara tiba-tiba. Audrey tidak menunggu balasan Oliver. Tanpa memedulikan etika atau kerapian lagi, ia melepas sepatu hak tingginya secara kasar dan melempar tas tangannya begitu saja ke atas sofa kulit hitam. Napasnya memburu, naik turun tidak teratur menahan sesak di rongga d**a yang sudah ia pendam sepanjang Gala Dinner. Oliver yang baru saja melangkah masuk menghentikan gerakannya. Raut wajahnya kaku, terkejut melihat letupan emosi Audrey yang mendadak. Pria itu mengusap wajahnya yang tampak lelah sebelum melangkah mendekat. “Audrey, bicara apa kamu ini?” ta

