Janji Kana

1082 Words
Tok...tok...tok... Setelah terdengar seruan 'masuk' dari dalam, dua wanita yang berbeda usia itu pun masuk. Sang empu ruangan langsung menoleh tatkala pintu ruangannya terbuka. "Hai, Kan..." Bu Linda sekretarisnya memanggil Kana tanpa embel-embel 'Pak' karena Kana umurnya lebih muda darinya. Kana memang ingin seperti itu, karena Kana sudah menganggapnya seperti kakak sendiri. Kenapa Kana memilih sekretaris yang lebih tua darinya? Jawabnya, karena Kana tidak suka dengan tatapan lapar dari sekretaris wanita yang pernah bekerja sebelum Bu Linda. Lalu Pak Arya, ayah Kana menyarankan Bu Linda sebagai sekretarisnya. Bu Linda sendiri awalnya sekretaris Pak Arya. Kana pun setuju dan tak mau ambil pusing jika harus merekrut dari luar sana yang baru. * "Hai, Bu, An...masuk!" sapanya dan kedua wanita itu masuk beriringan. "Saya cuma nganterin Ana, aja. Kalau gitu, saya permisi mau makan siang dulu ke bawah." Jawab Bu Linda dan bergegas keluar, tapi Ana menahannya. "Lah, kukira, Bu Linda mau ikut makan sama kita." "Saya sudah ada janji sama teman di bawah. Lagi pula, soto itu bersantan, kamu mau kolesterol saya naik." Ucap Bu Linda terkekeh dan berlalu keluar setelah berpamitan pada Kana dan Ana. "Bu Linda itu mengontrol banget pola makannya, tau lah, udah faktor U." Seloroh Kana yang melihat kepergian Bu Linda dan mendapat delikan dari Ana. "Bu Linda masih muda kali, mas. Masa', udah dikatain faktor U." Ana dan Kana duduk berseberangan di sofa yang ada di ruangan itu. Ana mulai menghidangkan makanan yang dibawanya setelah mencuci tangan dulu sebelumnya. Kana memerhatikan pergerakan Ana tanpa tahu sang empunya. Tatapan yang sulit diartikan. Lalu dia pura-pura sibuk dengan ponselnya ketika Ana menoleh padanya. "Yuk, makan, keburu dingin gak enak!" Ajak Ana pada Kana, dia langsung mencomot makanan itu dan mendapat tepisan oleh Ana karena tidak mencuci tangan terlebih dahulu. "Cuci tangan dulu dong!" perintah Ana dan Kana terkekeh sambil berlalu mencuci tangan. "Hmmm...masakan kamu emang jempol." Puji Kana pada masakan yang dibuat oleh Ana. "Syukur deh, kalau mas Kana suka." "Pantesan, Adit betah makan di rumah. Eh...sorry...aku gak bermaksud..." jeda Kana keceplosan dan membuat Ana menghentikan aktivitas makannya. "Gak, pa-pa kok mas. Lagi pula, hal itu adalah kenangan yang terindah dalam hidupku. Aku bersyukur, semasa menikah dan hidup sama dia, aku bisa buatin masakan yang istimewa buat dia. Tanpa tahu kalau hal itu cuma sementara." Suasana menjadi sendu dan Kana semakin merasa bersalah. "Maaf..." gumam Kana dan masih didengar oleh Ana. "Gak, papa. Yuk, lanjut makan!" Kana benar-benar merasa tidak enak. Walaupun Ana terlihat biasa saja. Tapi Kana tahu ada terselip kehilangan yang begitu besar di diri Ana. "Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Ana di sela makannya. Dan hal itu juga membuat Kana menghentikan suapan makannya, "tentu saja, boleh." "Memangnya, mas Kana gak pernah dimasakin sama istri..." kalimat Ana terhenti karena Kana memotong ucapannya. "Mantan istri, lebih tepatnya." Ucap Kana membuat Ana menegang. "Lagi pula, dia gak bisa masak. Kita sering makan di luar." Ungkap Kana dan Ana hanya membulatkan mulutnya. "Maaf..." ucap Ana. "Sudahlah, lagi pula aku gak mau ungkit masa lalu yang gak seharusnya aku kenang." Ana hanya tersenyum samar menanggapinya. Jujur, Ana merasa penasaran dengan kehidupan bos-nya yang dulu, kenapa berpisah. Mungkin, nanti dia akan bertanya pada Bu Linda jika ada waktu luang 'fikir Ana'. "Yuk, lanjut makan. Ntar keburu dingin gak enak 'kan." Kata yang tadi Ana ungkapkan diulang lagi oleh Kana. "Issshhh, kata darimana tuh?" "Tau, dah, hasil nyomot di tetangga." Mereka berdua tertawa dan kembali makan. * "Ntar malam, jadi 'kan, temenin aku ke pestanya si Romi?" Tanya Kana sambil memperhatikan Ana membereskan tempat makan yang tadi dia bawa. "Eh, iya, ya. Aku belum ijin sama Bu Anita." Ana lupa tidak memberi tahu pada Bu Anita, ibunya Kana. "Aku sudah ijinin kok sama mama, " Ucap Kana dengan fokus ke ponsel yang dia pegang. "Tadi pagi udah aku kasih tahu kok." "Serius, Mas." "Hm...iya bawel." "Ya, udah, kalau gitu aku pulang dulu ya." "Ntar kita berangkat pukul 7 malam, aja. Kamu ntar siap-siap aja!" angguk Ana dan bersiap untuk pulang. Tiba-tiba ponsel Ana berdering. Ana tampak sumringah melihat nama si penelepon yang tertera di ponsel itu. "Hallo, sayang Assalamualaikum..." Jawab Ana dengan kembali mendudukkan pantatnya di sofa. Kana yang memperlihatikan Ana menautkan alisnya. "[Waalaikumsalam, Bunda...]" ucap si penelepon di sebrang sana yang tak lain adalah putri semata wayangnya Ana. * Alea Aditya, 6 tahun, dia sekolah di taman kanak-kanak dan tahun ini dia wisuda. Alea anak yang manis, dan tidak rewel. Dia tinggal bersama neneknya, ibunya Ana, di rumah yang dulu Ana tempati. Karena Alea sedang sekolah, jadi Ana tidak membawanya ikut serta tinggal di keluarga Wijaya. Pak Arya dan Bu Anita sudah menyuruh Ana agar Alea ikut bersamanya. Tapi mungkin nanti kalau Alea akan daftar ke sekolah dasar dan akan membawa Alea bersama. * "Kenapa telpon, Bunda, hum...?" "[Aku kangen sama Bunda]" "Bunda juga kangen sama kamu, sayang." Kana memperhatikan Ana yang seperti menahan cairan yang hampir keluar dari matanya. Kana benar-benar merasa bersalah atas apa yang menimpa pada Adit, suami Ana. Andai saja... * "Apa, dua minggu lagi, dong?" "[Iya, Bunda, dua minggu lagi. Bu Guru, nyuruh Ayah sama Bunda buat datang ke acara wisuda aku. Aku bilang, aku 'kan gak punya Ayah]." Kana yang mendengarnya langsung merebut ponsel yang dipegang Ana. "Hallo, Alea, sayang..." "[Eh, ada Om Kana, disitu...?]" tanya gadis kecil itu. "Iya, sayang. Bunda emang lagi ada di kantor Om. Gimana kabar kamu, sayang?" tanya Kana dan Ana berusaha ingin merebut kembali ponselnya. Namun, nihil. "[Kabar, Alea baik, Om. Cuma...]" ucapan gadis kecil itu menggantung. "Cuma apa, sayang?" Kana penasaran, karena Alea tidak juga bersuara. "[Alea, minder gak punya ayah. Teman yang lain pasti Ayah Bundanya datang, aku cuma punya bunda aja...hiks...hiks...]" ucap Alea sambil menangis dan itu membuat Kana semakin merasa bersalah. "Mas, kembalikan ponselnya!" pinta Ana dengan menjinjit-jinjitkan kakinya karena Kana menahan ponselnya sambil berdiri. Ana cukup sulit menggapainya karena tinggi badannya hanya sebatas dagu Kana. "Om, temenin, boleh gak. Itu pun kalau Alea mau. Kalau gak mau gak pa-pa." "[Hah, serius, Om. Alea mau banget...yeeeyyy...]" Suara senang Alea sangat membuat hati Kana teriris. Bagaimana tidak? Anak kecil yang seharusnya tidak kurang kasih sayang dari seorang Ayah itu terpaksa harus memendamnya. "Syukurlah, kalau Alea setuju. Dua minggu lagi, Om sama Bunda datang." "[Terimakasih, Om. Ya, udah aku mau bicara lagi sama Bunda]" Kana pun mengembalikan ponsel Ana. "Iya, sayang..." ucap Ana. "[Om Kana mau nemenin kita ke acara wisuda nanti. Aku senang sekali]." "Apa..." "[Alea tutup dulu, ya, Bun. Wassalamu'alaikum, Alea sayang Bunda]." "Waalaikumslm. Bunda juga sayang Alea." Telpon pun terputus dan Ana mendelik pada Kana. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD