Edgar berjalan lunglai di tengah lorong sekolahnya, wajahnya kusut. Lebih kusut daripada baju yang dikenakannya. "Edgar!" Teriakan Ara yang cempreng seketika mampir tepat di telinga kanannya. Memberikan sedikit rasa sakit di telinga, menembusnya dengan telak. Edgar nyaris merasakan gejala budek ringan. "Kenapa, Ra?" Edgar menjawab dengan ogah-ogahan. Tumben ya Edgar males-malesan ketemu Ara, biasanya kan Edgar agresif. Eh? "Kamu sibuk nggak nanti malem? Jalan, yuk!" "Jalan ke mana?" respons Edgar kalem. "Ke mana enaknya?" Edgar harusnya seneng 'kan kalau diajak jalan sama Ara kayak gini? Tapi, sekarang Edgar biasa aja sama Ara, nggak ada deg-degan atau tangan keringetan lagi, tapi Edgar yakin kok kalau dia masih suka Ara. Masih lho ya, rasanya buat Ara belum ilang. Emangnya Edgar belo

