Merasa Bersalah

1022 Words
Setelah Ana pamit undur diri dari ruangannya, Kana merasa lega. Bagaimana tidak? Mereka berdebat hebat, karena Kana ingin mendampingi Alea wisuda tanpa ijin pada Ana terlebih dahulu. Tentu saja Ana merasa keberatan. * "Apa aku gak salah, Mas Kana mau dampingi Alea wisuda nanti?" "Gak, kok. Lagi pula, Alea gak keberatan." "Aku-nya yang keberatan." "Lah, kenapa kamu yang keberatan. Yang ikut wisuda 'kan Alea, bukan kamu." "Yang wisuda memang, Alea. Tapi, aku 'kan ibunya. Nanti apa kata ibu-ibu yang lain." "Kenapa sama ibu-ibu yang lain?" "Ya, gak gimana-gimana..." Suasana menjadi sendu di tengah perdebatan mereka. Kana yang menyadari hal itu menghampiri Ana duduk di sofa. "Aku cuma...gak mau ibu-ibu beranggapan yang nggak-nggak terhadapku." Akhirnya Ana bersuara setelah dia terdiam beberapa saat. "Mas Kana gak tahu apa yang aku rasain. Kenapa aku berani mengambil pekerjaan ini dan meninggalkan Alea bersama neneknya?" Kana memandang Ana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Hidup menjadi janda itu sulit, Mas. Apalagi, harus menghadapi para suami tetangga yang hidung belang. Tak jarang para istrinya memaki-ku dengan berkata yang tak senonoh." Isak Ana dengan mengingat hal yang tak harus dia ingat. "Apa yang mereka ucapkan sama kamu?" tanya Kana, karena dia tidak mengerti apa yang dimaksud Ana. "Mereka bilang, aku penggoda suami mereka supaya bisa dapat uang untuk menghidupi hidup kami. Agar aku gak susah-susah bekerja." Tutur Ana panjang lebar dan membuat hati Kana mencelos. Semua nggak 'kan terjadi kalau bukan karena dirinya. Semua nggak 'kan terjadi kalau saja Adit masih ada. "Maaf, kalau perbuatanku berakibat fatal." Kana benar-benar bingung harus berbuat apa. "Nggak pa-pa kok, Mas. Lagi pula, ini semua bukan salahmu. Aku yang terlalu parno-an kalau urusan laki-laki." Ana pun bergegas ingin pulang. "Bukankah, kalau aku ikut, itu lebih baik. Ibu-ibu itu gak harus mencibir kamu. Begitupun dengan Alea, dia akan bahagia dengan adanya aku disana." Ana mengerutkan keningnya, "maksudnya?" "Dengan aku dampingi kalian, ibu-ibu yang mencibir kamu bakalan tahu kalau kamu bukan wanita yang mereka maksud. Dan Alea juga gak 'kan malu tanpa kehadiran ayahnya." * Sejak pertemuan 6 tahun yang lalu itu, Kana memang sering bertemu dengan Ana. Karena, setiap acara kantor atau di luar kantor, Adit selalu membawa serta Ana kemanapun. Sampai Ana mengandung dan lahirnya Alea pun tak luput dari perhatian Kana. Kana pun akhirnya menikah dengan Mira. Kana juga sering menengok Alea kecil bersama Mira ke rumah Adit dan Ana. Kana sangat memimpikan seorang malaikat kecil seperti Alea. Namun sayang, tuhan belum mengijinkan mereka mendapatkannya dan malah berujung perceraian setelah usia pernikahan mereka 5 tahun lamanya Alea dari dulu sangat dekat dengan Kana. Makannya sekarang Alea tidak segan pada Kana. Apalagi sikap Kana yang penyayang anak-anak. Alea pun menganggap Kana sebagai ayah keduanya. Di hati Kana yang paling dalam berjanji, akan membahagiakan Alea dan Ana. Walaupun dia harus menutupi kebenaran yang selama ini terpendam. * "Ya, intinya, aku akan jadi pelindung kalian. Kamu lupa, kalau aku ayah keduanya Alea." tutur Kana panjang lebar. "Sama aja, dong. Itu tandanya aku w**************n yang gampang move on dari masa lalu..." ucapan Ana terpotong oleh telunjuk Kana yang mengambang di udara. "Sssttt...kita lihat aja nanti, gimana reaksi emak-emak itu yang mulutnya kaya Netizen." Ana diam dan pasrah dengan apa yang akan Kana lakukan. Toh yang penting Alea bahagia. Walaupun Ana sampai sekarang tidak mengerti kenapa Kana dan keluarganya selalu baik padanya. "Ya, sudah, aku pulang dulu!" pamit Ana dan dia berlalu dari ruangan Kana dengan hati yang sebenarnya mengambang. Setelah kepergian Ana, Kana benar-benar prustasi. Dia terlihat sendu dan bayangan pahit kembali menghantui pikirannya. * Di dalam mobil ambulance yang membelah jalanan itu ada korban yang berlumuran darah begitu parah. "Ku mohon, bertahanlah!" perintah Kana pada pria yang sudah tak berdaya itu dengan menggenggam erat tangannya. "Jika, aku tak bisa bertahan, tolong titip anak dan istriku!" ucap pria yang tak lain adalah Adit. Nafasnya tersengal karena dia kecelakaan sangat parah. "Kamu gila. Kenapa kamu harus menolongku. Kenapa tidak kamu biarkan saja aku yang tertabrak?" ucap Kana yang merasa bersalah, kenapa dia harus diselamatkan olehnya. "Berjanjilah...kumohon...!" ucap Adit yang semakin tersenggal. Kana semakin menggeleng, "aku yakin kamu pasti bisa lewatin ini semua." "Hanya...kamu...harapanku...uhuk...uhuk..." genggaman tangan Adit semakin melemah berbarengan tibanya mereka di Rumah Sakit. Pasien langsung dimasukkan ke Instalasi Gawat Darurat. Ahli medis langsung menanganinya. Sementara Kana, dia menunggu di luar ruangan itu dan berusaha menghubungi seseorang. Tak berapa lama seseorang itu pun datang dan mereka saling berpelukan. "Papa, yakin, dia pasti bertahan. Percayalah...!" ucap pria paruh baya itu, yaitu Pak Arya. "Aku gak akan maafin diri aku sendiri jika terjadi sesuatu padanya, pa." Kana semakin putus asa. Tak berapa lama, pintu ruangan Instalasi Gawat Darurat itu terbuka dan menampilkan seorang dokter. "Dengan keluarga pasien?" tanya dokter itu sembari membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya. "Iya, dok, kami keluarganya." Pak Arya yang menjawab dan Kana memberontak ingin masuk. "Kami, mohon maaf, tidak bisa menolong pasien. Kami sudah berbuat semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkehendak lain." ucap dokter itu. Kana benar-benar luruh ke lantai dan berteriak histeris, "tidaaakkk..." * Dering ponsel Kana menghentikan lamunannya. Dia langsung mengangkatnya setelah menetralkan fikirannya. "Hallo..." "[Jadi kamu ajak Ana ke pesta si Romi?]" tanya seseorang di sebrang sana yang tak lain adalah Bu Anita, ibunya. "Jadi, ma." "[Jangan terlalu malam pulangnya, ya!]" "Iya, ma. Jam 9 juga udah kubawa balik si Ana." "[Mama cuma gak mau anak perempuan mama terlalu capek]." "Astaga, ma, yang anak mama sebenarnya siapa sih. Kok yang dikwatirin cuma Ana aja." "[Ya, dua-duanya. Ana 'kan kesayangan mama. Inget tuh jaga baik-baik anak perempuan mama]" "Mama, hubungi aku cuma bikin aku iri aja, tahu gak." terdengar suara cekikikan di sebrang sana. Telepon dimatikan secara sepihak oleh Kana. Dia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah mama-nya yang ternyata lebih sayang pada Ana. Ana dan Bu Anita memang sudah dekat, karena dari semenjak Adit menikahi Ana, dia sering membawa Ana berkunjung ke rumahnya. Apa lagi, semenjak lahirnya Alea, Bu Anita sangat antusias sekali. Kana memijit pelipis kanannya yang terasa berdenyut. Lalu dia membuang nafas kasar. "Aku, berjanji akan menjaga kalian. Aku akan selalu ada untuk kalian. Ijinkan aku menebus semua rasa bersalahku." gumaman itu yang selalu Kana rapalkan setiap kali dia teringat kejadian itu. Yang semakin membuat dia semakin merasa bersalah. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD