26

1154 Words

Edgar senang bukan kepalang saat akhirnya ia diperbolehkan untuk pulang oleh Andrew--karena sebenarnya dokter sudah mengizinkannya pulang, tapi memang dasarnya Andrew saja yang lebay. "Kak, nanti mau mampir ke supermarket dulu, ya!" pinta Edgar sambil memainkan ponselnya. "Mau beli apa, Gar?" tanya Andrew, matanya fokus, tak berpaling dari jalanan yang berada di depannya. "Beli Betadi*ne sama plester ben—" Tiba-tiba rem diinjak dengan kuat oleh Andrew, membuat Edgar nyaris terjungkal dari duduknya. Untung aja Edgar pake pengaman—maksudnya safety belt, bukan kondom. Enggak, enggak, enggak—sehingga dia masih stay di tempatnya duduk. "KOK NGEREM MENDADAK SIH, KAK?" Edgar memekik kesal. Yaiyalah, Edgar kaget setelah rem dadakan yang dilakukan oleh Andrew tadi. Nyaris saja jantung Edgar pin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD