“Kamu tahu kenapa Oliver ngelawan ibunya demi kamu? Bukan karena dia cinta, Audrey. Dia cuma pakai kamu buat balas dendam ke saya dan Adrian.” Suara denting keran air di wastafel porselen mendadak mati. Vivian mematikan aliran air dengan gerakan melambat yang disengaja, menyisakan keheningan mencekam di dalam ruang rias VIP yang luas, dingin, dan beraroma parfum mawar mahal. Tatapan mata Vivian terkunci rapat pada pantulan bayangan Audrey melalui cermin besar berlapis ukiran emas di hadapan mereka. Audrey yang sedang mengeringkan jarinya dengan tisu halus bergeming seketika. Ia merapikan lipatan gaun sutranya perlahan, berusaha keras tidak membiarkan getaran kecil di jemarinya terbaca oleh wanita bergaun merah menyala itu. “Permisi, Mbak Vivian,” sahut Audrey tenang, memaksakan suaranya

